Pesona 5 Geosite yang Ada di Geopark Belitong

Geopark Belitong yang ada di Pulau Belitung saat ini tengah menuju UNESCO Global Geopark. Kementerian Pariwisata bersama Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tengah mengupayakan geopark ini menjadi geopark global pada 2020 mendatang.
Lokot Ahmad Enda, Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Wisata Regional I Kementerian Pariwisata menuturkan, bahwa sebagai salah satu dari 10 Destinasi Bali Baru, Pulau Belitung menjadi fokus utama untuk mengembangkan pariwisata Nasional. Setelah menjadi Geopark Nasional, kini Geopark Belitong diharapkan bisa menjadi Geopark Global.
"Geopark Belitong sudah menjadi Geopark Nasional dan sekarang diharapkan menjadi Geopark Global agar bisa menarik perhatian wisatawan mancanegara untuk datang ke Pulau Belitung," terang Lokot, ketika berbincang dengan kumparan di Grand Hatika Hotel, Pulau Belitung, Selasa (9/4).
Saat ini Geopark Belitong sendiri memiliki 17 geosite yang disiapkan untuk menarik minat wisatawan dalam dan luar negeri. Nantinya, 17 geosite tersebut akan diperkenalkan kepada tim asesor UNESCO yang direncanakan datang dan menilai pada bulan Juli mendatang.
Lalu, geosite apa saja yang ada di Geopark Belitong?
Berikut kumparan rangkum lima geosite di antaranya, yang bisa kamu kunjungi saat ke Pulau Belitung:
1. Geosite Open Pit Nam Salu
Terletak di Senyubuk, Kelapa Sampit, Belitung Timur, Open Pit jadi salah satu geosite yang masuk dalam Geopark Belitong. Dulunya, Open Pit merupakan area pertambangan tertua yang ada di Pulau Belitung, yang pertama kali dibuka pada tahun 1887.
Namun, Open Pit baru ditemukan lagi oleh masyarakat pada tahun 1975, melalui eksplorasi pengeboran. Sebelumnya, tambang ini tertutup timbunan abu gunung api di kedalaman 70 meter
Setelah mengalami masa kejayaan selama puluhan tahun, akhirnya Open Pit ditutup pada tahun 1993. Tempat ini kemudian mulai didatangi wisatawan pada tahun 2010.
"Open Pit ini bekas penambangan, jadi kalau dilihat masih banyak jalur-jalur bekas penambangan timah di sini. Tapi, karena timah mulai dibatasi dan ada beberapa longsoran tambang, akhirnya kegiatan penambangan ditutup serta dihentikan pada 1993," cerita Tino Christian, Badan Pengelola Geosite Open Pit Nam Salu, ketika berbincang dengan kumparan.
Bagi kamu yang ingin melihat indahnya danau di tengah hutan lindung yang ada di sana, harap menyiapkan tenaga. Pasalnya, untuk menuju Open Pit, kamu harus melalui jalur setapak menanjak sejauh 300 meter. Jalur ini pun terdiri dari tanah dan bebatuan yang membuat medannya semakin sulit. Salah menginjak sedikit, bukan tidak mungkin kamu akan terpeleset.
"Dulu jalur di sini bagus dan jalannya lebar, karena pertambangan timah, jadi truk selalu bolak-balik melalui jalur ini. Tapi sejak menjadi hutan lindung, jalannya semakin sempit, tidak bisa diubah juga," terang Tino.
Meskipun demikian, semua usaha tersebut akan terbayar lunas dengan pemadangan yang disajikan di Open Pit. Warna hijau tosca yang dihadirkan oleh air danau tampak seirama dengan pepohonan dan rumput-rumput yang ada di sekitarnya.
Terlihat juga jalur tempat biasa truk melintas yang semakin membuat dramatis pemandangan di sana. Jika masih kuat trekking, kamu juga bisa turun ke bawah danau dengan melalui terowongan yang dibuat saat masih ada aktivitas penambangan dulu.
