Kumparan Logo

Waspada Kena Hipotermia saat Banjir, Ini Gejala dan Cara Mencegahnya

kumparanSAINSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana saat banjir di Kampung Pulo, Jakarta Timur, Kamis (2/1). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana saat banjir di Kampung Pulo, Jakarta Timur, Kamis (2/1). Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan

Banjir dan tanah longsor yang terjadi di wilayah Jakarta dan sekitarnya sejak Rabu (1/1) memakan korban jiwa. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 16 orang meninggal dunia akibat banjir dan longsor di wilayah Jabodetabek.

"Saat ini, BNPB masih terus melakukan pendataan dari berbagai sumber dan kemungkinan jumlah korban bisa bertambah," ujar Kapusdatinkom BNPB, Agus Wibowo, dalam siaran persnya.

Berdasarkan data dari BNPB, 3 dari 16 korban meninggal dunia akibat mengalami hipotermia. Umumnya, hipotermia terjadi saat tubuh mengalami kontak dengan suhu dingin dalam waktu yang terlalu lama.

Pada kondisi ini, tubuh tidak mampu menghasilkan panas yang cukup untuk melawan panas yang hilang karena paparan suhu dingin. Dalam keadaan normal, suhu tubuh manusia berada di angka sekitar 37 derajat Celcius. Hipotermia dapat membuat panas tubuh merosot jauh di bawah angka tersebut.

Warga di lokasi banjir di jalan Pesanggarahan Raya, Kembangan Selatan. Foto: Abyan Faisal Putratama/kumparan

Dilansir Medical News Today, hipotermia biasanya disebabkan seseorang terlalu lama terpapar suhu rendah, tidak mengenakan baju hangat yang layak saat cuaca dingin, atau terlalu lama berada di dalam air. Beberapa kondisi tersebut biasa terjadi saat banjir.

Gejala-gejala hipotermia

Hipotermia ditandai dengan beberapa gejala ringan hingga berat sebagai berikut.

Gejala ringan:

- Pusing

- Lapar dan mual

- Kesulitan berbicara

Gejala sedang sampai parah:

- Berhenti menggigil

- Bicara tidak jelas atau meracau

- Kebingungan

- Mengantuk

- Tidak bisa fokus

- Denyut nadi lemah

Gejala berat:

- Kehilangan kesadaran mental, sehingga seseorang tidak menyadari apa yang sedang ia lakukan.

Mengapa hipotermia membahayakan nyawa?

Dalam keadaan sehat, tubuh menghasilkan panas selama proses metabolisme rutin dalam sel yang mendukung fungsi vital seluruh organ tubuh. Namun, jika tubuh kehilangan panas lebih cepat secara tidak normal, seperti pada kondisi hipotermia, suhu inti tubuh akan turun drastis.

Ilustrasi termometer untuk ukur suhu tubuh. Foto: Shutterstock

Jika lingkungan menjadi lebih dingin, tubuh akan menggigil. Reaksi tubuh pun mulai melambat. Tanda kondisinya semakin memburuk ketika tubuh berhenti menggigil. Seseorang akan mulai memasuki fase hipotermia ketika ia menjadi lebih sulit untuk berpikir dan bergerak.

Tak sampai di situ, beberapa kerja organ tubuh mulai terganggu. Aktivitas jantung dan otak yang paling sensitif terhadap suhu dingin pun berangsur melambat. Seiring suhu tubuh yang semakin menurun, mulai terjadi kegagalan beberapa organ vital, hingga akhirnya menyebabkan kematian.

Pencegahan hipotermia

Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah hipotermia, terutama saat kondisi banjir:

- Usahakan selalu memakai pakaian yang kering

- Mengenakan beberapa lapis pakaian untuk menjaga suhu tubuh tetap hangat

- Mengonsumsi makanan dengan jumlah kalori yang cukup karena cadangan lemak dapat memproteksi tubuh dari cuaca dingin

- Hindari minuman beralkohol karena kandungannya dapat menyebabkan suhu tubuh menurun drastis