Catat, Ini Pentingnya Istirahat Usai Nyetir 2 Jam

25 Desember 2022 10:13 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Nyetir MG HS i-Smart saat melintasi tol Trans Jawa. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Nyetir MG HS i-Smart saat melintasi tol Trans Jawa. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan
ADVERTISEMENT
Pendiri sekaligus Instruktur Senior Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, setiap pengemudi disarankan melakukan istirahat selama dua jam sekali.
ADVERTISEMENT
Terlebih bagi Anda yang melakukan perjalanan jauh, dengan mengemudikan kendaraan selama masa libur Natal dan tahun baru (nataru).
“Pengemudi mobil dan motor di istirahat dua jam pertama bisa melakukan stretching, gerakan santai, mengecek barang-barang. Bisa dilakukan dalam waktu 15 menit saja,” ungkapnya saat dihubungi kumparan, Sabtu (24/12).
“Dua jam setelahnya, pengemudi bisa melakukan power nap atau tidur selama 30 menit agar kembali bugar dan siap melakukan perjalanan,” lanjutnya.
Rest Area KM 88 Cipularang Foto: Andreas Ricky Febrian/kumparan
Bila waktu yang tersedia hanya setengah jam, pengemudi bisa melakukan nano nap selama 15 menit atau mini nap dengan durasi singkat lima menit.
“Dilakukan dalam suhu yang ideal seperti 24 derajat, menggunakan earplug dan penutup mata agar mendapatkan istirahat yang baik dan cukup,” imbuhnya.
ADVERTISEMENT
Jusri tidak menyarankan untuk berkendara selama 10 jam tanpa adanya istirahat. Sebab, pengemudi akan terkena keletihan akut.
“Kalau perjalanannya lebih dari 10 jam, setelah tujuh atau delapan jam menyetir harus istirahat. Baik di penginapan atau di rest area. Tidur selama tujuh jam baru setelahnya bisa menyetir lagi,” jelasnya.
Pemudik beristirahat di rest area untuk pemudik motor di UPPKB Losarang. Foto: Kemenhub RI
Ini penting untuk menghindari terjadinya Automatic Behaviour Syndrome atau ABS. Ia menjelaskan ABS adalah suatu kondisi yang disebabkan kekurangan tidur atau melakukan aktivitas yang berlebihan seperti menyetir tanpa beristirahat.
“Yang paling fatal kalau sudah masuk ke ABS, itu agak susah karena pengemudi benar-benar sudah letih. Kelelahannya sudah berat lah,” ucapnya.
ABS ditandai dengan rasa kantuk yang sangat besar, bahkan power nap selama 15 menit hingga 30 menit, minum kopi, makan permen, hingga menggosok mata tidak ampuh lagi.
Posisi mengemudi Mercedes-Benz GLB 200. Foto: Bangkit Jaya Putra/kumparan
Apabila pengemudi sudah melihat tanda-tanda kelelahan yang berat seperti ABS, disarankan berhenti dan tidak melanjutkan perjalanan. Dikhawatirkan, potensi kecelakaan yang lebih besar bisa timbul.
ADVERTISEMENT
“Kondisi mengatasinya hanya tidur. Kalau memaksa perjalan jauh bisa membawa sopir cadangan atau anggota keluarga yang bisa menyetir sehingga bisa istirahat selama perjalanan. Margin keselamatan turun kalau dipaksa,” pungkasnya.