kumparan
20 November 2019 8:28

Riset: Buta Huruf Bikin Risiko Demensia Naik 3 Kali Lipat

Alfabet
Huruf-huruf dalam keyboard Foto: Klaralaumen
Sebuah penelitan terbaru menemukan bahwa orang yang buta huruf berisiko tiga kali lipat lebih besar terkena demensia, dibanding mereka yang bisa membaca dan menulis. Studi ini diterbitkan dalam jurnal Neurology dari American Academy of Neurology.
ADVERTISEMENT
Menurut Departemen Pendidikan Amerika Serikat, sekitar 32 juta orang dewasa di negeri Paman Sam mengalami buta huruf.
“Mampu membaca dan menulis memungkinkan orang untuk terlibat dalam lebih banyak kegiatan yang menggunakan otak, seperti membaca koran dan membantu anak-anak dan cucu dengan pekerjaan rumah,” ujar penulis studi, Jennifer J. Manly, dari Columbia University, seperti dikutip Science Daily.
Menurutnya, penelitian sebelumnya telah mengungkap kegiatan membaca dan menulis dapat mengurangi risiko demensia. Sedangkan studi terbaru ini memberikan lebih banyak bukti bahwa dua kegiatan tersebut menjadi faktor penting untuk menjaga otak agar tetap sehat.
Menyehatkan otak
Ilustrasi otak. Foto: Thinkstock
Tim peneliti melibatkan 983 orang dengan usia rata-rata 77 tahun, berdomisili di Manhattan Utara, dan berpendidikan rendah. Sebagian besar dari mereka lahir dan besar di daerah pedesaan di Republik Dominika, di mana akses ke pendidikan terbatas. Peneliti lantas membagi mereka dalam dua kelompok; 237 orang buta huruf serta 746 lainnya bisa membaca dan menulis.
ADVERTISEMENT
Peserta mengikuti ujian medis dan mengambil tes memori dan kognitif. Mereka menjalani beberapa sesi pertemuan secara berkala, dengan rentang waktu sekitar 3,5 tahun. Peneliti menguji ingatan peserta terhadap kata-kata yang tidak saling berhubungan. Selain itu, mereka diminta menyebutkan sebanyak mungkin kata dari beberapa kategori seperti buah-buahan dan pakaian.
Hasil penelitian tahap awal mengungkap 83 dari 237 orang yang buta huruf, terdiagnosis demensia. Sedangkan demensia terindikasi pada 134 dari 746 orang yang melek huruf. Setelah dilakukan penyesuaian dengan usia, status sosial-ekonomi, dan penyakit kardiovaskular yang dimiliki responden, peneliti menarik kesimpulan; orang yang tidak bisa membaca dan menulis berpeluang tiga kali lipat lebih besar mengalami demensia.
Pada tahap lanjut empat tahun kemudian, peneliti lantas menemukan 114 dari 237 orang yang buta huruf (48 persen), menderita demensia. Dari orang-orang yang melek huruf, 201 dari 746 orang menderita demensia. Setelah penyesuaian dengan usia, status sosial-ekonomi, dan penyakit kardiovaskular, ditarik kesimpulan bahwa orang yang tidak bisa membaca dan menulis dua kali lebih mungkin untuk menderita demensia selama rentang waktu penelitian.
Taman Baca Kolong fly over Ciputat, Anak, pendidikan,ilustrasi
Sejumlah anak belajar mengenal huruf abjad di Taman Baca Kolong fly over Ciputat, Tangerang Selatan, Senin (13/8/2018). Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan
Selanjutnya, ketika peneliti mengevaluasi kemampuan bahasa, kecepatan, spasial, dan penalaran, mereka menemukan orang yang buta huruf memiliki skor lebih rendah pada tahap awal penelitian. Namun skor tes mereka tidak menurun secara signifikan seiring perkembangan studi.
ADVERTISEMENT
”Penelitian kami juga menemukan bahwa literasi dikaitkan dengan skor yang lebih tinggi pada memori dan tes berpikir (kognitif) secara keseluruhan, tidak hanya pada skor membaca dan bahasa,” ujar Jennifer.
Hasil itu menunjukkan membaca dapat memperkuat otak dengan banyak cara yang dapat membantu mencegah atau menunda demensia.
"Bahkan jika mereka hanya memiliki beberapa tahun pendidikan, orang yang belajar membaca dan menulis mungkin memiliki keunggulan seumur hidup dibandingkan orang yang tidak pernah mempelajari keterampilan ini," lanjutnya.
Ilustrasi baca buku
Ilustrasi baca buku. Foto: Rathish Gandhi/unsplash
Perlu dicatat, meski mengungkap lebih banyak bukti daripada penelitian sebelumnya, kajian terbaru ini masih memiliki keterbatasan. Para peneliti tidak bertanya bagaimana atau kapan peserta studi yang melek huruf belajar membaca dan menulis sebelum dilibatkan dalam penelitian.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan