Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.99.0

ADVERTISEMENT
Pesona bunga sakura memang sangat lekat dan tak bisa dipisahkan dari Jepang. Sakura bahkan menjadi bunga nasional dan juga julukan bagi Jepang, Negeri Sakura. Sakura juga enggak cuma populer di Jepang saja, tapi juga di seluruh dunia.
ADVERTISEMENT
Enggak heran, ketika periode berseminya bunga sakura tiba wisatawan berlomba-lomba datang untuk melihat mekarnya bunga berwarna merah muda ini dan menikmatinya. Biasanya musim semi ini berlangsung mulai pertengahan Maret hingga April.
Periode ini selalu menjadi peak season untuk liburan. Mulai dari harga tiket pesawat hingga akomodasi naik melebihi harga normal. Saking istimewanya, saat musim semi, kamu akan melihat banyak orang berkumpul untuk piknik bersama untuk melihat sakura (hanami).
Sayangnya, untuk tahun ini, wisatawan maupun penduduk Jepang sendiri terpaksa melewatkan mekarnya bunga sakura dengan begitu saja. Alasannya tentu saja demi alasan kesehatan karena adanya pandemi COVID-19.
Tapi mengapa, sih, sakura sebegitu pentingnya bagi masyarakat Jepang? Padahal bunga yang memiliki rupa indah, kan, bukan cuma sakura?
ADVERTISEMENT
Usut punya usut, rupanya sakura awalnya 'terpilih' karena adanya unsur ketidaksengajaan. Dilansir Japan Talk, sebenarnya di masa lalu, masyarakat China kuno menjadikan bunga plum sebagai simbol musim dingin dan musim semi.
Aktivitas mengapresiasi keindahan bunga plum kemudian menyebar sampai ke Jepang , terutama di antara keluarga kerajaan. Awal abad ke-8, tepatnya pada Periode Nara, setiap tahunnya kaisar Jepang mengadakan pesta mewah untuk melihat mekarnya bunga plum yang biasa bersemi pada bulan Februari.
Sayangnya, pada bulan Februari, cuaca Jepang masih terlalu dingin untuk mengadakan pesta mengamati bunga. Sementara bunga sakura yang memang merupakan tanaman asli mekar pada musim semi.
Sehingga pada abad ke-9, sakura menjadi bunga pilihan paling populer untuk dinikmati masyarakat Jepang. Setelah itu, selama bertahun-tahun, bunga sakura dikembangkan dan dibudidayakan secara selektif agar dapat mekar bersamaan dengan mulainya musim semi.
Tak butuh lama, akhirnya semua orang mulai jatuh cinta pada sakura. Mulai dari masyarakat biasa sampai keluarga kerajaan. Bahkan tentara zaman kerajaan Jepang atau yang lebih populer dikenal sebagai samurai juga tak sanggup mengindahkannya.
ADVERTISEMENT
Zaman Edo (1603-1868) adalah periode terlama di Jepang dengan situasi politik yang relatif stabil dan ekonomi yang mulai bertumbuh. Jalan-jalan mulai dibangun, para petani jadi punya akses untuk menjual hasil bumi mereka.
Hanami tak lagi jadi sekadar atraksi di mana orang-orang hanya bisa melihat sakura saja. Muncullah beragam festival yang bersamaan dengan hanami. Hanami perlahan menjadi bagian dari budaya.
Di masa lalu, sakura juga dianggap sebagai penanda musim tanam bagi petani. Sebab sakura mekar pada musim semi, tepat ketika masyarakat Jepang merayakan tahun baru sesuai dengan kalender bulan.
Seperti yang diberitakan Tadaima Japan, mekarnya bunga sakura menjadi tanda bagi petani untuk segera menanam di sawahnya. Sejak saat itu, masyarakat Jepang percaya bahwa sakura memiliki hubungan dengan Dewa Padi.
ADVERTISEMENT
Itu juga yang menjadi alasan mengapa bunga merah muda itu dinamai sakura. Kata 'Sa' dalam sakura berarti padi, dan kata "Kura" diartikan sebagai singgasana dewa.
Oleh sebab itu, sakura berarti tempat kudus bagi Dewa Padi untuk tinggal. Para petani akan berdoa, membuat persembahan dan sajian untuk dijadikan sesajen, agar nantinya mereka mendapatkan panen yang melimpah.
Masyarakat Jepang juga percaya bahwa dewa-dewa yang hidup di pegunungan akan datang ke desa-desa ketika musim tanam dimulai. Mekarnya bunga sakura dianggap sebagai tanda bahwa dewa-dewa akan mulai datang dan mengunjungi desa-desa.
Setelah berkunjung, nantinya dewa-dewa akan kembali ke gunung dan memberkati orang-orang dengan hasil panen yang baik ketika musim gugur.
Selain itu, berseminya bunga sakura juga bertepatan dengan awal masuknya sekolah. Sehingga periode ini juga dianggap sebagai permulaan yang baru.
ADVERTISEMENT
Karena mekar satu kali dalam setahun dan hanya bertahan sekitar satu hingga dua minggu, sakura juga kerap dianggap sebagai simbol kehidupan dan kefanaan. Seakan menggambarkan filosofi Buddha yang menyatakan bahwa segala sesuatunya hanya sementara.
Orang-orang akan berubah dan datang silih berganti. Segala sesuatu yang dianggap baik dan indah pada akhirnya juga akan berlalu.
Sakura kemudian banyak disematkan dalam karya seni dan sastra Jepang. Mulai dari lagu, puisi, prosa, hingga lukisan. Sakura menggambarkan harapan dan mengajarkan manusia tentang kebahagian di dalam hidup.
Wah, maknanya dalam sekali, ya. Kamu sendiri, sudah pernah melihat bunga sakura langsung di Jepang, belum?
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona )
ADVERTISEMENT
***
Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.