Pemilik Hotel di Bali Obral Aset di Market Place, Ini Tanggapan Sandiaga Uno
·waktu baca 2 menit

Pandemi COVID-19 membawa dampak besar bagi industri pariwisata Bali. Tak sedikit hotel di Pulau Dewata yang ditutup akibat sepinya pengunjung selama penerapan perbatasan sosial. Keterpurukan di Industri pariwisata ini akhirnya membuat pemilik hotel menjual aset mereka di market place.
Menanggapi hal itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, mengimbau para pengusaha hotel untuk mengkaji ulang dampak yang ditimbulkan karena telah menjual aset properti mereka.
“Jangan sampai para pengusaha dalam negeri justru menjadi pihak yang dirugikan karena melakukan obral aset. Akibatnya, lapangan pekerjaan di Indonesia akan berkurang,” ungkap Sandiaga, seperti dikutip dari Antara.
Sandiaga menyebut bahwa Bali menjadi salah satu provinsi yang paling terdampak akibat pandemi COVID-19. Sebab, sekitar 54 persen perekonomian Bali sangat bergantung pada sektor pariwisata.
Hal tersebut juga berdampak pada tingkat keterhunian atau okupansi hotel, sehingga pelaku industri hotel terpaksa menjual aset mereka.
Oleh karena itu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk mencari solusi yang tepat, agar dapat meringankan kesulitan yang dihadapi pelaku hotel, sehingga mereka tidak perlu menjual asetnya masing-masing.
Kemenparekraf telah mengajukan dana sebesar Rp 300 miliar ke Komite Penanganan COVID-19 Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) untuk menggulirkan program dukungan akomodasi dan fasilitas pendukung lainnya bagi tenaga kesehatan. Program ini dikatakan akan melibatkan sejumlah hotel sebagai fasilitas tenaga kesehatan.
“Semoga dalam waktu dekat bisa kita realisasikan,” tutur Sandiaga.
Selain itu, Kemenparekraf juga berusaha menjalin kemitraan potensi-potensi investasi di sektor pariwisata dari investor luar negeri dengan mitra di Indonesia. Sehingga, dapat menggerakkan kembali sektor pariwisata dan membuka lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya.
Sementara itu, menurut Sandiaga, jual beli aset adalah sebuah kelaziman dalam setiap krisis. Biasanya, para para pemilik maupun investor akan melakukan penyesuaian portofolio bisnisnya dan sebagian memutuskan menjual asetnya.
Di tengah keterpurukan tersebut, biasanya masih ada saja investor-investor lain yang tertarik untuk membelinya.
“Saya menerima banyak email dari kolega dan relasi di luar negeri, banyak peminat untuk membeli aset-aset di Indonesia,” pungkas Sandiaga.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona).
