Otomotif, OTOHITZ X, OTOHITZ, MPV, SUV, XL7

Tren LMPV Rasa SUV, Apakah Bertahan Lama?

15 Februari 2020 7:13
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Eksterior Suzuki XL7 Foto: Bangkit Jaya Putra
zoom-in-whitePerbesar
Eksterior Suzuki XL7 Foto: Bangkit Jaya Putra
Cerita soal crossover --persilangan dua segmen (MPV dan SUV), sudah dimulai 12 tahun yang lalu, sejak Livina X-Gear pertama kali menyapa pasar Tanah Air.
Usianya juga cukup panjang, mulai dari 2008 dengan versi 5-penumpang, kemudian berlanjut menjadi 7-penumpang pada medio 2013, hingga penjualannya disetop akhir 2018 atau jelang lahirnya all new Livina berbasis Mitsubishi Xpander.
Di tengah jalan, sebenarnya beberapa pabrikan ada yang coba-coba peruntungan, sebut saja Chevrolet Spin Activ dengan bubuhan kosmetika khas crossover-look, seperti penambahan over fender, under guard, roof rail, serta side skirt, yang membuatnya sedikit lebih maskulin, dibanding versi MPV standar.
Namun, bila keduanya masih mengkategorikan produknya sebagai varian saja, Honda lebih percaya diri. Berbasis Mobilio, mereka meluncurkan BR-V pada 2015 yang dicemplungkan di segmen Low SUV. Walaupun beberapa masih menganggapnya crossover.
Tampilan depan Honda BR-V E CVT dan Xpander Cross. Foto: Bagas Putra Riyadhana
zoom-in-whitePerbesar
Tampilan depan Honda BR-V E CVT dan Xpander Cross. Foto: Bagas Putra Riyadhana
“Segmen crossover muncul dari semakin beragamnya kebutuhan konsumen, sehingga diperlukan sebuah model yang dapat memadukan karakter dari segmen yang berbeda. Honda BR-V lebih tepat dikategorikan sebagai Low SUV, dan mobil ini menggunakan platform Mobilio dan Brio,” tutur Business Innovation and Sales & Marketing Director PT Honda Prospect Motor (HPM), Yusak Billy kepada kumparan.
Dari situlah pabrikan lain pun mencoba peruntungan. Apalagi segmen MPV masih menjadi favorit di dalam negeri. Sementara tren SUV terus naik. Menciptakan sebuah produk yang memadukan dua jenis kendaraan itu pun jadi formulasi.
Yang terbaru ada Mitsubishi dengan Xpander Cross dan Suzuki XL7. Dua-duanya dibangun dari basis produk LMPV.

Perluas pasar

Menurut Pakar dan Pemerhati Desain Otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menjamurnya mobil MPV berbalut crossover targetnya jelas, menjawab tingginya tren permintaan SUV untuk tingkatkan penjualan.
Perbandingan muka Suzuki XL7 dan Ertiga Foto: Bangkit Jaya Putra
zoom-in-whitePerbesar
Perbandingan muka Suzuki XL7 dan Ertiga Foto: Bangkit Jaya Putra
Ini juga sebagai upaya memacu konsumsi pasar, terhadap basis kendaraan dalam perhitungan produksi rangka, mesin, dan bodi, demi mengejar keekonomian produksi --skala ekonomi-- yang umumnya dipatok 500.000 unit.
“Durasi untuk mencapai angkat tersebut sekitar 5-7 tahun. Karena itu diperlukan pengembangan desain secara periodik, untuk menghindari kejenuhan pasar terhadap bentuk yang sama selama bertahun-tahun,” tutur Yannes. Itu triknya.
Nah, kebaruan yang paling efisien dari sisi produksi adalah dengan menambahkan komponen, yang bisa memberikan impresi kebaruan tanpa mengubah basis kendaraan.
Aspek yang paling sering diutak-atik tentu eksterior. Pabrikan umumnya mengganti dan menambahkan desain grille, bumper, over fender, garnish samping body, roof rail, lampu depan, dan lampu rem.
Tampilan samping Mitsubishi Xpander Cross Foto: Muhammad Ikbal
zoom-in-whitePerbesar
Tampilan samping Mitsubishi Xpander Cross Foto: Muhammad Ikbal
Di luar itu, adapula yang menambah tinggi ground clearance agar produk yang mulanya sebagai LMPV itu memiliki rasa SUV dan mampu menarik konsumen.
Artinya, crossover yang dibangun berbasis LMPV merupakan langkah efisien dalam meningkatkan angka penjualan.

Esensinya tetap 3 baris

Direktur Pemasaran Roda Empat PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), Donny Saputra, menilai bahwa tren SUV saat ini memang tengah naik daun. Sehingga, Suzuki XL7, yang meluncur pada 15 Februari 2020 dianggap lebih tepat masuk segmen SUV ketimbang crossover.
“Tren crossover itu sebenarnya mulai tahun 2007-2008 silam sampai 2014-2015. Baru setelah itu trennya ke SUV. Jadi begitu,” ucapnya kepada kumparan.
Kolase all new Terios dan all new Rush Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparanOTO
zoom-in-whitePerbesar
Kolase all new Terios dan all new Rush Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparanOTO
Tapi, ia tak menampik unsur fungsionalitas --akomodasi tiga baris kursi-- harus tetap ada. Sebab, mengacu data Gaikindo, 80 persen penjualan didominasi mobil dengan kursi tiga baris.
“Lagipula, masyarakat Indonesia itu lebih tegas dan jelas saat mendefinisikan produk, maunya apa SUV atau MPV, karena segmennya memang berbeda. Dan maruk ambil di tengah malah tidak dapat semuanya --crossover atau MPV rasa SUV,” ucapnya.
Senada dengan Donny, Direktur Pemasaran PT Astra Daihatsu Motor, Amelia Tjandra, menuturkan bahwa dalam menciptakan produk harus jelas sasarannya: mau ke MPV atau SUV.
“Iya kan tren global SUV dan crossover, hanya saja setelah di Indonesia laku yang mana? Bisa dianalisa sendiri. Ya, kalau di medium SUV misalnya kan pemainnya baru Toyota, Daihatsu, dan Honda, otomatis mereka mau mencicipi pasar itu,” tutur Amelia.
Suzuki XL7, SUV yang lahir dengan platform MPV Ertiga.  Foto: Argy Pradypta Martanegara
zoom-in-whitePerbesar
Suzuki XL7, SUV yang lahir dengan platform MPV Ertiga. Foto: Argy Pradypta Martanegara
Edisi kesepuluh OTOHITZ membahas tema besar tren Low MPV berpenampilan SUV, peluncuran Suzuki XL7, sajian tips, modifikasi, hingga uji performa Xpander Cross.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten