Kumparan Logo

Memaknai Konsep Kelekak Sambil Dolan Durian di Bangka

kumparanTRAVELverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Durian Si Kunyit memiliki tekstur creamy dan rasa yang manis. Foto: Dok. Dzulfikri Putra Malawi
zoom-in-whitePerbesar
Durian Si Kunyit memiliki tekstur creamy dan rasa yang manis. Foto: Dok. Dzulfikri Putra Malawi

Awal tahun berganti dengan duka di beberapa kota. Banyak yang bersedih, tapi ada juga yang mampu beradaptasi.

Mencari penghiburan di tengah-tengah bencana banjir yang melanda di sejumlah titik Jabodetabek. Usai kondusif, perjalanan berburu durian ke Bangka akhirnya tetap dilakukan.

Berbekal informasi dari pegiat durian di media sosial, saya dan tiga teman seperjalanan yang terhimpun dari media sosial melakukan trip bersama, kami mengawali tahun 2020 dengan dolan durian!

Bersama pemandu lokal, pak haji Sampurno dan Ary Babel, kami diajak berkeliling Bangka Barat dan Bangka Tengah selama tiga hari. Mencari durian yang tersohor dari Bangka; Cumasi dan Supert Tembaga.

Durian Si Kapas di Kelekak milik Wirwanto memiliki rasa yang sangat manis dan tekstur lengket serta berukuran sekepalan tangan. Foto: Dok. Dzulfikri Putra Malawi

Hari pertama kami menuju Desa Tuik, Kecamatan Kelapa. 1,5 jam perjalanan dari Bandara Pangkal Pinang. Atmosfernya mirip perjalanan saya sebelumnya ke Pahang, Malaysia.

Sepanjang jalan mayoritas ditanami sawit. Kami masuk ke dalamnya dan menemukan perkebunan milik keluarga Wirwanto (29), ia generasi kedua.

Durian yang ia namai sendiri seperti Upin Ipin (karena bentuknya yang kecil) dan Si Kapas (karena bobotnya yang enteng) inilah yang kemudian menjadi dua durian yang menyita perhatian saya dan teman-teman. Kami semua sepakat, kedua durian tersebut unggulan di kebun miliknya.

Walaupun kecil hanya sekepalan tangan, tapi rasa, tekstur, dan warna bikin kami ngiler. Secara rasa, saya lebih suka Upin Upin karena lengket, lembut, dan punya manis pahit, serta biji yang kempet.

Namun, secara warna, Si Kapas lebih menarik. Dengan rasa dan tekstur yang serupa Upin Ipin tapi hanya dibalut pahit yang sangat tipis. Keduanya bikin hangat tenggorokan!

Wirwanto (29), pemilik hutan durian (Kelekak) di desa Tuik, kecamatan Kelapa, Bangka Barat dengan durian yang ia namai Upin Ipin. Foto: Dok. Dzulfikri Putra Malawi

Setelah disuguhi makan siang bintang lima dengan menu kakap dan kepiting segar lengkap bersama lalapan, sayur, dan sambal yang rasanya kelas restoran, kami kedatangan durian dari kebun lain.

Seseorang berbaju kuning itu bilang menempuh jarak 6 kilometer untuk sampai ke kebun Wirwanto. Ia berboncengan dengan balita dan istrinya membawa durian Si Kunyit.

Walaupun tak selengket dua durian sebelumnya, durian Kunyit punya rasa yang segar dan tekstur yang "pecah" di mulut saat dilumat. Lumayan, ada variasi rasa.

Penutupnya, kami beruntung dapat satu buah durian jatuhan pertama dari buah perdana pohon durian bapak mertua Wirwanto, namanya pak Abdullah Karim (47). Dari pohon yang ia perkirakan lebih 10 tahun itu baru pertama kali berbuah musim ini.

Durian Si Kapas di Kelekak milik Wirwanto memiliki rasa yang sangat manis dan tekstur lengket serta berukuran sekepalan tangan. Foto: Dok. Dzulfikri Putra Malawi

Kami terkejut. Durian yang ia bawa dan belum diberikan nama itu punya warna mirip Si Kapas, tapi dengan tekstur yang lebih kering dan lengke, serta biji yang kempes. Cita rasanya seperti gabungan Upin Ipin dan Si Kapas. Lengkap!

Harusnya bisa jadi durian unggulan yang baru dari Bangka Barat. Lebih senangnya kami diminta memberikan nama. Ya sudah, salah satu dari kami teriak, "Mertua!". Saya timpali, "Super Mertua!".

Semoga layak disandang menjadi nama durian Super Mertua dari Bangka Barat.

Perjalanan kami lanjutkan ke kebun pak Harun (54), di Desa Kedondong, Kecamatan Jebus. Tapi sayang, durian unggulnya yang sempat juara kabupaten, durian Si Bandar (karena pohonnya di pinggir bandar/parit) belum ada yang jatuh. Tapi lelah kami selama perjalanan dari pukul 03.00 WIB terbayar di kebun Wirwanto.

