Kumparan Logo

Ilmuwan Temukan Planet yang Super Ringan Seperti Gula Kapas

kumparanSAINSverified-green

comment
13
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Planet Kepler 51 yang ringan seperti gula kapas. Foto: NASA
zoom-in-whitePerbesar
Planet Kepler 51 yang ringan seperti gula kapas. Foto: NASA

Tak ada satu pun planet di tata surya kita yang menyerupai satu sama lain. Hanya saja, kita bisa mengelompokkannya seperti ini, Bumi, Venus, Merkurius, dan Mars masuk dalam kategori planet berbatu.

Selanjutnya, Saturnus dan Jupiter termasuk ke dalam planet gas. Sedangkan Neptunus, Uranus, beserta planet kerdil, seperti Pluto dan Ceres, masuk ke dalam kategori planet berlapis es.

Yang paling baru, astronom juga menemukan kategori planet yang memiliki tekstur seperti permen kapas. Kategori ini termasuk yang paling jarang ditemukan oleh para astronom. Dari seluruh exoplanet yang ada, astronom hanya berhasil menemukan kurang dari 15 Planet.

Tiga di antara planet itu disebut memiliki ukuran seperti Jupiter dan terlihat mengorbit sebuah bintang sejauh 2.600 tahun cahaya. Uniknya, meski besar, ia memiliki massa kurang dari satu persen dari Jupiter.

Perbandingan Planet Kepler 51. Foto: NASA

"Ini adalah contoh ekstrem dari apa yang disebut sebagai sesuatu yang begitu keren tentang exoplanet secara umum," ujar ilmuwan exoplanet, Zachory Berta-Thompson dari University of Colorado Boulder (UC Boulder), sebagaimana diberitakan Science Alert.

"Planet-planet ini memberi kita kesempatan untuk mempelajari dunia yang sangat berbeda, tetapi mereka juga menempatkan planet-planet di Tata Surya kita ke dalam konteks yang lebih besar," tambahnya.

Ketiga planet mengorbit bintang bernama Kepler 51, masing-masing ditemukan pada 2012 lalu. Kepadatan planet yang rendah baru diketahui pada 2014. Dengan memanfaatkan Teleskop Luar Angkasa Hubble, saat ini tim astronom berhasil mengungkapkan apa yang terjadi pada atmosfer ketiga planet tersebut.

Ilustrasi bintang-bintang di Galaksi Bima Sakti. Foto: Skeeze via Pixabay

Melalui teleskop tersebut, ilmuwan dapat mengamati spektrum panjang gelombang elektromagnetik dari bintang ketika planet ini sedang transit dan tidak transit. Karena molekul tertentu memblokir panjang gelombang tertentu, garis serapan pada spektrum ini dapat dibaca untuk menyimpulkan komposisi kimia atmosfer.

Inilah yang peneliti lakukan untuk menganalisis atmosfer Kepler 51 b dan Kepler 51 d. Tetapi, ketika mereka mendapatkan hasilnya kembali, atmosfer tersembunyi oleh lapisan buram di ketinggian.

Untuk menyiasatinya, ilmuwan beralih ke simulasi komputer untuk melihat kondisi atmosfer seperti apa yang bisa menghasilkan sesuatu bertekstur permen kapas. Jawaban yang paling mendekati adalah karena atmosfernya merupakan campuran hidrogen dan helium serta lapisan metana.