kumparan
24 Agustus 2018 11:11

Memahami Rangkaian Gempa yang Guncang Lombok

Lebih dari seribu gempa telah mengguncang Pulau Lombok dalam sebulan terakhir. Dari banyaknya gempa tersebut, ada lima di antaranya yang merupakan gempa kuat.
ADVERTISEMENT
Dari lima gempa kuat ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi gempa kuat pertama sebagai gempa pendahuluan, kedua merupakan gempa utama, ketiga dan keempat merupakan gempa susulan, sedangkan kelima merupakan gempa baru.
Kiyoo Mogi (1963), ahli gempa Jepang, pernah mengklasifikasikan aktivitas gempa ke dalam tiga tipe. Gempa Tipe I dicirikan dengan munculnya gempa utama yang diikuti oleh sejumlah gempa susulan (aftershocks) dengan magnitudo dan frekuensi yang terus mengecil.
Sementara itu, Gempa Tipe II dicirikan dengan serangkaian gempa lebih kecil sebagai pendahuluan (foreshocks), kemudian terjadi gempa utama dengan kekuatan paling besar, selanjutnya diakhiri serangkaian gempa susulan dengan magnitudo dan frekuensi yang terus mengecil.
Gempa Lombok (Foto: Shutterstock)
Adapun Gempa Tipe III ditandai dengan munculnya banyak gempa kecil dengan frekuensi kejadian sangat tinggi, berlangsung dalam kurun waktu tertentu di kawasan sangat lokal, dan tanpa ada gempa kuat yang menonjol sebagai gempa utama. Gempa semacam ini oleh Mogi disebut juga sebagai gempa swarm.
ADVERTISEMENT
Rangkaian gempa di Lombok sendiri tampak seperti Gempa Tipe III. Sebab, rangkaian Gempa Lombok ditandai dengan gempa pendahuluan berkekuatan 6,4 magnitudo pada 29 Juli dan gempa-gempa yang lebih kecil lainnya, kemudian diikuti oleh gempa utama berkekuatan 7,0 magnitudo pada 5 Agustus, dan selanjutnya disusul oleh gempa susulan berkekuatan 5,9 magnitudo pada 5 Agustus dan 6,3 magnitudo pada 19 Agustus dan gempa-gempa yang lebih kecil lainnya.
5 Gempa Kuat di Lombok dalam Sebulan Terakhir (Foto: Anggoro Fajar/kumparan)
Gempa Baru
Sejak terjadinya gempa utama pada 5 Agustus, BMKG mencatat hingga 21 Agustus sudah ada 1.005 gempa susulan. Namun selain terjadinya gempa utama pada 5 Agustus, dua pekan setelahnya juga terjadi gempa baru berkekuatan 6,9 magnitudo pada 19 Agustus malam.
Gempa kuat terbaru ini tidak diidentifikasi sebagai gempa susulan dari gempa pada 5 Agustus lalu karena memiliki bidang deformasi yang berbeda.
ADVERTISEMENT
"Meskipun seluruh aktivitas gempa yang terjadi berkaitan dengan struktur geologi Sesar Naik Flores, tetapi antara gempa 7,0 magnitudo dan gempa 6,9 magnitudo yang terjadi baru saja memiliki bidang deformasi yang berbeda," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati melalui keterangan tertulis yang diterima kumparan, Senin (20/8).
Kerusakan akibat gempa di Lombok. (Foto: Dwi Herlambang/kumparan)
Kedua gempa ini memiliki episentrum yang berdekatan dan masih berada di jalur Patahan Naik Flores atau Sesar Naik Flores. Oleh karena itu, Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono, menuturkan kedua gempa kuat ini bisa juga disebut sebagai gempa kembar.
“Dalam ilmu gempa bumi, kedua gempa kuat semacam ini disebut sebagai ‘gempa kembar’ (doublet earthquakes) karena kekuatan keduanya tidak beda jauh, lokasi dan kedalamannya juga berdekatan, serta terjadi dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama,” tutur Daryono dalam penjelasan tertulisnya.
