Kumparan Logo

Jaringan 5G Bakal Ganggu Akurasi Prediksi Cuaca?

kumparanSAINSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi 5G. Sumber: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi 5G. Sumber: Pixabay

World Radiocommunication Conference (WRC), konsorsium yang mengatur telekomunikasi global, menyetujui standar baru frekuensi radio yang dapat mentransmisikan jaringan 5G, yakni 24 GHz. Persetujuan ini diteken delegasi negara-negara anggota pada Kamis (21/11), di Sharm el-Sheikh, Mesir.

Kesepakatan ini menjadi kabar buruk bagi para ahli meteorologi. Sebelum konferensi penandatanganan digelar, badan pemerintahan Amerika Serikat seperti Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA), NASA, dan Angkatan Laut AS telah memperingatkan pita frekuensi 24 GHz mendekati frekuensi yang digunakan oleh satelit penghimpun data cuaca dan iklim.

Para ahli mengatakan standar frekuensi 5G terbaru ini dapat mengancam masa depan ramalan cuaca di seluruh dunia.

“Kita membutuhkan permodelan cuaca menjadi lebih baik, bukannya malah semakin buruk, dan hal itu yang dikatakan langsung oleh Presiden Trump,” kata Renée Leduc, konsultan telekomunikasi, seperti dikutip The Washington Post.

Jaringan 5G Foto: Reuters

Permodelan cuaca yang dimaksud tersebut, mentransmisikan data penting untuk prediksi cuaca lewat suara gelombang mikro yang dipasang di satelit pengorbit kutub. Tiap kerusakan data akibat tabrakan frekuensi dapat merusak akurasi prakiraan cuaca. Analisis kumpulan data pun jadi lebih sulit, sebab bakal ada titik-titik buta pada hasil permodelan cuaca.

Tak hanya itu, Neil Jacobs, perwakilan dari NOAA, juga memperkirakan penerapan standar baru frekuensi 5G dapat menurunkan akurasi prediksi cuaca hingga 30 persen. Hal itu disebutnya seperti kembali ke tahun 1980, saat ramalan cuaca belum secanggih sekarang.

Ilustrasi ramalan cuaca. Foto: ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman

Padahal, data terkait iklim dan cuaca sangat berguna khususnya bagi wilayah-wilayah yang belum memiliki stasiun observasi cuaca, seperti lautan dan daerah-daerah terpencil.

Sebagai persiapan menghadapi skenario terburuk, NOAA tengah merencanakan penggunaan saluran penginderaan uap air di permukaan lautan, yang kemungkinan akan menjadi sumber gangguan frekuensi.

kumparan post embed