Padang Pasir Moynaq, 'Lautan' yang Hilang di Uzbekistan

17 Mei 2020 7:04 WIB
comment
14
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Bangkai kapal yang terdampar di Kota Moynaq Foto: Shutter stock
zoom-in-whitePerbesar
Bangkai kapal yang terdampar di Kota Moynaq Foto: Shutter stock
ADVERTISEMENT
Banyak hal tak terduga yang terjadi di berbagai belahan bumi ini. Kota Moynaq misalnya. Kota yang berada di gurun pasir Uzbekistan ini dinilai punya pemandangan paling aneh di dunia. Sebab, di lokasi tersebut banyak bangkai kapal besar yang terdampar di tengah padang pasir.
ADVERTISEMENT
Padang tandus Moynaq ini terletak di antara dua negara pecahan Uni Soviet, Uzbekistan dan Kazakshtan. Awalnya Moynaq adalah kota nelayan yang sangat sukses. Sumber ikan yang didapat setiap harinya berasal dari Aral Sea atau Laut Aral.
Meskipun memiliki nama laut, Aral merupakan sebuah danau luas yang berukuran 68 ribu kilometer persegi. Bahkan pada tahun 1960-an, Laut Aral tercatat sebagai danau terluas ke-empat di dunia. Laut Aral memiliki peranan penting bagi pasokan air tawar untuk wilayah-wilayah di Uzbekistan bagian utara dan Kazakhstan bagian selatan.
Bangkai kapal di kota moynaq Foto: Shutter Stock
Namun, 40 tahun kemudian, terjadi bencana tak terduga dan menyebabkan danau ini mengalami penyusutan air secara drastis. Saat itu, air Laut Aral pelan-pelan mengering setiap tahunnya. Hingga akhirnya, pada tahun 2014 luas Laut Aral tersisa hanya sekitar 10 persen dari ukuran awal.
ADVERTISEMENT
Dilansir Atlas Obscura, bencana ini berawal dari keputusan Pemerintah Soviet yang dahulu dipimpin oleh Khrouchtchev, untuk mengalihkan aliran dua sungai utama yang memasok ke dalam Laut Aral, ke wilayah gurun di sekitar Laut Aral.
Bangkai Kapal di Laut Aral, Kota Aral, Uzbekistan. Foto: Shutter Stock
Pengalihan aliran sungai Amu Darya dan Syr Darya ini dimaksudkan untuk mengairi sistem irigasi sehingga dapat menghidupkan aktivitas pertanian di gurun di sekitar Laut Aral. Komoditas pertanian utama saat itu adalah kapas dan gandum.
Pengalihan dua aliran sungai utama ke kanal-kanal irigasi menimbulkan dampak negatif. Pada awal-awal tahun dijalankannya proyek pengalihan aliran sungai, jumlah air yang masuk ke dalam Laut Aral mulai berkurang drastis.
Diperkirakan air sungai terbuang sia-sia 25 hingga 75 persen karena proses terserapnya air ke dalam pasir gurun dan proses evaporasi selama perjalanan menuju lokasi yang dimaksudkan untuk dijadikan lahan pertanian.
Kota Moynaq Uzbekistan Foto: Shutter stock
Ketika air danau kian surut, para penduduk yang mayoritas seorang nelayan itu mulai meninggalkan kota karena tidak bisa lagi menangkap ikan. Kemudian, kapal-kapal ditinggalkan begitu saja di tengah padang pasir.
ADVERTISEMENT
Sejak itu, beberapa kapal telah dikumpulkan dari padang pasir dan sekarang beristirahat di pinggir kota, yang kini disebut sebagai 'kuburan kapal'. Jumlah penduduk pun ikut menyusut selama beberapa dekade terakhir.
Pada tahun 1989, Laut Aral telah kehilangan lebih dari setengah volume air. Akibatnya tingkat salinitas dan mineral meningkat dengan sangat tajam sehingga air tidak layak digunakan untuk konsumsi minum.
Bangkai kapal yang terdampar di Kota Moyanaq, Uzbekistan Foto: Shutter stock
Selain itu banyak jenis organisme dan ikan yang tidak dapat bertahan hidup di kondisi air seperti itu, menyebabkan produksi ikan menurun drastis. Industri perikanan di sepanjang Laut Aral banyak yang tumbang.
Pada tahun 1971 kasus cacar menyebar di Kota Aral, kondisi tersebut diduga berasal dari virus cacar yang terbawa oleh kapal yang mendekat ke Pulau Vozrozhdenya. Tiga di antara sepuluh orang yang terinfeksi cacar meninggal dunia, menyebabkan upaya vaksinasi secara besar-besaran pada 50.000 penduduk kota Aral.
ADVERTISEMENT
Selain itu, masalah kesehatan lainnya melanda kota Moynaq. Salah satu wilayah di sekitar Aral bernama Karakalpaks, ditimpa masalah kesehatan yang ditimbulkan debu beracun yang terkontaminasi oleh garam, pupuk, dan pestisida.
Bangkai kapal di kota Moynaq Foto: shutter stock
Akibatnya, penduduk daerah tersebut mengalami masalah kesehatan dengan tingkat keparahan yang sangat tinggi. Penyakit seperti kanker tenggorokan, anemia, penyakit ginjal, dan tingkat kematian bayi di wilayah ini termasuk yang tertinggi di dunia.
Tak heran jika Kota Moynaq dijuluki sebagai kota mati karena pelan-pelan terus ditinggalkan. Namun satu pemandangan yang tertinggal di sana, adalah bangkai-bangkai kapal di atas padang pasir.
Kini, bangkai kapal-kapal itu sudah karatan dan dibiarkan terbengkalai begitu saja di sana. Menjadikannya pemandangan yang dinilai paling aneh di dunia, bangkai kapal laut di padang pasir.
ADVERTISEMENT
----------------------
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)
***
kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!