Bikin Penumpang Patah Tulang, Roller Coaster Tercepat di Dunia Ditutup
·waktu baca 3 menit

Roller Coaster tercepat di dunia, Do-Dodonpa yang berada di Jepang dilarang beroperasi setelah banyak insiden patah tulang yang dialami penumpang.
Roller coaster yang ada di Fuji-Q Highland Park memiliki kecepatan maksimum “super death”. Dilansir UNILAD, setidaknya sudah ada enam penumpang Do-Dodonpa yang menderita patah tulang sejak Desember lalu. Empat di antaranya mengeluhkan patah tulang di bagian leher dan punggung.
Pihak berwenang terkejut saat menerima laporan terkait peristiwa tersebut pada 17 Agustus lalu. Pengelola taman rekreasi tengah menyelidiki penyebab penumpang mengalami patah tulang usai menaiki wahana mereka.
Dibangun pada 2001, wahana yang meluncur dengan kecepatan 0 hingga 180 kilometer per jam dalam 1,56 detik, menjadikannya roller coaster dengan akselerasi tercepat di dunia. Pihak taman bermain mengungkapkan, ini pertama kalinya penumpang patah tulang sejak beroperasi 20 tahun lalu.
Kecepatan maksimum awal Do-Dodonpa adalah 172 kilometer per jam, tapi ditingkatkan menjadi 180 kilometer per jam pada 2017. Namun, pengelola sebelumnya tak pernah menerima laporan cedera serius, seperti patah tulang.
Pihak Fuji-Q Highland menjelaskan, hasil penyelidikan awal tidak menunjukkan adanya masalah teknis. Perusahaan pembuat wahana, Sansei Technologies, menyampaikan permintaan maaf kepada para penumpang yang terluka. Namun, mereka sendiri bingung dengan penyebabnya.
Jarang ada penumpang yang terluka saat menaiki roller coaster. Terakhir kali terjadi kecelakaan fatal di Jepang akibat wahana tersebut yaitu pada 2007. Saat itu, roller coaster di Expoland, Osaka, menabrak pagar pembatas karena as roda salah satu gerbong patah.
Naoya Miyasato, profesor arsitektur Universitas Nihon yang mempelajari desain roller coaster, mengatakan kecelakaan yang menyebabkan patah tulang tidak pernah terjadi sebelumnya.
“Desain roller coaster wajib memenuhi standar yang ditetapkan pemerintah, sehingga aneh ada banyak laporan serupa,” katanya.
Meskipun Pemerintah Jepang belum menemukan penyebabnya, Miyasato menduga ada masalah dengan akselerasi roller coaster yang terlalu cepat. Pada kecepatan maksimum, wahana bergerak tiga kali lipat lebih cepat daripada gaya gravitasi—sebanding dengan gaya gravitasi yang dialami astronaut saat roket meluncur.
“Penumpang akan mengalami cedera jika tidak dapat menahan akselerasi. Mungkin seperti ini kejadiannya,” tutur Miyasato.
Selain itu, Miyasato memprediksi cedera tersebut bisa disebabkan oleh cara duduk penumpang yang salah. Satu di antara penumpang yang mengalami cedera setelah naik Do-Dodonpa diketahui duduk di barisan depan.
Sama seperti kebanyakan roller coaster berkecepatan tinggi, penumpang Do-Dodonpa wajib bersandar di tempat duduk dan mengenakan penahan bahu agar tidak ada jarak dengan punggung.
Berdasarkan laporan surat kabar Mainichi Shimbun, seorang penumpang yang mengalami patah tulang menduga dia duduk terlalu maju saat naik roller coaster.
Data Asosiasi Taman Hiburan dan Atraksi Internasional menunjukkan, kemungkinan terjadi cedera serius akibat roller coaster di taman bermain sekitar satu dibanding 15,5 juta permainan.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona).
