Mengadili Tujuh Usulan Radikal Van Basten yang Lain

kumparanSPORTverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Marco van Basten yang radikal (Foto: Dean Mouhtaropoulos/Getty Images)
zoom-in-whitePerbesar
Marco van Basten yang radikal (Foto: Dean Mouhtaropoulos/Getty Images)

Sepak bola yang kini kita kenal sedang berada dalam "ancaman", dan FIFA selaku badan tertinggi yang mengurusi olahraga satu ini adalah biang keladinya. Lewat Marco van Basten yang kini menjabat sebagai direktur teknik, organisasi bentukan Jules Rimet tersebut telah mengusulkan berbagai perubahan radikal.

Setelah memutuskan untuk menambah jumlah peserta Piala Dunia menjadi 48 negara mulai tahun 2026 mendatang, berbagai usulan terus bermunculan dari mulut Van Basten. Salah satu usulan mantan penyerang Milan dan Tim Nasional (Timnas) Belanda tersebut adalah soal penghapusan offside. Menurut Van Basten, menghapuskan offside akan membuat gol lebih mudah tercipta dan pertandingan pun semakin asyik untuk disaksikan.

Penghapusan offside itu bukan satu-satunya usulan dari Marco van Basten. Total, ada delapan rencana perubahan yang diusulkan oleh pria 52 tahun tersebut.

Dalam tulisan ini, kumparan berusaha untuk memberi penilaian terhadap usulan-usulan Van Basten tersebut. Perlu diketahui, kami sudah dengan tegas menolak usulan penghapusan offside, tetapi kami mencoba untuk memberi kesempatan pada Van Basten dengan mendedah tujuh usulan yang lain.

(Baca: 'Membunuh' Sepak Bola ala Marco van Basten)

1. Membatasi Jumlah Pertandingan bagi Tiap Pemain

Banyaknya jumlah pertandingan di Inggris, terutama dengan tiadanya jeda musim dingin dan dua piala domestik, seringkali menjadi kambing hitam atas buruknya prestasi Timnas Inggris di kancah internasional. Kelelahan jelas menjadi faktor penting mengapa banyak pemain seringkali tidak tampil optimal pada ajang antarnegara. Kewajiban bertanding di kompetisi antarklub level benua seperti Liga Champions dan Liga Europa juga membuat para pemain, khususnya pemain-pemain top, makin terkuras saja tenaganya.

Van Basten menilai jika pemain-pemain tersebut bermain sampai 75 kali dalam setahun, hal itu akan berakibat buruk bagi kualitas permainan sepak bola secara keseluruhan. Maka dari itu, Van Basten mengusulkan bahwa jika dalam setahun, jumlah pertandingan yang bisa diikuti seorang pemain berhenti di angka 55 atau 60.

Usulan ini, menurut kami adalah usulan yang bagus dan beralasan. Akan tetapi, pertanyaannya adalah, apakah klub-klub bersedia untuk mengorbankan prestasi mereka karena harus mengistirahatkan para pemain bintangnya?

2. Mengubah Dua Babak menjadi Empat Kuarter

Bagi kami, usulan ini terdengar menarik sekaligus membingungkan. Menarik, karena dengan keberadaan empat kuarter, artinya akan ada tiga jeda. Hal itu akan membuat para pemain yang berlaga bisa mendapat lebih banyak waktu rehat dan dinamika pertandingan akan semakin kaya karena para pelatih akan lebih punya banyak kesempatan untuk mengubah taktik serta instruksi.

Akan tetapi, salah satu ciri khas sepak bola adalah permainan yang jarang sekali putus. Apabila nantinya jeda ditambah, momentum pertandingan akan sering hilang. Akibatnya, taktik yang diinstruksikan pun akan sulit berfungsi karena dengan 2x45 menit pun tak jarang sebuah tim membutuhkan waktu lama untuk bisa menjalankan apa yang diminta secara menyeluruh.

Selain itu, satu hal yang perlu diingat Van Basten adalah pertandingan sepak bola ini berjalan selama 90 menit dan 90 dibagi 4 adalah 22,5. Agak aneh bukan jika sebuah pertandingan berjalan selama 22,5 menit kemudian dihentikan? Setengah menitnya itu, lho.

Terakhir, keberadaan tiga jeda tersebut juga akan membuat iklan lebih mudah untuk masuk seperti pada olahraga-olahraga Amerika Serikat. Nah, kami tidak yakin apakah usulan ini murni dari Van Basten atau hanya pesanan Gianni Infantino yang mata duitan itu. Maka dari itu, sampai ada detail yang lebih lengkap mengenai perkara ini, kami menyatakan bahwa usulan ini meh.

3. Lima Pelanggaran Cukup

Meski terdengar seperti slogan Keluarga Berencana, usulan Marco van Basten ini sebetulnya menarik. Bagi seorang pemain yang kariernya berakhir dini karena terus-terusan ditebas pemain musuh, usulan ini mudah sekali dipahami.