Hari kedua di Muntok, Bangka Barat, kami bertolak dari penginapan lebih pagi, agar bisa ikut sarapan makan penganan khas Bangka, yaitu kue-kue manis, kopi, otak-otak, pempek, dan olahan tepung beras dengan sayur kuning. Sederhana, namun lezat. Pas untuk isi perut buat fondasi sebelum perjalanan.

Menu sarapan di warung kopi daerah Muntok, kue manis dan kuah kuning. Lengkap dengan otak-otak, pempek Bangka, dan kopi hitam khas Bangka. Foto: Dok. Dzulfikri Putra Malawi

Selepas itu, kami berkeliling wisata di Muntok. Mulai dari mercu suar di Tanjung Kalian, tempat pengasingan Soekarno-Hatta, dan tokoh negara RI di Bukit Menumbing, sampai ke Museum Timah.

Selingan wisata lokal ini membuat saya juga ikut mengenal nilai histori Bangka Barat kala hasrat hanya ingin berburu durian. Bahwa setiap destinasi perburuan durian punya beragam destinasi lain yang menarik selain kuliner.

Selepas istirahat dari perjalanan destinasi tersebut, kami menuju beberapa lokasi perkebunan dan hutan durian. Tujuan pertama ke Delis Tani menyasar Cumasi dan Super Tembaga.

Namun, kami tidak berhasil mendapat kualitas yang maksimal, terlebih untuk Super Tembaga. Banyak faktor, mungkin cuaca dan hal teknis lainnnya. Semangat terus untuk petani durian!

Tapi saya jadi banyak mendapatkan pelajaran. Pentingnya bertanggung jawab terhadap barang yang dijual adalah hal yang tidak bisa ditawar lagi. Walaupun pilihannya dihadapkan dengan rupiah di depan mata atau merelakannya untuk investasi kepercayaan dan kepuasan customer.

Kemudian kami lanjut ke pemilik pohon durian Gong Li. Seorang dokter dan penggiat durian yang tinggal di Pangkal Pinang, dr. Ase memberikan nama itu, karena pohonnya terletak di Simpang Gong dan warnanya mirip warna kulit seleb Tiongkok, Gong Li.

Tapi sayang, buah yang kami dapat sudah buah akhir. Rasa pun kurang memikat kami.

Dengan ekspektasi yang merosot pada dua lokasi perburuan durian sebelumnya, akhirnya di tempat ketiga berbuah manis. Semuanya terbayar penuh di sana, di hutan durian milik haji Ulung.

Dua Sosok Istimewa

Haji Ulung (60), pemilik Kelekak di kecamatan Simpang Teritip dengan luas 5 hektar dan tak kurang dari 500 batang pohon durian berumur puluhan tahun. Foto: Dok. Dzulfikri Putra Malawi

Untuk usia mendekati kepala enam, menaiki dan menuruni bukit yang terjal masih terbilang lincah. Mengenakan batik merah dan topi, keriput di sekujur tubuhnya menertawakan kami yang muda-muda, tergopoh saat menanjak diselingi rehat sesaat.

Pak haji Ulung, begitu ia akrab disapa. Pemilik 5 hektare hutan durian di Kecamatan Simpang Teritip, Bangka Barat. Paling tidak ada sekitar 500 batang durian yang ia ingat pernah ditanaminya sewaktu muda karena keinginan untuk memiliki pohon durian.

Saat itu, teman-teman seusianya justru asyik menikmati pohon durian peninggalan orang tua. Semangat saya ikut terbakar. Ia membuktikan keinginan itu bisa diwujudkan.

Kami serombongan tiba sore hari, menempuh lebih dari 15 menit memasuki hutan. Setibanya di sana, kami disambut dengan durian Uren (Orange) yang ia sebut secara sederhana berdasarkan warna daging duriannya. Ratusan pohon lokal di sana enggan ia namai, karena takut tak bisa dipertanggung jawabkan antara rasa dan kepopulerannya.

Durian Uren (Orange) milik Haji Ulung. Memiliki rasa manis pahit dengan tekstur creamy dan lengket. Foto: Dok. Dzulfikri Putra Malawi

Tidak seperti dua durian bangka yang viral tersebut dan punya harga tinggi, durian-durian 'no name' milik pak haji Ulung justru lebih berkualitas dan berkarakter menurut kami.

Mungkin kami memang sedang kurang beruntung, panen musim ini tidak menghadirkan Cumasi dan Super Tembaga yang mantul (mantap betul). Tapi setelah membuktikan dengan pencarian di Pangkal Pinang, kawan kami, Leo, berhasil mendapatkan Namlung yang bagus lewat dagangan durian pinggir jalan Ko Acin.