ADVERTISEMENT
Selain itu, seperti halnya gempa 7,0 magnitudo pada 5 Agustus, gempa 6,9 magnitudo pada 19 Agustus ini juga memicu gempa-gempa susulan lainnya.
Kerusakan akibat gempa di Lombok. (Foto: Dwi Herlambang/kumparan)
Di samping itu, gempa baru pada 19 Agustus ini juga memiliki keterkaitan erat dengan gempa 5 Agustus. Sebab, munculnya aktivitas gempa baru di ujung timur Pulau Lombok ini diduga akibat pemicuan gempa yang bersifat statis (static stress transfer) dari rangkaian gempa-gempa kuat di Lombok sebelumnya.
Daryono menambahkan, jika melihat banyaknya rangkaian gempa kuat yang terjadi sejak 29 Juli, maka boleh juga menyebut semua gempa ini sebagai aktivitas “multi gempa” (multiplet earthquakes).
Gempa, Sesuatu yang Wajar Terjadi di Lombok
Meski ada banyak gempa kuat yang terjadi di Lombok dalam sebulan terakhir ini, Daryono mengatakan peristiwa ini adalah sesuatu yang wajar terjadi. Bukan sesuatu yang aneh.
ADVERTISEMENT
“Nah kenapa tidak aneh, dari unsur tektonik sudah saya sebutkan adanya struktur Patahan Naik Flores yang strukturnya itu dari utara Bali sampai di utara Flores, itu dari segi tektonik,” ujar Daryono.
Selain itu, dari segi sejarah, Daryono juga mencatat pernah terjadi sejumlah gempa dahsyat di dekat patahan ini.
Sebelum munculnya rangkaian gempa dahsyat di Lombok yang menewaskan setidaknya 515 orang, pada 1992 juga sempat muncul gempa berkekuatan berkekuatan 7,8 magnitudo yang mengguncang Flores hingga menimbulkan tsunami. Gempa dan tsunami ini tercatat telah menelan korban jiwa hingga lebih dari 2.500 orang.
Patahan Naik Flores Pemicu Gempa Lombok (Foto: Muhammad Faisal N/kumparan)
Tidak Mengenal Korban
Daryono menuturkan, gempa adalah fenomena alam yang tidak mengenal korban. Bahkan sekalipun tidak ada orang di Pulau Lombok atau pulau lainnya, tapi jika di sekitar pulau itu ada sumber gempanya, maka gempa tetap akan mengguncang pulau tersebut meski tanpa merenggut korban.
ADVERTISEMENT
Sebelumnya, ada sejumlah orang yang sempat mengaitkan rangkaian gempa di Lombok ini sebagai akibat dari sikap dan pilihan politik yang ditunjukkan oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat Tuan Guru Bajang.
Padahal, sebagaimana dijelaskan Daryono, gempa adalah fenomena yang akan terus mengintai masyarakat Indonesia, tidak hanya Lombok, karena wilayah Indonesia dikelilingi oleh berbagai sumber gempa seperti zona-zona subduksi hingga patahan-patahan aktif.
Khusus untuk wilayah Lombok, pulau ini sejak dulu memang telah dikepung oleh sumber gempa berupa Patahan Naik Flores di bagian utara dan Zona Subduksi antara Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia di bagian selatan.
“Jadi (rangkaian gempa di Lombok) ini adalah sebuah proses geologi. Proses alam yang lazim terjadi. Jadi tidak ada yang aneh. Karena memang dari segi tektonik sangat memungkinkan, dari segi sejarah juga ada catatannya.”
ADVERTISEMENT
Daryono menekankan, proses alam tidak melihat manusia. “Jadi nggak ada manusia pun, gempa-gempa besar itu bisa terjadi. Karena ini adalah sebuah proses geologi yang tidak akan berakhir hingga hari kiamat nanti.”
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan