Kumparan Logo

Tidur Siang Bisa Tingkatkan Prestasi Akademik Anak SD

kumparanSAINSverified-green

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak belajar di sekolah Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak belajar di sekolah Foto: Shutterstock

Banyak orang tua menerapkan tidur siang kepada anak mereka, karena kebiasaan itu dianggap memiliki banyak manfaat, selain untuk mengistirahatkan tubuh. Sebuah studi terbaru dari University of Pennsylvania dan University of California, Irvine (UCI), menyebut kebiasaan tidur siang dapat meningkatkan suasana hati anak, menambah energi, dan performa akademiknya di sekolah.

Penelitian yang dilakukan terhadap 3.000 siswa kelas empat, lima, dan enam yang berusia 10 sampai 12 tahun, menunjukkan adanya hubungan antara tidur siang dengan kebahagiaan yang lebih besar, kontrol diri, perilaku bermasalah yang lebih kecil, dan kecerdasan intelektual (intelligence quotient/IQ) yang lebih tinggi.

Menurut pakar neurokriminolog yang juga menyusun laporan penelitian ini, Andrian Raine, temuan mereka menunjukkan adanya hubungan kuat antara tidur siang dengan prestasi akademik.

"Anak-anak yang tidur siang sebanyak tiga kali atau lebih per minggu, dapat memberikan peningkatan kinerja akademik sebanyak 7,6 persen pada siswa kelas 6," kata Raine, dilansir Medical Xpress.

Menurut Jianghong Liu, seorang profesor kesehatan masyarakat yang juga penulis utama penelitian ini, kekurangan tidur dan kantuk di siang hari dapat mempengaruhi efek kognitif, emosional, dan fisik, pada anak.

Tips melatih anak terbiasa bangun pagi Foto: Shutterstock

Kondisi tersebut sering terjadi di negara yang tidak memiliki budaya tidur di siang hari, seperti di Amerika Serikat (AS). Namun di China, kebiasaan ini tertanam pada kehidupan sehari-hari yang dilakukan hingga dewasa.

Melihat kondisi ini, Liu, Raine, dan para peneliti lain, melanjutkan riset yang didasarkan pada China Jintan Cohort Study, yang didirikan pada tahun 2004 dengan melibatkan 1.656 peserta pra-sekola dan fokus pada penelitian yang mempelajari dampak paparan lingkungan pada neurobehavioural anak-anal. Peneliti lain yang melanjutkan studi ini bersama Liu dan Raine adalah ahli biostatistika Rui Feng dari University of Pennsylvania, juga Sara Mednick yang sering melakukan penelitian perihal tidur dari University of California, Irvine.

Berdasarkan data analisis yang dilakukan terhadap 2.928 anak, para peneliti menyimpulkan frekuensi dan durasi tidur siang anak-anak dari kelas 4 hingga 6 SD, lalu hasil akhirnya disimpulkan saat merkeka kelas 6 SD. Penelitian ini dilakukan berdasarkan pengukuran psikologis seperti masalah perilaku, kebahagiaan, dan tindakan fisik termasuk indeks massa tubuh dan kadar glukosa.

Penelitian juga melibatkan para guru untuk memberikan informasi perilaku dan akademik setiap siswa kepada para peneliti.

Informasi yang mereka dapat, lalu dianalisis dan dikaitkan dengan kebiasaan tidur siang, jenis kelamin, kelas, lokasi sekolah dari rumah, pendidikan orang tua, dan waktu tidur saat malam hari.

"Semakin banyak siswa tidur di siang hari, semakin besar manfaat tidur siang pada banyak tindak-tanduk mereka," kata Sara Mednick yang sering melakukan riset tentang tidur.

embed from external kumparan

Melihat kondisi tersebut, Liu dan Raine bersama peneliti lainnya akan meneruskan penelitian selanjutnya untuk mengetahui sebab dan akibat yang menghubungkan prestasi akademik terhadap kebiasaan tidur siang. Para peneliti juga berharap hasil penelitiannya dapat memberikan informasi lebih lanjut terkait hubungan kebiasaan tidur siang dengan prestasi akademik remaja.