Kumparan Logo

Kenapa Banyak Orang Vietnam Suka Beli Cula Badak Ilegal?

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Cula Badak Foto: Shutterstock.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Cula Badak Foto: Shutterstock.com

Vietnam adalah salah satu negara dengan jumlah konsumen cula badak terbesar di dunia. Para konsumen cula badak di Vietnam turut berkontribusi pada adanya perburuan liar badak-badak di Afrika.

Sepanjang tahun 2018 1.100 badak di Afrika dibunuh oleh para pemburu liar. Dan kini, hanya ada sekitar 29.500 badak yang tersisa di dunia.

Berbagai upaya sebenarnya telah dikerahkan untuk mengurangi permintaan cula badak di Vietnam. Pada 2015, misalnya, Pemerintah Vietnam meningkatkan sanksi terhadap perdagangan dan penggunaan cula badak ilegal. Dan, melalui berbagai kampanye, organisasi konservasi telah mencoba mendidik para konsumen cula badak di Vietnam tentang krisis perburuan badak di Afrika dan ketidakbergunaan cula badak dalam pengobatan.

Vu Hoai Nam Dang, kandidat PhD di University of Copenhagen, bersama Martin Reinhardt Nielsen, Associate Professor di University of Copenhagen, membuat penelitian mengapa orang-orang di Vietnam gemar membeli cula badak. Mereka mewawancarai 30 konsumen di Vietnam yang mau mengaku pernah menggunakan cula badak serta 1 mantan penjual cula badak.

“Kami menemukan bahwa orang-orang menggunakan cula badak untuk sejumlah keperluan, terutama sebagai obat dan sebagai simbol status. Penggunaan yang paling umum adalah untuk mengobati mabuk. Penggunaan lainnya antara lain untuk menghormati kerabat yang sakit parah,” tulis kedua peneliti itu di The Conversation.

Ilustrasi warga di kota Hanoi, Vietnam. Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Mereka juga menemukan bahwa konsumen di Vietnam lebih menyukai cula badak liar daripada cula badak budidaya. Dan yang menyedihkan, mereka tidak terpengaruh oleh stigma atau kekhawatiran tentang berkurangnya populasi badak liar akibat perburuan untuk mengambil culanya itu.

Para konsumen cula badak itu, menurut kedua peneliti, berasal dari golongan orang berpenghasilan tinggi di Hanoi, ibukota Vietnam.

Obat segala penyakit dan simbol status

Kepercayaan bahwa cula badak dapat menyembuhkan segala penyakit telah tertanam begitu dalam dan kuat pada tradisi di Vietnam. Meski secara medis tidak ada bukti bahwa cula badak bisa menyembuhkan penyakit tertentu, banyak orang di Vietnam tetap meyakini bahwa cula badak bisa mengobati banyak penyakit.

“Orang-orang yang kami wawancarai mengatakan bahwa mereka menggunakan cula badak untuk mengobati berbagai penyakit termasuk mabuk, demam, asam urat dan penyakit yang berpotensi mematikan, seperti kanker atau stroke. Beberapa orang juga memberikannya kepada kerabat yang sakit parah untuk menghibur mereka dan menunjukkan bahwa mereka telah melakukan segala daya mereka untuk membantu mereka,” papar kedua peneliti dalam tulisan mereka.

Ilustrasi badak. Foto: Reuters/Baz Ratner

Selain digunakan sebagai obat, cula badak dianggap sebagai simbol status. Misalnya, para konsumen suka saling memberikan cula badak sebagai hadiah kepada jejaring sosial dan profesional mereka dengan tujuan untuk menunjukkan kekayaan mereka dan memperkuat hubungan bisnis mereka. Yang menarik, memberi hadiah cula badak juga digunakan sebagai cara untuk “mendapatkan bantuan dari mereka yang berkuasa.”

Yang mengejutkan, para konsumen itu mengatakan tidak peduli pada dampak hukum dari membeli cula badak. KUHP Vietnam sebenarnya melarang perdagangan dan penggunaan cula badak ilegal. “Namun, semua yang diwawancarai percaya bahwa polisi tidak akan memperhatikan penggunaan cula badak dan bahwa upaya penegakan hukum hanya berfokus pada perdagangan ilegal dalam jumlah besar. Dan mereka tidak bersalah salah,” tulisa para peneliti.

Bukan hanya konsumen yang tidak merasa khawatir atas larangan kepemilikan cula badak. Seorang mantan pedagang cula badak juga mengatakan bahwa potensi keuntungan dari perdagangan cula badak jauh lebih besar dibanding risiko dari aktivitas yang melanggar hukum tersebut.

“Temuan kami menunjukkan bahwa permintaan cula badak tidak mungkin turun karena kepercayaan orang tertanam kuat. Harapan kami adalah bahwa temuan kami membantu membentuk kembali fokus kampanye konservasi di masa depan dengan menargetkan alasan umum penggunaannya dan nilai-nilai yang terkait dengannya,” simpul para peneliti.

kumparan post embed