kumparan
8 November 2019 20:39

Fuzhou China Open: Antonsen Jegal Jonatan Christie di Perempat Final

Fuzhou China Open 2019, Jonatan Christie, POTRAIT
Pemain tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie, di Fuzhou China Open 2019. Foto: Dok. PBSI
Tidak akan ada Jonatan Christie di semifinal Fuzhou China Open 2019. Kepastian ini didapat usai menutup laga perempat final pada Jumat (8/11/2019) dengan kekalahan.
ADVERTISEMENT
Tunggal putra Denmark, Anders Antonsen, menghentikan langkah Jonatan lewat kemenangan 21-16 dan 21-11. Itu berarti, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang berlaga di semifinal pada Sabtu (9/11/2019).
Reli sengit dalam tempo tanggung menjadi pembuka duel. Antonsen melepaskan rangkaian pukulan yang menyasar area yang berlawanan dengan sisi forehand Jonatan. Taktik itu berhasil. Jonatan acap kesulitan sehingga memberi ruang yang luas bagi lawan untuk memimpin 3-1.
Jonatan mulai bertindak. Jika lawan bermain cerdas, ia harus bermain lebih cerdas. Penempatan cerdik menjadi senjata. Dengan cara ini, Jonatan menyamakan kedudukan jadi 3-3.
Sayangnya, dua kesalahan beruntun Jonatan yang membuat shuttlecock dinyatakan out membuat Antonsen memimpin 5-3.
Jonatan masih belum dapat keluar dari tekanan Antonsen. Wakil Denmark ini dengan leluasa mendikte Jonatan dan membukukan keunggulan 11-6 di interval.
ADVERTISEMENT
Laga masih berjalan satu arah usai interval. Ini ditandai dengan keunggulan Antonsen yang melebar hingga 14-6.
Berhitung mundur sedikit, smash Jonatan dalam kedudukan 6-12 terlihat meyakinkan. Sayangnya, ketajaman pukulan itu tidak berkawan dengan akurasi. Bukannya mendapat angka, Jonatan malah kehilangan angka karena shuttlecock out.
Fuzhou China Open 2019, Jonatan Christie
Pemain tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie, di Fuzhou China Open 2019. Foto: Dok. PBSI
Torehan angka Jonatan akhirnya bertambah justru saat Antonsen sedang menggempur dengan tubian jumping smash. Pengembalian Antonsen membuat shuttlecock membentur net. Eror itu mengubah kedudukan jadi 7-14.
Permainan Antonsen juga tidak lepas dari eror. Misalnya, saat ia memimpin 15-7. Pengembaliannya membuat shuttlecock membentur net, padahal ia sedang dalam situasi menekan Jonatan saat itu.
Reli panjang dalam kedudukan 8-15 berpihak untuk Jonatan. Duel yang dibangun lebih dari 20 pukulan itu berakhir dengan torehan poin untuk Jonatan.
ADVERTISEMENT
Antonsen meladeni perlawanan Jonatan dengan melepaskan rentetan pukulan tanggung yang jangkauannya bervariasi. Jonatan menyetop reli dengan pengembalian pendek yang menyasar sudut depan net. Penempatan shuttlecock itu cerdik karena sekilas terlihat seperti di belakang garis.
Tertinggal 11-17, Jonatan merapatkan jarak menjadi 14-17. Dua poin pertama karena Antonsen gagal mengangkat shuttlecock. Poin yang menggeser skor 13-17 jadi 14-17 akibat smash Antonsen membuat shuttlecock mencium net.
Torehan angka Jonatan terhenti lagi. Antonsen menyelesaikan reli dengan jumping smash kencang yang tidak mampu dikembalikan Jonatan. Itu berarti, ia memimpin 18-14.
Keunggulan Antonsen tidak cepat buyar. Ia berhasil mempertahankan jarak dan menyelesaikan gim pertama dengan kemenangan 21-16.
Jonatan membuka gim kedua dengan meyakinkan. Ia bahkan berhasil mengubah keunggulan 4-2 menjadi 5-2 lewat sergapan depan net.
ADVERTISEMENT
Konsistensi merawat keunggulan adalah pekerjaan utama yang betul-betul mesti dituntaskan Jonatan. Tertinggal 2-5, Antonsen mampu menyamakan kedudukan jadi 5-5.
Fuzhou China Open 2019, Jonatan Christie
Pemain tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie, di Fuzhou China Open 2019. Foto: Dok. PBSI
Setelahnya, duel berjalan alot. Kedudukan acap imbang hingga 8-8.
Kedudukan ini ternyata menjadi tapal batas bagi lesakan performa Antonsen. Ia meraih empat poin beruntun dan menggiring skor pada kedudukan 12-8.
Setelahnya laga berjalan searah. Jonatan kesulitan mengembangkan permainan. Di sisi lain, Antonsen dengan bebas menarik Jonatan masuk dalam permainannya. Dari situ, Antonsen melebarkan jarak hingga 15-10.
Jonatan memang masih bisa mengubah skor 10-17 menjadi 11-17. Namun, itu menjadi torehan terakhirnya di Fuzhou. Antonsen tetap berhasil merawat keunggulan. Tidak hanya sebatas 18-11, tetapi mengonversi match point 20-11 menjadi 21-11.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan