Kumparan Logo

Mengapa Pandemi Corona di Indonesia Berakhir Lebih Lama dari Negara Lain?

kumparanSAINSverified-green

comment
17
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Staf medis Indonesia ikut serta dalam tes massal untuk virus corona COVID-19 di stadion Patriot di Bekasi.
 Foto: AFP/REZAS
zoom-in-whitePerbesar
Staf medis Indonesia ikut serta dalam tes massal untuk virus corona COVID-19 di stadion Patriot di Bekasi. Foto: AFP/REZAS

Indonesia diprediksi menjadi salah satu negara terlama yang bakal merasakan akhir pandemi virus corona. Di kala sejumlah negara mulai merasakan penurunan kasus COVID-19 pada Mei 2020, Indonesia diperkirakan baru memasuki akhir pandemi pada awal Juni 2020.

Prediksi tersebut dibuat oleh Data-Driven Innovation Lab milik Singapore University of Technology and Design (SUTD). Berdasarkan simulasi data menggunakan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang mereka buat, Indonesia berada di posisi ke-24 dari 27 negara yang mereka hitung dalam simulasi.

kumparan post embed

Menurut simulasi tersebut, jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia bakal mencapai 97 persen pada 6 Juni, yang nantinya kurva virus corona diprediksi akan terus menurun hingga tidak ada lagi kasus tambahan. Indonesia hanya lebih cepat dari Pakistan (8 Juni 2020), Qatar (26 Juli 2020), dan Bahrain (6 Agustus 2020).

Negara kita juga lebih lambat sebulan ketimbang Jerman yang diprediksi pandemi virus corona di negaranya berakhir pada 2 Mei, lebih lambat dari Spanyol (3 Mei 2020), Prancis (5 Mei 2020), dan Italia (7 Mei 2020).

Petugas Ambulans Puskesmas Kebayoran Baru, bersiap membawa pasien yang diduga terkena virus Corona di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta Utara, Senin (2/3). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Lantas, mengapa akhir virus corona di Indonesia lebih lama ketimbang negara lain? Menurut peneliti dan dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Pandu Riono, hal tersebut disebabkan oleh tidak optimalnya kebijakan mitigasi yang diambil pemerintah, dalam hal ini adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar alias PSBB yang basisnya daerah. Dia menggarisbawahi bahwa seharusnya PSBB diberlakukan dalam skala nasional.

“Tidak optimal dan tidak mencakup nasional,” kata Pandu, ketika dihubungi kumparan, Senin (27/4). “Efek PSBB akan optimal bila dipatuhi paling tidak 80 persen penduduk.”

kumparan post embed

Pandu menegaskan, jika Indonesia mau mencapai akhir pandemi lebih cepat, pemerintah perlu segera menerapkan PSBB dalam lingkup nasional. Mitigasi dalam lingkup nasional pun terbukti efektif menekan jumlah kasus di China, Vietnam, dan Selandia Baru. Ketiga negara ini, kata Pandu, saat ini telah mencapai akhir pandemi dan bisa mulai hidup normal.

Sebelumnya, Pandu telah berulang-kali mengkritik kebijakan PSBB yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia. Aturan PSBB yang ada sekarang disebutnya memiliki birokrasi yang rumit dan membuat mitigasi yang diperlukan menjadi lebih lama.

“Kita harus pikirkan skala nasional. Karena kedaruratannya adalah nasional, bencananya adalah nasional. Maka implementasinya nasional,” kata Pandu.

“Jadi enggak perlu lagi minta izin (ke Menteri Kesehatan). Jangan sampai ada wilayah yang harus minta izin, ditolak, karena dianggap kasusnya cuma 5, belum ratusan. Ya, kalau nunggu ratusan, seperti kita minta tolong ada kebakaran, rumah kita harus setengah kebakar baru boleh pemadam kebakaran datang. Pas pemadam kebakaran datang, kita sudah terbakar semua, sudah terlambat,” sambungnya.

embed from external kumparan

Pentingnya edukasi virus corona ke masyarakat

Tak hanya meminta PSBB secara nasional, Pandu juga meminta pemerintah untuk terus mengedukasi warga terkait pentingnya jaga jarak dan potensi bahaya dari virus corona. Menurutnya, edukasi terus-menerus kepada warga diperlukan, jika PSBB ingin optimal.

Senada dengan Pandu, Kepala Gugus Tugas Penanganan Corona Doni Monardo juga meminta seluruh kementerian lembaga terkait untuk menyampaikan berbagai imbauan soal upaya pencegahan penyebaran virus corona dengan berbagai bahasa yang mudah dimengerti masyarakat.

"Imbauan-imbauan harus senantiasa disampaikan dengan bahasa yang mudah, dimengerti masyarakat, perlu gunakan bahasa daerah. Tidak mudik, cuci tangan, gunakan masker, jaga jarak," kata Doni, dalam sebuah konferensi pers virtual, Senin (27/4). "Ketika jaga jarak diharapkan satu sama lain harus bisa tingkatkan kesadaran kolektif.”

kumparan post embed

Menurut Doni kedisiplinan warga selama pandemi menentukan kapan Indonesia bakal mencapai akhir pandemi virus corona. Pemerintah sendiri menargetkan masyarakat Indonesia sudah bisa kembali hidup normal pada Juli 2020 mendatang.

(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)

***

Yuk! Bantu donasi atasi dampak corona.