Rokok Elektrik Juul Uji Aplikasi Pelacak Kadar Konsumsi Nikotin

Perusahaan rokok elektrik Juul Labs mendompleng popularitas yang cukup besar di Amerika Serikat. Menyusul kesuksesan itu, kini perusahaan hadir di Indonesia untuk menyasar 67 juta perokok dewasa.
Didirikan oleh Adam Bowen dan James Monsees, Juul hadir sebagai alternatif rokok konvesional dengan teknologi yang modern. Misi perusahaan sendiri ialah untuk meningkatkan kualitas hidup satu miliar perokok dewasa di dunia.
Tak selesai dengan menciptakan perangkat rokok elektrik, Juul juga ingin memperluas ekosistem produk dengan mengembangkan aplikasi yang terhubung ke perangkat. Aplikasi itu berfungsi untuk melacak seberapa sering pengguna menghirup nikotin pot Juul.
Saat ini, aplikasi bernama Juul C1 itu sedang diuji coba di Kanada dan Inggris. Belum bisa dipastikan kapan aplikasi itu resmi diluncurkan dan hadir di Indonesia. Reza Amirul Juniarshah, Head of Communications Juul Labs mengatakan, aplikasi itu masih dalam tahap penyempurnaan.
Tidak diketahui juga alasan uji coba aplikasi Juul C1 dilakukan di dua negara tersebut, namun Reza berkata besar kemungkinan besar hal itu karena Kanada dan Inggris memiliki karakteristik pengguna yang sesuai untuk uji coba tersebut.
“Di Kanada dan di UK (Inggris) sudah launching pilot project untuk supaya device ini connected ke smartphone. Nah, fungsinya kita bisa tahu konsumsinya berapa banyak dalam satu hari,” ungkap Reza di sela acara peluncuran toko ritel pertama Juul di Jakarta, Selasa (3/9).
“Kita berharapnya bisa direalisasikan di manapun, termasuk Indonesia, tapi belum ada rencana konkritnya.”
Ke depannya, Reza mengatakan kalau Juul akan memberikan fungsi lain ke dalam aplikasi, yakni verifikasi umur. Dengan adanya fitur itu, Juul bisa semakin memperketat kebijakan penggunaan rokok elektrik mereka yang hanya boleh digunakan oleh perokok di atas 18 tahun.
Verifikasi umur tersebut dilakukan dengan cara menyesuaikan data pengguna Juul dengan identitas diri, seperti KTP atau SIM. Jika umur pengguna masih di bawah 18 tahun, perangkat Juul yang terintegrasi dengan aplikasi via Bluetooth tidak bisa nyala.
“Ke depannya, kalau enggak age verify connect ke Bluetooth itu, enggak akan bisa dipakai. Jadi untuk mencegah penyalahgunaan oleh remaja. Intinya yang lebih ketatnya agar enggak digunakan sama remaja. Jadi, kalau misalnya ID KTP enggak bisa diverifikasi, itu enggak akan bisa dipakai device-nya,” jelas Reza.
Juul sendiri memang punya aturan yang ketat soal penggunaan produknya di masyarakat. Untuk pembelian perangkat di toko resminya saja, ada prosedur verifikasi yang ketat untuk mencegah siapapun yang berusia di bawah 18 tahun membeli perangkat Juul. Pengunjung akan diminta memperlihatkan KTP atau SIM.
Selain itu, pengunjung juga harus membayar Rp 5.000 untuk tiap 20 kali hisap pot Juul. Alasannya, karena Juul tidak mau memberikan secara gratis tiap nikotin yang dikonsumsi oleh pelanggan yang datang.
Sebelumnya, Juul sempat mendapatkan banyak kritik karena produknya laris manis di kalangan remaja setelah meluncurkan iklan dan media sosial resmi. Sejak saat itu, perusahaan sadar bahwa media sosial bukanlah tempat yang tepat untuk mempromosikan produk untuk perokok dewasa.
Belajar dari kesalahan itu, Juul kini berhati-hati dalam memasarkan produknya, dengan hanya menargetkan perokok dewasa dan tidak menjual perangkatnya untuk pengguna yang masih di bawah umur.
Perusahaan juga bekerja sama dengan pihak berwajib untuk memperketat aturan dan menerapkan perjanjian dengan para distributor untuk melarang keras pengunjung di bawah umur memasuki toko resmi atau mencoba produk. Jika melanggar, Juul tidak akan segan memutuskan kemitraan dengan pihak distributor.
Di Indonesia sendiri, Juul telah memiliki dua kios di Pacific Place, Jakarta, dan Beachwalk Shopping Center, Bali. Selain itu, produk ini juga tersedia di Alfamart, Circle K, Minimart, Shell Select, dan Pepito. Begitu juga dengan toko rokok elektrik dan gerai F&B di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali.
