Kumparan Logo

Perubahan Iklim Jadi Penyebab Runtuhnya Kerajaan Kuno Terkuat di Irak

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pahatan pasukan Kekaisaran Asiria. Foto: dynamosquito via Wikimedia Commons (CC BY-SA 2.0)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pahatan pasukan Kekaisaran Asiria. Foto: dynamosquito via Wikimedia Commons (CC BY-SA 2.0)

Kekaisaran Asyur atau Asiria di Irak adalah kekaisaran terbesar dan paling kuat yang berdiri sejak abad ke-25 Sebelum Masehi (SM). Kerajaan ini menguasai sebagian wilayah dari Teluk Persia hingga Siprus. Namun siapa sangka, kekaisaran yang megah ini bisa hancur karena perubahan iklim.

"Bangsa Asyur pada dasarnya seperti Kekaisaran di Star Wars, mereka adalah mesin yang melahap segalanya," ujar Adam Schneider, seorang arkeolog dan paleoklimatologis yang juga penulis penelitian dari CIRES. Hingga memasuki dekade terakhir, Kekaisaran Asyur (912-609 SM) mengalami ketidakstabilan politik dan konflik dari dalam dan luar kekaisaran.

Namun, peneliti melihat ada faktor lain yang membuat kekaisaran ini runtuh. Dalam laporan Science Advances, peneliti menyebut keruntuhan tersebut didahului oleh serangkaian "megadroughts" selama abad ke-7 SM. Megadroughts adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kekeringan berkepanjangan yang berlangsung selama dua dekade atau lebih.

Penelitian menunjukkan bahwa kekayaan yang dimiliki oleh kekaisaran Asyura berkaitan erat dengan iklim. Ketika periode curah hujan stabil dan panen berlimpah, rakyatnya penuh dengan kemakmuran dan kedamaian.

Ilustrasi pahatan pasukan Kekaisaran Asiria. Foto: Maksim via Wikimedia Commons

Tetapi, ketika "megadroughts" melanda, benih kehancuran mulai tampak. Yang terjadi sebaliknya adalah penurunan taraf hidup warga, kegagalan panen, kekurangan pangan hingga tingkat konflik yang lebih tinggi.

Analisis ilmiah memperkuat penelitian tentang kemungkinan iklim yang telah menyebabkan kehancuran kekaisaran ini. Hal ini bisa dilihat dari komposisi kimiawi berupa karbon dan oksigen pada tetesan air yang membentuk stalagmit di Gua Kuna Ba, Irak. Di berbagai titik stalagmit dapat ditemukan jejak dari tingkat curah hujan dalam peristiwa sejarah yang berlangsung hingga tahun 2007 Masehi (M).

Dari sana, dapat diketahui bahwa kekeringan yang melanda Kekaisaran Asyur dimulai lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya dengan mengikuti periode terbasah dalam catatan wilayah kekuasaannya. Menurut Schneider, hal ini menjadi penting karena penduduk Asiria sangat rentan terhadap perubahan iklim berdasarkan letak geografis Irak utara.

"Sungai Tigris sangat dalam memotong tanah di sekitarnya sehingga kamu tidak bisa melakukan irigasi skala besar di sana, karena itulah curah hujan sangat penting bagi kehidupan mereka." katanya.

Ilustrasi perubahan iklim. Foto: Reuters/David Mercado

Penelitian ini menjadi unik karena kebanyakan peneliti lebih menekankan pada masalah konflik politik-ekonomi internal, overextension teritorial, dan kekalahan militer. Belum banyak penelitian tentang sebab akibat dari perubahan iklim yang justru mampu mengubah jalannya sejarah. Salah satu contohnya lagi adalah peristiwa Revolusi Prancis tahun 1789, terjadi akibat panen buruk dan meningkatnya biaya roti.

Menurut The New Yorker, para sejarawan juga menyarankan untuk meneliti perubahan iklim selama "zaman es mini" yang bisa jadi bertanggung jawab atas penyatuan kembali tatanan sosial Eropa, karena hal itu memengaruhi panen dan menyebabkan kerusuhan sipil yang meluas.

Baru-baru ini, dalam kasus Suriah, ilmuwan politik justru bertanya apakah konflik di Suriah ini sebenarnya adalah "perang Iklim" yang menghubungkan panen buruk antara tahun 2006 dan 2010 dengan gelombang migrasi dari desa ke kota yang pada akhirnya menyebabkan konflik politik.

Ilustrasi perubahan iklim. Foto: Pixabay

Darcy Thomphon, Kandidat PhD, Ilmu Politik/Studi Timur Tengah dan Lina Eklund, Peneliti Doktoral dalam Studi Geografis Fisik/Timur Tengah yang keduanya berasal dari Lund University, Swedia, menyebutkan memang dalam kasus Suriah, ada eksodus keluarga petani dari daerah yang terkena dampak kekeringan terburuk di utara negara itu (basis dari pertanian Suriah) ke kota-kota terdekat Damaskus, Hama, dan Aleppo.

Namun, peran apa yang dimainkan migrasi ini dalam memicu pemberontakan hingga kemudian konfliknya masih jauh dari kejelasan.

Kendati begitu, penelitian tentang politik, ekonomi, budaya dan yang berkaitan dengan masyarakat tidak akan lepas dari pengaruh alam atau iklim. Sudah banyak bukti sejarah yang menunjukkan perkembangan manusia tidak bisa lepas dari bagaimana kondisi Bumi itu sendiri.