Kumparan Logo

Ikatan Manusia dan Kucing Punya Pola Sama dengan Pengasuh dan Anak

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi bermain kucing peliharaan. Foto: REUTERS/Kim Kyung-Hoon
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bermain kucing peliharaan. Foto: REUTERS/Kim Kyung-Hoon

Manusia dan hewan bisa hidup berdampingan bahkan hingga memiliki kedekatan emosional. Sebuah studi baru-baru ini mengungkapkan bahwa ikatan antara manusia dengan kucing peliharaan bisa sama halnya dengan kedekatan yang terjalin antara manusia dengan anjing peliharaan ataupun antara pengasuh dengan anak-anak yang mereka asuh.

Ilustrasi pengasuh anak. Foto: Thinkstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pengasuh anak. Foto: Thinkstock

Tim peneliti melakukan sebuah uji coba untuk melihat ikatan antarmanusia dengan mengamati bagaimana bayi bereaksi setelah terpisah sesaat dari pengasuhnya yang kemudian kembali. Ada yang merasa cukup tenang, namun ada juga yang memberontak, baik dengan bersikap seolah tak ingin lepas dengan pengasuhnya atau malah tak mau didekati sama sekali.

Cara serupa juga pernah diterapkan peneliti ketika hendak mempelajari ikatan manusia dengan anjing peliharaan. Adapun kali ini, peneliti menguji 70 ekor kucing peliharaan dengan menempatkan mereka di sebuah ruangan yang benar-benar baru untuk mereka.

Ilustrasi hewan peliharaan kucing. Foto: Pixabay

Peneliti kemudian membiarkan kucing-kucing itu selama dua menit tanpa kawan. Setelah dua menit, hewan peliharaan menggemaskan itu diizinkan bertemu kembali dengan pemilik mereka selama dua menit.

Yang terjadi pada kucing-kucing ini ternyata tidak berbeda dengan reaksi yang ditunjukkan oleh bayi manusia dan anjing. Kucing dengan tingkat stres yang rendah akan merasa bebas menikmati sekaligus menjelajahi setiap sudut tempat yang mereka anggap benar-benar baru setelah pemiliknya kembali.

“Pada anjing dan kucing, keterikatan mereka pada manusia telah mewakili adaptasi dari ikatan pengasuh dengan anak,” ujar Kristyn Vitale dari Oregon State University yang mewakili tim peneliti dalam studi ini sebagaimana diberitakan IFL Science.

Vitale dalam sebuah pernyataannya juga menyebutkan bahwa ada sekitar 65 persen kucing yang menunjukkan pola keterikatan dengan manusia dengan cara yang sewajarnya. Angka persentase yang sama ditemukan ketika peneliti melakukan uji coba pada bayi manusia.

“Keterikatan ini merupakan perilaku yang relevan secara biologis. Penelitian kami menunjukkan bahwa saat kucing begitu bergantung pada manusia, kucing-kucing ini akan menganggap manusia sebagai sumber kenyamanan buat mereka,” imbuhnya.

Sementara bagi kucing-kucing yang merasa tidak nyaman apabila berdekatan dengan manusia, mereka menunjukkan sejumlah perilaku yang menyatakan bahwa kucing-kucing ini stres. Mereka menggerak-gerakkan ekornya, menjilat-jilati dirinya, berlarian, bersembunyi, ingin menyendiri atau duduk diam di pangkuan pemiliknya.

Ilustrasi ikatan kucing dengan manusia. Foto: REUTERS/Jeenah Moon

“Cara berpikir yang bias seperti dengan menganggap semua kucing akan berperilaku sama, sebenarnya sudah lama terjadi. Tetapi kebanyakan kucing memang memanfaatkan pemiliknya sebagai sumber kenyamanan mereka. Kucingmu bergantung pada dirimu untuk memperoleh rasa aman ketika mereka stres,” papar Vitale.

Para peneliti kemudian ingin menyelidiki apakah pola keterikatan seperti ini dapat disanggah. Selama enam pekan, mereka pun melakukan semacam latihan sosialisasi antara kucing dengan pemiliknya untuk mengamati apakah ada perubahan yang terjadi. Begitu pola keterikatan terbentuk, ternyata kedekatan masing-masing tetap terjalin seiring berjalannya waktu, bahkan ketika kucing-kucing ini tumbuh semakin dewasa.