Kumparan Logo

Kampoeng Batik Laweyan Tawarkan Paket Wisata 4 in 1

kumparanTRAVELverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kampoeng Batik Laweyan, Solo, Jawa Tengah (Foto: Flickr / Agus Susanto 82)
zoom-in-whitePerbesar
Kampoeng Batik Laweyan, Solo, Jawa Tengah (Foto: Flickr / Agus Susanto 82)

Solo tak hanya terkenal dengan Keraton Surakartanya saja, namun ada juga Kampoeng Batik Laweyan yang wajib dikunjungi saat berpetualang di Kota Bengawan. Salah satu destinasi wisata ini juga merangkap sebagai cagar budaya sekaligus pusat industri batik yang berada di Kawasan Laweyan, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah.

Kampoeng Batik Laweyan menyajikan one package atau 4 in 1 destination, artinya siapa pun yang berkunjung bisa wisata belanja, wisata budaya, wisata sejarah dan wisata edukasi dalam satu lokasi. Maka dari itu, Kampoeng Batik Laweyan menjadi salah satu kawasan heritage di Solo yang layak dikunjung saat berpelesir ke The Spirit of Java.

Pengrajin Batik di Kampoeng Batik Laweyan Sedang Mengecap (Foto: Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Pengrajin Batik di Kampoeng Batik Laweyan Sedang Mengecap (Foto: Istimewa)

"Laweyan adalah salah satu destinasi wisata belanja batik di Solo, tapi selain itu ada potensi lainnya di Laweyan yang ternyata tidak banyak orang tahu," ujar Danang, Wakil Direktur Perusahaan Batik Pria Tampan, saat dihubungi kumparanTRAVEL, (2/10).

Misalnya, hampir semua rumah di Laweyan bisa dijadikan contoh arsitektur zaman dahulu. Karena rumah di sini ada yang sudah berdiri sejak tahun 1820an, dari zaman penjajahan Belanda sekitar 1920an, sampai pada zaman pergerakan nasional 1945 pun juga masih ada.

Salah Satu Gang yang Ada di Kampoeng Batik Laweyan (Foto: Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Salah Satu Gang yang Ada di Kampoeng Batik Laweyan (Foto: Istimewa)

Kemudian ada juga masjid kuno yang berdiri sejak tahun 1546 milik Ki Ageng Beluk. Ki Ageng Beluk merupakan sahabat Ki Ageng Henis yaitu salah satu tokoh pendiri kampung batik tertua di Indonesia ini.

Dahulu, Ki Ageng Beluk beragama Hindu dan masjid itu dahulunya adalah pura. Namun, setelah Ki Ageng Beluk mualaf, pura tersebut dijadikan masjid sekaligus pemerintah menetapkan bangunan tersebut menjadi cagar budaya.

Turis Asing Belajar Membatik di Kampoeng Batik Laweyan (Foto: Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Turis Asing Belajar Membatik di Kampoeng Batik Laweyan (Foto: Istimewa)

Selain bisa menikmati bangunan-bangunan ikonik, pengunjung juga bisa belajar serta belanja batik. Di sini tersebar lebih dari 50 kios batik yang dijual mulai Rp 150 ribu hingga Rp 10 juta, tergantung jenisnya. Sementara, ada juga beberapa toko yang membuka kursus membantik singkat untuk wisatawan.

"Ada juga beberapa toko membuka kursus membantik singkat, kira-kira bayar Rp 20 ribu bisa praktek nyanting di kain katun berukuran A4," imbuh Danang.

Lebih lanjut, kampung ini ramai di akhir pekan atau peak season, sementara di hari biasa tidak begitu ramai. Kebanyakan, wisatawan yang datang adalah turis lokal, sementara turis asing tidak begitu banyak.