Kumparan Logo

Per 2020, Kamboja Akan Larang Wisata Naik Gajah di Angkor Wat

kumparanTRAVELverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi wisata naik gajah di Angkor Wat Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi wisata naik gajah di Angkor Wat Foto: Shutter Stock

Penggunaan gajah sebagai atraksi wisata bukanlah hal baru dalam dunia pariwisata. Selain Thailand dan India, Kamboja juga menjadi salah satu negara yang masih melakukan praktik ini.

Tak hanya dipercantik, gajah-gajah tersebut harus menanggung beban yang cukup besar di bagian pundaknya untuk melayani wisatawan yang berkunjung, salah satunya di Angkor Wat. Sebab, selama ini wisatawan yang datang ke kuil Angkor Wat, Kamboja, bisa melakukan wisata naik gajah.

Namun, seperti yang kita ketahui, kegiatan semacam ini sebenarnya merupakan bentuk penyiksaan pada hewan tersebut. Bahkan pada 2016 lalu, seekor gajah mati di Angkor Wat.

Gajah bernama Sambo tersebut tewas akibat kelelahan, kepanasan, dan juga stres yang berkepanjangan. Kejadian ini pun menjadi perhatian dunia, sebab Sambo jadi korban eksploitasi hewan untuk kebutuhan pariwisata.

Ilustrasi wisata naik gajah di Angkor Wat Foto: Shutter Stock

Dilansir Mirror, atraksi wisata naik gajah ini pun menuai protes keras dari para aktivis hewan. Mereka menutut bahwa kegiatan semacam ini dihentikan dan hewan-hewan tersebut harus dikembalikan ke habitat asalnya.

Menanggapi hal tersebut, The Elephant Management Association, bekerja sama dengan kelompok aktivis hewan Apsara Authority mendorong otoritas manajemen Taman Arkeologi Angkor Wat di Siem Reap, Kamboja, untuk segera mengumumkan penghentian eksploitasi gajah. Larangan ini rencananya akan efektif pada awal 2020 mendatang.

Perwakilan Apsara, Long Kosal, mengatakan bahwa lusinan gajah yang tersisa akan dipindahkan ke hutan yang menjadi pusat konservasi gajah.

Ilustrasi wisata naik gajah di Angkor Wat Foto: Shutter Stock

"Gajah adalah hewan besar, tetapi juga lembut dan kami tidak ingin melihat hewan digunakan untuk kegiatan pariwisata lagi. Kami ingin mereka hidup di lingkungan alami mereka," kata Kosal.

Mengutip Khmer Times, Manajemen Taman Arkeologi Angkor Wat mengatakan bahwa proses pemindahan gajah-gajah ini pun sudah dimulai sejak 15 November 2019 lalu. Dua dari 14 gajah yang saat ini berada di taman kuil Angkor Wat, telah dipindahkan ke hutan komunitas Bos Thom yang berada tidak jauh dari sana.

Cara ini diharapkan mampu memerangi angka populasi gajah di Angkor Wat yang terus menurun. Pada 2018, World Wildlife Fund menerbitkan sebuah laporan yang menyatakan populasi gajah Asia semakin berkurang. Lembaga itu mencatat populasi gajah Asia telah berkurang 50 persen hanya dalam tiga generasi.

Angkor Wat di Siem Riep, Kamboja Foto: Shutter Stock

Sementara itu, menurut Angkor Enterprise, situs yang terdaftar di UNESCO itu menghadapi penurunan jumlah wisatawan. Laporan terbarunya mengungkapkan 1,6 juta wisatawan membeli tiket ke Angkor Wat dari Januari hingga September, menurun 12 persen dibandingkan periode 9 bulan yang sama pada 2018.

Belum ada penelitian yang mengungkap dengan detail, apakah penggunaan gajah di Angkor Wat ini berdampak terhadap jumlah wisatawan. Tapi yang pasti, di seluruh dunia telah terjadi penurunan jumlah wisatawan yang menggunakan satwa ketika berwisata.

Bahkan baru-baru ini, sebuah situs layanan perjalanan terbesar dunia, seperti TripAdvisor mengumumkan mereka tidak akan menjual tiket atraksi wisata yang menggunakan hewan sebagai objeknya. Hal ini bertujuan guna mendukung pelestarian hewan, khususnya mereka yang terancam punah.

Bagaimana menurutmu?