Begini Wujud Rumah Pengasingan Cut Nyak Dien di Sumedang
ยทwaktu baca 3 menit

Seabad lalu, Sumedang menjadi tempat peristirahatan seorang pejuang perempuan asal Tanah Rencong, Cut Nyak Dien. Ia diasingkan oleh Belanda pada 1906, karena tak mau tunduk.
Semasa hidup, Cut Nyak Dien tak berpangku tangan melihat warganya di Aceh disiksa dan ditindas. Ia menolak jadi budak, dan memimpin pasukan untuk bergerilya, melawan tentara Belanda.
Bersama dengan sang suami, Teuku Umar, Cut Nyak Dien bergabung dalam barisan rakyat Aceh. Sayang, sang suami mesti lebih dulu mengakhiri perjuangan demi menghadap Sang Khalik akibat dua butir peluru yang merajamnya.
Ditinggal suami tak bikin semangat Cut Nyak Dien pupus. Dia makin berani. Apalagi Teuku Umar bukan satu-satunya suaminya yang meninggal karena ulah Belanda.
Suami pertamanya, Teuku Cek Ibrahim Lamnga juga bernasib serupa. Bersama dengan pasukan kecilnya, perempuan inspiratif dari Aceh itu bertempur dengan Belanda di pedalaman Meulaboh.
Namun, seiring dengan usia yang kian menua dan kondisi fisik yang tak lagi prima, keberadaan Cut Nyak Dhien lantas dilaporkan pada Belanda oleh orang kepercayaannya sendiri yang bernama Pang Laot.
Pang Laot menyerahkan Cut Nyak Dien pada Belanda karena ia merasa tak tega. Untuk itu, ia meminta pada Belanda agar memberikan perawatan yang baik bagi wanita keturunan Sultan Aceh itu.
Cut Nyak Dien diasingkan ketika usianya mencapai 58 tahun. Ia 'dibuang' Belanda ke Sumedang agar tak bisa berkomunikasi dengan pejuang Aceh lainnya. Ia diasingkan ke sebuah rumah milik salah satu tokoh Sumedang di masa itu, KH Ilyas.
Rumah pengasingannya berada di Kampung Kaum, Kelurahan Regol Wetan. Jaraknya tak jauh dari Masjid Agung Sumedang. Rumah didominasi kayu dan anyaman berwarna coklat tua.
Di dalamnya, kamu bisa menemukan tujuh ruangan. Empat di antaranya kamar tidur, satu ruang pengajian, satu ruang tamu, dan satu ruang keluarga.
Di halaman depan, terpampang plang bertuliskan "Bekas Rumah Tinggal Cut Nyak Dien Sumedang". Selama sisa hidupnya, Cut Nyak Dien menjadi pendakwah. Ia dikenal sebagai ustazah karena kepiawaiannya mengajar mengaji dan menghapal Alquran.
Ia tak lagi mengangkat rencong, tetapi melawan dengan ayat-ayat kitab yang menyejukkan. Tidak heran, nama Cut Nyak Dien justru malah hilang popularitasnya di Sumedang. Ia kemudian lebih dikenal sebagai Ibu Suci atau Ibu Prabu.
Pada 6 November 1908, Cut Nyak Dien menghembuskan napas terakhirnya. Ia meninggal di usianya yang ke-60 tahun. Hanya berkisar dua tahun sejak pengasingannya dimulai.
Rumah yang sempat ia tinggali semasa pengasingan lantas dijadikan sebagai cagar budaya yang dilindungi oleh Badan Pelestarian Cagar Budaya wilayah DKI Jakarta, Lampung, Jawa Barat, dan Banten.
Hingga kini rumah tersebut masih bisa kamu temukan di Sumedang. Bangunannya memang tak lagi asli setelah roboh dan rata dengan tanah akibat gempa Tasik pada 2009 silam.
Namun, potret sang pahlawan tetap dapat kamu temukan di dalamnya bersama dengan kisah perjuangan sang putri dari Tanah Rencong. Tertarik berkunjung ke rumah pengasingan ini?
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)
***
Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.
