Kumparan Logo

Riset: Ciliwung Masuk Daftar Sungai Terkotor di Dunia

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Foto udara suasana wilayah bantaran sungai Ciliwung di kawasan Bukit Duri, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww.
zoom-in-whitePerbesar
Foto udara suasana wilayah bantaran sungai Ciliwung di kawasan Bukit Duri, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww.

Tim Van Emmerik bersama empat rekan ilmuwan lainnya menggarap sebuah riset bertajuk Riverine Plastic Emission from Jakarta into the Ocean yang telah diterbitkan pada Agustus 2019 lalu. Kajian ini terkait penobatan Indonesia sebagai negara terbesar kedua penyumbang sampah plastik lautan di dunia.

Pada tahun 2025 nanti, Indonesia menargetkan penurunan jumlah sampah plastik lautan hingga 70 persen. Namun, Tim menilai target pemerintah ini cukup ambisius.

Menurut dia, ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan pemerintah sebelum mewujudkan target tersebut. Salah satunya soal bagaimana menuntaskan persoalan sungai yang tercemar di Ibu Kota akibat sampah plastik.

Peneliti asal Wageningen University, Belanda, itu memiliki data dari hasil penelitiannya dua tahun lalu, yang mengindikasikan bahwa sungai Ciliwung, yang membelah Kota Jakarta, masuk dalam daftar sungai terkotor di dunia.

Tim, yang kala itu juga melibatkan ilmuwan dari Indonesia dan bekerja sama dengan perusahaan sosial Waste4Change, menemukan bahwa sampel yang diambil dari sungai Ciliwung menunjukkan bahwa pencemaran di sana lebih parah dibandingkan 20 sungai yang membentang di Eropa dan Asia Tenggara.

Relawan tim naturalisasi sungai Ciliwung-Cisadane menyusuri aliran anak sungai Cisadane Kali Baru yang dipenuhi sampah di Cilebut, Bogor, Jawa Barat. Foto: ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya

“Kami melakukan pengawasan terhadap makroplastik, atau plastik dengan ukuran lebih dari lima milimeter, di lima lokasi di sepanjang sungai Ciliwung di bulan Mei 2018. Hasilnya, sebanyak 20.000 barang berbahan plastik mengalir ke Laut Jawa setiap jam,” tulis Tim, di laman The Conversation.

Jika dibandingkan dengan yang terjadi di sungai Chao Phraya Thailand, angka ini melampaui empat kali lipatnya. Sebab, menurut catatan Tim, jumlah barang berbahan plastik yang ditemukan di sungai yang berada di kota Bangkok itu mencapai 5.000 barang per jam.

Perbedaan yang mencolok terungkap ketika Tim dan kawan-kawan membandingkannya dengan kondisi sungai-sungai di negara Eropa. Di sungai Seine Prancis, ada 700 barang per jam, sementara di sungai Rhine Belanda hanya ada 80 barang berbahan plastik yang mengalir ke laut setiap jam.

Problematika sampah plastik di Indonesia

Studi ini juga menghitung berat total sampah plastik dari seluruh kali di Jakarta yang mencapai 2,1 juta kilogram. “Ini setara dengan 1.000 mobil Tesla Model S,” ujar Tim.

Yang menjadi sorotan, Tim dan kawan-kawan menyimpulkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan membuang sampah rumah tangga mereka langsung ke sistem air. Hal ini diketahui setelah mereka melakukan survei di lima lokasi dan menemukan kantong plastik serta bungkusan makanan plastik.

Jumlah sampah plastik, seperti yang diungkapkan Tim, akan lebih banyak dialirkan pada musim hujan yang menjadi puncak aliran air. Ia pun menyarankan, apabila Jakarta ingin berkontribusi dalam penurunan polusi plastik global, maka perlu menurunkan sampah plastik sebelum memasuki musim hujan.

Seorang anak bermain di aliran kali Ciliwung yang penuh sampah, kawasan Bukit Duri, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta

“Dari perspektif sains, saya mengusulkan agar kota-kota dan negara-negara di dunia, termasuk Indonesia untuk melakukan monitoring sampah plastik di sungai dan kanal mereka,” sarannya.

Yang dimaksud Tim merujuk pada penelitian riverine plastic pollution atau sampah plastik dari sungai. Ia menilai, riset semacam ini bisa menjadi kunci untuk mengurangi jumlah sampah plastik yang masuk ke lautan.

Tim bilang, perlu ada titik ukur (benchmark) dalam melihat polusi plastik di sungai di seluruh dunia. Dengan begitu, pemerintah dapat merumuskan prioritas sungai yang harus dibersihkan terlebih dahulu dan menjamin efisiensi teknologi yang dipilih.

kumparan post embed