Remaja Korban Vape Jalani Transplantasi Paru Ganda

Seorang remaja di Amerika Serikat berhasil lolos dari maut berkat transplantasi paru-paru ganda yang ia jalani. Laki-laki berusia 17 tahun yang identitasnya dirahasiakan ini merupakan salah seorang pasien di rumah sakit Detroit dengan kondisi paru-paru yang rusak akibat mengisap vape.
Remaja itu pertama kali dilarikan ke rumah sakit pada 5 September 2019 lalu. Ia didiagnosis mengidap penyakit yang mirip dengan gejala pneumonia. Pada 15 Oktober 2019, tim dokter yang merawatnya memutuskan untuk melakukan transplantasi paru-paru.
Tindakan medis tersebut berhasil menyelamatkan nyawanya. Tim dokter mengaku masa pemulihan remaja itu pun berlangsung sangat baik.
“Tindakan medis untuk menyembuhkan jenis penyakit semacam ini terdengar tidak masuk akal,” ujar Hassan Nemeh, ahli bedah toraks yang terlibat dalam tim dokter yang menangani si pasien, sebagaimana diberitakan CNN.
“Jika bukan karena transplantasi paru-paru, pasien kami sudah pasti tak akan selamat,” imbuhnya.
Menurut Nemeh, paru-paru remaja laki-laki itu telah mengalami kerusakan yang sangat parah. Ia bahkan mengaku sebelumnya tak pernah menangani kasus seperti ini sepanjang kariernya sebagai ahli medis selama 20 tahun.
Usai menjalani transplantasi paru-paru ganda, yang diklaim tim dokter sebagai tindakan medis pertama di dunia, remaja itu kini sedang menjalani terapi fisik. Tim dokter pun memperkirakan proses pemulihan akan memakan waktu selama berbulan-bulan.
Remaja malang itu hanya satu dari 2.051 korban yang mengalami cedera paru-paru akibat vape di AS. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (Centers for Disease Control and Prevention/CDC), sejauh ini tercatat sudah ada 40 kasus kematian akibat vape di negeri Paman Sam.
CDC telah menjalin kerja sama dengan departemen kesehatan setempat dan Lembaga Pengawas Obat-obatan dan Makanan (Food and Drug Administration/FDA) dalam rangka melakukan investigasi terkait penyebab pasti dari penyakit paru-paru yang diduga akibat vape.
Dari hasil penyelidikan awal CDC, Vitamin E asetat yang ditemukan dalam produk vape disebut-sebut telah menjadi penyebab utama terjadinya wabah nasional yang disebabkan rokok elektrik itu. Namun mereka juga menyebut kemungkinan adanya faktor-faktor penyebab lain yang bisa mematahkan dugaan tersebut.
Sejauh ini, pihak CDC secara tegas menyatakan tak ada satu produk pun yang patut disalahkan atas kejadian ini, meski telah banyak korban berjatuhan akibat membeli produk vape dari produsen tidak resmi.