Pria tua yang sudah berdagang 20 tahun lebih ini sampai membelah empat Cumasinya. Semua mengkal dan berair di dalam. Rasanya pun berantakan, tidak sesuai dengan ekspektasi kami yang tinggi.

Setelah menyerah, ia ingat masih simpan Cumasi dari pohon lain. Segeralah anak buahnya membawakan durian dari tempat penyimpanan di lokasi berbeda.

Durian lokal no name milik Haji Ulung. Memiliki rasa sangat pahit dan ada sentakan rum di akhir rasa. Foto: Dok. Dzulfikri Putra Malawi

Akhirnya dapat Cumasi yang bagus. Pahit, creamy, beralkohol, daging tebal. Namun, permukaan dagingnya masih punya tekstur garing. Entah, kami belum punya perbandingan yang kami tahu, malam itu Cumasi terbaik yang kami dapatkan.

Walaupun begitu, kami serombongan yang penasaran dengan Namlung menyatakan sepakat koleksi durian lokal haji Ulung masih lebih berkualitas dengan harga yang jauh lebih terjangkau dan relevan.

Kelekak, Budaya Memberi Manfaat untuk Anak Cucu

Sebelum kembali ke Jakarta, seorang pemborong kebun durian, bang Rudy mengajak saya dan rombongan singgah di kebun daerah Air Mesu, Desa Bukit Kijang, Bangka Tengah.

Ia mengaku, musim kali ini tak berpihak pada durian Cumasi dan Super Tembaga. Durian lokal yang menjadi harapan satu-satunya.

Setelah itu, kami diajaknya masuk ke dalam hutan durian, masih di dalam kawasan Air Mesu, Bangka Barat. Hutan durian tersebut milik keluarga haji Syahrul (56) yang setiap musim panen tiba, ia dan istrinya, Nurmala (54), akan menginap di pondokan dalam hutan durian.

Hal tersebut mereka lakukan untuk menjaga, sekaligus memanen durian dengan beberapa orang yang mereka pekerjakan. Dalam sehari beberapa tengkulak dan pedagang hilir mudik mengambil hasil panen duriannya.

Di lahan seluas 2 hektare itu, tak kurang dari 200 batang pohon durian sudah berumur puluhan tahun, bahkan ada yang sudah ratusan tahun. Lahan miliknya merupakan peninggalan dari Kelekak, budaya memberi manfaat untuk anak cucu lewat tanaman buah yang ditanam. Kebanyakan jenis buahnya adalah durian, binjai atau kemang, dan cempedak.

Konsep Kelekak ini menjadi menarik dan berkesinambungan dengan upaya pelestarian alam dan manusianya. Seorang budayawan Bangka Belitung, Suhaimi Sulaiman bahkan memanjangkannya menjadi “Kelak Kek Ikak”, artinya suatu saat nanti bermanfaat atau dapat diambil manfaatnya oleh kamu-kamu generasi yang akan datang.

Dolan durian ke Bangka memberikan saya banyak pelajaran. Kearifan lokal mereka dengan Konsep Kelekak nampak nyata lewat kualitas durian yang dihasilkan, ketimbang kualitas yang sengaja dikebunkan untuk kebutuhan komersial.

Tentu bagi saya dan teman-teman pemburu durian, kualitas rasa durian lokal di dalam hutan memberikan ragam rasa yang sangat kuat dan bervariasi. Apalagi pemilik lahan di sana tidak berani untuk memetik duriannya.

Mereka hanya mendistribusikan durian yang sudah jatuh kepada pedagang. Tentu ini adalah syarat utama durian dapat dinikmati dalam kondisi yang sudah pasti matang.

Bangka jadi kota yang menarik buat saya dalam industri durian. Karena bagaimanapun harga harus berbanding lurus dengan kualitas sebagai komitmen pertanggung jawaban.

Lewat sosok haji Ulung yang bersahaja, ramah, dan apa adanya, ia mampu mempertanggung jawabkan kualitas durian-duriannya. Saya pastikan yang pernah ke tempatnya, bakal balik lagi.

Begitupun juga dengan Ko Acin. Pedagang yang berani menggaransi tanpa basa basi sampai dapat durian terbaik.

Semoga pegiat pertanian di Bangka atau di kota-kota lainnya mau belajar dari dua sosok istimewa tersebut dan mengimplementasikan di kebun, serta lapak bakul duriannya masing-masing.

Sesungguhnya, durian bukan soal komersil semata, melainkan hospitality yang punya dampak ekonomis panjang dengan kesan baik yang terus diingat. Sehingga tamu atau customer yang sudah merasakannya menjadi ringan untuk merekomendasikan kepada orang lain. Cerita baik dari durian baiklah yang akhirnya membawa rizki untuk mereka.

Reporter: Dzulfikri Putra Malawi