Untuk melindungi pemain (bintang), jumlah pelanggaran tentu harus diminimalisasi. Selama ini, sepak bola sudah memberlakukan hukuman kartu yang lebih tegas untuk menghindari angka pelanggaran yang terlalu tinggi. Hal ini sebetulnya sudah cukup berhasil mengingat pada zaman sekarang ini sudah tak ada lagi tekel-tekel ala Vinnie Jones di sepak bola level tertinggi.

Akan tetapi, pelanggaran kadang sifatnya subjektif. Terkadang, penilaian wasit yang satu dengan wasit lainnya soal pelanggaran ini berbeda. Hal inilah yang membuat aturan ini agak sulit untuk diterapkan.

4. Sin Bin dan Kartu Oranye

Menyambung dari poin sebelumnya, jika Anda bertanya soal pemain yang sudah kena lima pelanggaran akan ditindak seperti apa, sin bin-lah jawabannya.

Sin Bin (Penalty Box) dalam olahraga hoki es (Foto: Bruce Bennett/Getty Images)
zoom-in-whitePerbesar
Sin Bin (Penalty Box) dalam olahraga hoki es (Foto: Bruce Bennett/Getty Images)

Sin bin ini adalah sebuah tempat di mana seorang pemain yang sudah melakukan lima pelanggaran akan duduk selama 10 menit (untuk merenungi perbuatannya). Ide soal sin bin ini sendiri dipinjam Van Basten dari olahraga rugbi dan hoki. Nah, selain untuk tempat merenung pemain yang sudah lima kali melakukan pelanggaran, sin bin juga akan menjadi tempat bagi pemain yang mendapatkan kartu oranye.

Bicara soa kartu oranye, berarti bicara soal spektrum warna. Seperti kita tahu, warna oranye adalah perpaduan dari warna merah dan kuning. Di spektrum warna, oranye pun berada di antara kuning dan merah.

Logika yang sama berlaku di sepak bola. Terkadang, ada pelanggaran yang tidak cukup keras untuk diberi kartu merah tetapi pemberian kartu kuning dianggap terlalu lunak. Kartu oranye pun jadi solusi.

Bagi kami, ide ini sangat menarik dan layak untuk dicoba. Akan tetapi, detail lanjutan juga masih dibutuhkan. Pasalnya, selama ini dua kartu kuning sama dengan satu kartu merah dan itu adalah matematika sederhana. Dengan keberadaan kartu ketiga ini, hitung-hitungan bobotnya lantas bagaimana? Inilah yang masih perlu dielaborasi lebih jauh lagi oleh Van Basten.

5. Dilarang Buang-buang Waktu di 10 Menit Terakhir

Marco van Basten mengusulkan agar di 10 menit terakhir, jika bola berada dalam posisi dorman selama lebih 10 detik atau lebih, maka hitungan waktu akan dihentikan. Pasalnya, di menit-menit krusial ini, aksi buang-buang waktu seringkali jadi opsi nomor wahid, terutama jika tim sedang berada dalam posisi yang menguntungkan.

Cara buang-buang waktu ini pun sangat bervariatif, mulai dari pura-pura cedera, pura-pura mengikat tali sepatu, sampai melakukan pergantian pemain. Bagi tim yang sedang tertinggal atau berusaha keras mengejar kemenangan, hal macam itu tentu menyebalkan sekali.

Kami menyukai ide ini karena dengan diberlakukannya aturan macam ini, para pemain dan pelatih pun akan dituntut untuk bekerja lebih keras. Selain itu, lewat usulannya ini, kami yakin Marco van Basten akan berjasa mengurangi dosa banyak orang yang mengumpat karena tim lawan buang-buang waktu.

6. Babak Tambahan? Apa Itu?

Akui saja, babak tambahan selama 30 menit itu membosankan, bukan? Nah, Marco van Basten punya solusinya.

Alih-alih masuk babak tambahan dan adu penalti (kalau pemenang belum ada), mengapa tidak langsung masuk ke babak adu penalti?

Tetapi, adu penalti yang diusulkan Van Basten bukan adu penalti yang biasa, melainkan adu penalti ala olahraga hoki yang sebelumnya sudah pernah dilakukan di North American Soccer League era Pele dan Beckenbauer. Dalam adu penalti tersebut, seorang pemain diharuskan menggiring bola 25 meter dari gawang dan berhadapan dengan kiper yang tak boleh keluar kotak penalti. Namun, untuk setiap "penalti", waktu yang diberikan hanya delapan detik.

video youtube embed

Dengan contoh seperti itu, bagaimana bisa kami berkata tidak?

7. 8v8 untuk Sepak Bola Anak-anak

Marco van Basten memang pada akhirnya merupakan orang yang mengerti sepak bola karena usulan ini adalah usulan yang brilian. Menurut Van Basten, dengan bermain 8v8, anak-anak akan lebih sering menyentuh bola dan hal ini lebih baik untuk perkembangan mereka.

Untuk hal ini, kami pun setuju karena di kaki-kaki mungil itulah sorak sorai kami di masa depan tersimpan.