Kumparan Logo

Ini yang Dilihat Astronaut di Bulan saat Terjadi Gerhana Bulan Total

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi astronaut. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi astronaut. Foto: Shutter Stock

Besok, Rabu (26/5), gerhana bulan total bakal menyambangi sejumlah wilayah di dunia, termasuk Indonesia. Durasi fase total gerhana yang menghasilkan bulan merah darah atau super blood moon ini terbilang cukup singkat, yakni 14 menit 30 detik.

Gerhana Bulan Total (GBT) sendiri terjadi akibat konfigurasi Bulan, Bumi, dan Matahari yang membentuk satu garis lurus dan Bulan berada di sekitar simpul orbitnya (perpotongan antara orbit Bulan dan ekliptika), sehingga Bulan memasuki bayangan umbra Bumi.

Tapi, kira-kira apa yang dilihat astronaut di bulan saat terjadi gerhana bulan total di Bumi? Dijelaskan Forbes, sederhananya astronaut bakal melihat gerhana matahari total yang terhalang oleh Bumi. Ketika Matahari terhalang Bumi, astronaut di Bulan akan melihat cincin merah di sekitar bagian Bumi.

“(Ketika di bulan) kamu akan melihat ke atas dan melihat Bumi, kemungkinan juga lampu kota di Bumi, dan kamu akan melihat tanah di sekitarmu berubah menjadi merah,” kata Dr. Noah Petro, Ilmuwan Proyek untuk misi Pengorbit Pengintai Bulan milik NASA yang saat ini mengorbit di Bulan.

“Permukaan bulan kemudian mendingin secara substansial selama gerhana saat Bulan berubah dari Matahari tengah hari yang intens menjadi berada dalam kegelapan. Kamu tidak akan kedinginan karena pakai pakaian Antariksa. Namun tanah di sekitar akan mendingin secara substansial.”

video youtube embed

Gerhana bulan bisa menjadi momen yang berisiko untuk menjalankan misi luar angkasa di Bulan. Ini tak lain karena perubahan cuaca yang cukup ekstrem saat gerhana terjadi.

“Satu perbedaan besar adalah cuaca menjadi sangat panas dan kemudian menjadi dingin dengan sangat cepat, sehingga perubahan termal cukup drastis dan perubahan suhu yang drastis dapat menyebabkan hal-hal aneh,” kata Petro sebagaimana dikutip Forbes.

Banyak pengetahuan yang dapat dilakukan selama gerhana bulan total terjadi. Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) NASA, juga akan mengukur perubahan suhu di permukaan Bulan saat gerhana bulan total 26 Mei berlangsung. LRO dirancang untuk bisa beroperasi di keadaan dingin sekalipun, termasuk saat terjadi gerhana.

Pemandangan di bulan saat gerhana bulan di Bumi terjadi. Foto: NASA/YouTube

“Kami sudah meneliti Bulan selama 12 tahun jadi kami sudah melalui sejumlah gerhana dan kita tahu bagaimana pesawat ruang angkasa akan merespons,” kata Petro.

“Karena ini gerhana yang sangat singkat, kami tahu bahwa baterainya tidak akan habis sepenuhnya selama gerhana sehingga kami dapat membiarkan satu percobaan untuk mengukur perubahan suhu. Jika itu adalah gerhana yang lebih lama, kami mungkin tidak akan melakukannya.”

Adapun waktu gerhana bulan total di Indonesia sebagai berikut: Awal penumbra terjadi pada pukul 15.46.12 WIB atau 16.46.12 WITA, atau 17.46.12 WIT. Puncaknya gerhana terjadi pada pukul 18.18.43 WIB, atau 19.18.43 WITA, atau 20.18.43 WIT (delta T=69 detik), dengan magnitudo umbra 1,0153 dan magnitude penumbra 1,9787. Gerhana dapat disaksikan di seluruh Indonesia tanpa menggunakan alat pembantu.