Mengabadikan Manu Ginobili, Mengerek Seragamnya ke Langit-langit

kumparanSPORTverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Manu Ginobili pensiun dari bola basket. Foto: Getty Images/Doug Pensinger
zoom-in-whitePerbesar
Manu Ginobili pensiun dari bola basket. Foto: Getty Images/Doug Pensinger

James Silas, Johnny Moore, George Gervin, Sean Elliott, David Robinson, Avery Johnson, Bruce Bowen, Tim Duncan, dan kini, Manu Ginobili. Jumat (29/3/2019) siang WIB, dalam seremoni yang dilangsungkan di AT&T Center, San Antonio, Ginobili menjadi pemain San Antonio Spurs kesembilan yang jersinya dipensiunkan. Kostum bernomor 20 itu pun kini resmi menggantung di langit-langit arena.

Ginobili memutuskan pensiun pada akhir musim 2017/18 pada usia 41 tahun. Spurs memang bukan tim pertama yang dibela pria Argentina ini, tetapi tim asal Texas itu adalah satu-satunya yang pernah diperkuatnya di NBA. Selama 16 musim, dari 2002 sampai 2018, Ginobili berhasil membawa Spurs juara NBA empat kali, yaitu pada 2003, 2005, 2007, dan 2014.

Ginobili memulai karier basket profesionalnya pada 1995 bersama Andino Sport Club. Usianya ketika itu baru 18 tahun. Dari sana dia pindah ke Estudiantes de Bahia Blanca sebelum akhirnya hijrah ke Italia. Selama di Italia Ginobili bermain untuk dua tim, Viola Reggio Calabria dan Virtus Bologna. Bersama Bologna, namanya mencuat berkat keberhasilan merengkuh gelar EuroLeague —semacam Liga Champions untuk basket.

Sebenarnya, sejak 1999 Ginobili sudah masuk dalam NBA Draft sebagai pilihan ke-57. Akan tetapi, baru tiga tahun kemudian shooting guard bertinggi 198 cm ini bergabung dengan Spurs besutan Gregg Popovich. Ginobili bergabung setahun setelah Spurs mendapatkan pemain dari kompetisi Eropa lainnya, Tony Parker.

Jersi Manu Ginobili dan Tim Duncan di langit-langit AT&T Center. Foto: Reuters/Soobum Im

Selama berkarier di NBA, Ginobili dikenal karena beberapa hal. Pertama, tentu saja, karena kolaborasinya dengan Parker dan Duncan. Trio itu diberi julukan The Big Three dan pada 2015 silam mereka mencatatkan rekor sebagai trio dengan jumlah kemenangan terbanyak di NBA. Total, mereka bertiga mampu mencatatkan 541 kemenangan.

Selain karena afiliasinya dengan Parker dan Duncan, Ginobili juga tenar berkat gaya bermainnya yang unik. Laiknya pesepak bola, Ginobili doyan sekali 'menggocek' lawan-lawannya lewat gerakan bernama Euro Step. Menurut penuturannya sendiri, seperti dikutip dari Pounding the Rock, Euro Step adalah cara bertahan hidup di NBA.

"Itu kulakukan untuk menghindari pemain-pemain seperti Shaquille O'Neal dan Karl Malone. Kalau tidak, aku bisa celaka sendiri," tuturnya.

Ginobili bukan orang pertama yang melakukan Euro Step di NBA, tetapi dialah yang memopulerkannya. Pemain-pemain macam Dwyane Wade, James Harden, dan Giannis Antetokounmpo kemudian melanjutkan jejak itu dengan modifikasi personal mereka sendiri. Berkat gocekannya inilah, Ginobili kerap disamakan dengan Lionel Messi.

Elliott aalah satu dari mereka yang menyamakan Ginobili dengan Messi. Mantan small forward Spurs yang identik dengan nomor punggung 32 itu, dalam seremoni pemensiunan jersi Ginobili, menyatakan hal tersebut.

video youtube embed

Namun, Elliott bukan yang pertama berkata demikian. Sebelum itu, komparasi sudah acapkali dilakukan. Bahkan, Messi sendiri sudah mafhum akan keberadaan perbandingan itu. Mendengar itu, dengan rendah hati, Messi berkata, "Aku bangga ketika para jurnalis berkata bahwa Manu adalah Messi-nya basket. Namun, mereka seharusnya menyebut diriku sebagai Manu-nya sepak bola."

Ginobili memang begitu besar di Argentina. Maklum saja, pemain kidal ini adalah aktor penting dalam keberhasilan timnas basket negara tersebut meraih medali emas di Olimpiade Athena 2004. Itu merupakan pencapaian terhebat Timnas Basket Argentina sejak jadi juara dunia pada 1950 dan sampai sekarang capaian itu belum bisa lagi diulangi.

Keberhasilan Ginobili menjadi juara dunia itu mengantarkannya pada sebuah rekor unik. Bersama Bill Bradley yang kini menjadi anggota Senat Amerika Serikat, Ginobili jadi satu dari dua pebasket yang mampu mengawinkan gelar NBA, EuroLeague, dan Olimpiade.

Hal terakhir yang membuat nama Ginobili harum adalah kesediaannya untuk bermain sebagai pemain bench. Awalnya, ini bukan peran yang disediakan Popovich untuknya. Namun, Pop punya pertimbangan lain. Pada 2007, mantan serdadu Angkatan Udara itu menganggap bahwa Ginobili adalah sosok yang tepat untuk mengangkat permainan tim kedua Spurs. Maka, dibuatlah keputusan tersebut.

Dikutip dari news4sanantonio.com, Ginobili awalnya tidak nyaman dengan peran tersebut. Namun, ketidaknyamanan itu akhirnya enyah seiring dengan egonya yang meredup.

Tim Duncan, Tony Parker, dan Manu Ginobili. Foto: Getty Images/Jed Jacobsohn

"Aku butuh waktu lama untuk memahami keputusan itu. Namun, perlahan aku mulai mengerti peran yang dibebankan kepadaku. Semua itu dilakukan demi kebaikan tim. Aku sendiri selalu menikmati masa-masa sebagai pemain bench, kecuali waktu awal-awal tadi," katanya.

Kecuali pada final NBA edisi 2013, Ginobili menghabiskan sisa waktunya di Spurs sebagai pemain cadangan. Itu semua dilakukan Ginobili dengan penuh profesionalitas dan dedikasi sehingga di akhir kariernya dia bisa menjadi pemain dengan catatan tripoin terbanyak (1.495 poin), steal terbanyak (1.392), kemenangan terbanyak ketiga (897), assist terbanyak keempat (4.001), poin terbanyak kelima (14.043), dan rebound terbanyak kelima (3.697).

Ginobili juga menunjukkan kehebatan yang konsisten baik sebagai starter maupun pemain bench. Ini terbukti dengan keberhasilannya masuk NBA All-Star pada 2005 (sebelum jadi pemain bench) dan 2011 (saat sudah menjadi pemain bench). Pada 2008, Ginobili juga meraih penghargaan Sixth Man of the Year alias pemain cadangan terbaik.

Kini, dengan dipensiunkannya jersi nomor 20 miliknya, Ginobili pun sudah papripurna menjadi legenda San Antonio Spurs, juga legenda bola basket dunia. Satu tempat di NBA Hall of Fame pun, konon, sudah disiapkan untuk mengabadikan dirinya. Gracias, Manu!