kumparan
4 September 2019 16:07

Mengenal Diet Intermiten untuk Turunkan Berat Badan, Adakah Bahayanya?

Diet intermittent fasting untuk mengatur pola makan. Foto: Shutterstock
Banyak orang rela melakukan banyak hal, termasuk diet, untuk memiliki berat badan dan bentuk tubuh yang proporsional. Bicara soal diet, saat ini pengaturan pola makan dengan menerapkan siklus puasa tengah digandrungi banyak orang. Salah satunya dengan cara melakukan puasa intermiten yang diklaim mampu menurunkan berat badan.
ADVERTISEMENT
Puasa intermiten juga banyak dilakukan untuk menjaga kebugaran tubuh. Menurut laporan Medical Daily, jenis diet ini turut dipopulerkan oleh para selebriti sehingga banyak orang yang tertarik untuk mencobanya.
Perlu dicatat, puasa intermiten ini sangat menuntut kedisiplinan seseorang yang ingin menerapkannya. Sebab, orang yang sedang menjalani jenis diet ini akan melewati fase puasa dan fase non-puasa dalam periode tertentu. Jadi, ini adalah diet selang-seling.
Ilustrasi diet Foto: Shutterstock
Saat memasuki fase puasa, pelaku diet sengaja tidak makan sama sekali dalam jangka waktu tertentu untuk memastikan tubuh mereka mampu beradaptasi tanpa asupan makanan. Sedangkan pada saat menjalani fase non-puasa, mereka diperkenankan makan seperti biasa tanpa harus menghindari atau mengonsumsi makanan khusus.
Kamu bisa menerapkan jenis diet ini dengan mengonsumsi makanan hanya dalam waktu 12 jam sehari. Tetapi ada pula yang menggunakan teknik lain dengan menjalani puasa selama sehari penuh.
ADVERTISEMENT
Kedua teknik puasa yang disebutkan tadi sebenarnya memiliki tujuan akhir yang sama, yakni menguras karbohidrat dari tubuh pada waktu yang tertentu untuk membakar lemak dan akhirnya menurunkan berat badan.
Diet intermittent fasting diklaim ampuh turunkan berat badan. Foto: Shutterstock
Tetapi perlu diingat, mengikuti tren dengan melakukan puasa intermiten ternyata tak selamanya baik. Sebab, jenis diet ini memiliki kelemahan sehingga bisa menimbulkan bahaya tertentu.
Lembaga Center for Discovery yang memberi perawatan rumahan dan rawat jalan, telah memberi catatan, bahwa tak semua orang dianjurkan untuk melakukan puasa intermiten meski begitu banyak tokoh terkenal dan pakar kebugaran yang memuji manfaat kesehatan dari praktik diet tersebut.
Meskipun puasa intermiten benar-benar efektif untuk menurunkan berat badan, tetapi jenis diet tersebut juga bisa menaikkan berat badan seseorang secara tiba-tiba. Efek lainnya bisa membuat cadangan energi dalam tubuh berkurang, orang yang menjalaninya pun mengalami susah tidur dan yang paling ekstrem akan menyebabkan kerusakan organ.
ADVERTISEMENT
Bagi orang yang mengalami masalah kekurangan berat badan, wanita hamil yang sedang menyusui, dan orang yang berusia di bawah 18 tahun, sama sekali tak dianjurkan untuk menjalani pengaturan pola makan menggunakan teknik diet intermiten.
Pengaturan pola makan dengan menerapkan siklus puasa bisa menurunkan asupan kalori harian yang sebenarnya sangat dibutuhkan tubuh. Jika itu tak terpenuhi, maka secara negatif akan mempengaruhi kesehatan seseorang.
Sementara untuk wanita hamil dan orang-orang yang tidak memiliki masalah kekurangan berat badan, efek negatif dari puasa intermiten yang bisa dirasakan meliputi rasa lapar, dehidrasi, mudah merasa lelah, dan mudah terpancing secara emosional.
Metode intermittent fasting 5:2. Foto: Shutterstock
Di sisi lain, terungkap fakta bahwa penelitian yang membahas soal efek positif dari puasa intermiten sebagian besar baru diterapkan pada hewan. “Belum ada penelitian jangka panjang yang membuktikan bahwa puasa intermiten memiliki efek positif,” tegas Howard Steiger dari Universitas McHill yang melakukan penelitian tentang gangguan makan.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan