Kumparan Logo

Planetarium Siapkan 5.800 Kacamata Gerhana Matahari Cincin 26 Desember

kumparanSAINSverified-green

comment
10
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kolase proses gerhana matahari yang terlihat di Coquimbo, Chile. Foto: REUTERS / Rodrigo Garrido dan Gett Images/Marcelo Hernandez
zoom-in-whitePerbesar
Kolase proses gerhana matahari yang terlihat di Coquimbo, Chile. Foto: REUTERS / Rodrigo Garrido dan Gett Images/Marcelo Hernandez

Pada 26 Desember 2019, fenomena alam langka Gerhana Matahari Cincin akan melintas tepat di langit Bumi. Gerhana ini juga tampak di Indonesia.

Gerhana Matahari Cincin kali ini diperkirakan akan tampak di beberapa wilayah Indonesia, mulai dari Padang Sidempuan Sumatera Utara, Batam Kepulauan Riau, Singkawang Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Timur.

kumparan post embed

Titik greatest eclipse (GE) akan terjadi ketika sumbu bayangan Bulan berada paling dekat dengan pusat Bumi, yakni di tengah selat di dekat Pulau Pedang, tepatnya pada koordinat (1,0089° LU; 102,2465° BT), dengan durasi fase cincin selama 3 menit 39 detik.

Gerhana Matahari Cincin diperkirakan akan berlangsung selama 3 jam 50 menit. Fenomena ini dimulai pada pukul 10.22 WIB, puncak gerhana terjadi pada pukul 12.17 WIB, dan akhir gerhana sebagian terjadi pada pukul 14.12 WIB.

Masyarakat Jakarta juga dapat menyaksikan fenomena alam ini, kendati tidak akan dilewati oleh bayangan utama (umbra), yang menjadikan fenomena yang terlihat berupa Gerhana Matahari Parsial.

Pada langit Jakarta, Bulan mulai bergerak menutupi Matahari pukul 10.42 WIB, puncaknya pukul 12.36 WIB Matahari akan tertutup 72 persen oleh Bulan, sehingga cahayanya akan redup dan berakhir pukul 14.23 WIB.

Proses terjadinya gerhana matahari yang terlihat di Coquimbo, Chile. Foto: REUTERS / Rodrigo Garrido

Eko Wahyu Wibowo, Kepala Satuan Pelaksana Teknik Pertunjukkan dan Publikasi Planetarium dan Observatorium Jakarta berkata, peristiwa fenomena alam ini tidak bisa dilihat oleh mata telanjang, mengingat kuatnya pancaran cahaya Matahari yang dapat merusak mata.

Oleh sebab itu, Planetarium dan Observatorium Jakarta berencana akan memfasilitasi masyarakat yang ingin menyaksikan Gerhana Matahari Cincin, dengan membagikan 5.800 kacamata khusus dilengkapi filter jenis ND5 yang mampu meredupkan cahaya matahari hingga 100.000 kali.

“Acaranya dimulai pukul 07.00 WIB sudah bisa registrasi dan akan langsung dibagikan kacamata. Gratis, tidak dipungut biaya, dan buat semua kalangan. Syaratnya, masyarakat hanya perlu datang ke Planetarium dan Observatorium Jakarta pada 26 Desember 2019 mendatang,” ujar Eko saat dihubungi kumparanSAINS, Kamis (13/11).

Bagi masyarakat yang tidak mendapatkan kacamata, maka akan disediakan teropong sebanyak 10 buah yang dilengkapi filter ND5 dan didampingi oleh para astronom.

Planetarium Jakarta. Foto: Ulfa/kumparan

Gerhana Matahari Cincin sendiri terjadi ketika tiga benda langit, yakni Matahari, Bulan, dan Bumi berada dalam satu bidang lurus. Saat itu, posisi Bulan sedang berada di titik terjauh dengan Bumi, sedangkan posisi Bumi berada di titik terdekat dengan Matahari.

Pada saat terjadi gerhana, piringan Bulan akan tampak lebih kecil ketimbang piringan Matahari, yang mengakibatkan piringan Bulan tidak dapat menutup seluruh piringan Matahari, sehingga menyisakan lingkaran di pinggirnya. Oleh karena itulah fenomena ini disebut sebagai Gerhana Matahari Cincin.