Menariknya, untuk masuk ke Open Pit kamu tidak dikenakan tiket masuk. Tapi, dianjurkan bersama guide yang menguasai tempat ini agar lebih banyak informasi yang bisa kamu ketahui.
2. Geosite Pantai Burung Mandi
Masih di Belitung Timur, geosite selanjutnya yang bisa kamu kunjungi adalah Pantai Burung Mandi. Konon, dahulu terdapat banyak burung yang mandi di pantai ini, sehingga akhirnya diberi nama Pantai Burung Mandi.
"Menurut cerita masyarakat, dulunya di pantai ini banyak burung yang sedang mandi. Sehingga, akhirnya muncullah nama Pantai Burung Mandi," ujar Yuda, tour guide Billitonesia yang menemani perjalanan kumparan selama di Pulau Belitung
Seperti pantai pada umumnya, di Pantai Burung Mandi kamu bisa menemukan hamparan pasir putih yang indah. Terdapat juga deretan perahu nelayan yang sedang bersandar di bibir pantai.
Sayangnya, saat kumparan berkunjung ke sana pada Selasa (9/4), tak banyak wisatawan yang datang. Menurut Yuda, pantai ini baru ramai dikunjungi pada akhir pekan.
Di Pantai Burung Mandi kamu juga bisa menemukan gugusan batuan granit yang merupakan satuan termuda di Pulau Belitung, berusia 75 sampai 140 juta tahun. Gugusan batuan termuda ini memiliki kemiripan dengan Granit Tanjung Pandan, tetapi memiliki butiran yang halus dan warna yang lebih kelam, karena mengandung plagioclass feldsfar.
3. Geosite Tanjung Kelayang
Tak lengkap rasanya ke Pulau Belitung, tanpa ke Tanjung Kelayang. Ya, kira-kira itulah yang wisatawan rasakan saat berlibur ke pulau ini.
Tanjung Kelayang memang dikenal sebagai salah satu tempat wajib yang harus dikunjungi saat berlibur ke Pulau Belitung. Dari Tanjung Kelayang, kamu bisa island hopping ke beberapa pulau sekitar, seperti Pulau Batu Burung Garuda, Pulau Kelayang, hingga Pulau Lengkuas.
Uniknya, di beberapa pulau tersebut terdapat gugusan bebatuan yang menghadirkan beragam bentuk unik. Misalnya saja Pulau Batu Burung Garuda yang batuan granitnya tampak membentuk dan seolah-olah terlihat seperti Burung Garuda.
Ada pula Pulau Kelayang yang tak hanya menyajikan pemandangan indah dari bibir pantai, tapi terdapat pula gua yang berada di dalam pantai. Adalah Gua Kelayang, yang terbentuk dari deretan bebatuan besar. Mitosnya, di gua ini kamu tak boleh berteriak, karena akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, seperti hadirnya ular besar yang beberapa kali pernah dilihat wisatawan.
4. Geosite Bekas Tambang Timah Laut Juru Seberang
Ingin menikmati sunset di Pulau Belitung? Salah satu tempat untuk mewujudkan keinginan itu adalah di Geosite Bekas Tambang Timah Laut Juru Seberang.
Juru Seberang merupakan kawasan bekas tambang timah lepas pantai yang saat ini fokus pada kegiatan rehabilitasi lahan pascatambang, pembibitan udang, kepiting, dan kerapu, serta mitigasi perubahan iklim melalui penanaman pohon bakau.
Kawasan konservasi ini menawarkan pemandangan pesisir yang indah, serta geowisata menyusuri hutan bakau. Di tempat ini juga terdapat sebuah kapal besar yang difungsikan sebagai restoran.
Selain itu, kamu juga bisa menemukan beberapa spot foto kekinian nan Instagramable, seperti spot foto berbentuk love, rumah kayu, hingga jembatan berbentuk bulat yang difungsikan untuk menikmati sunset. Sayangnya, saat kumparan berkunjung ke sana pada Rabu (10/4), cuaca di Pulau Belitung sedang tidak mendukung, karena tertutup awan mendung, sehingga tidak bisa menikmati sunset seperti biasanya.
5. Geosite Bukit Peramun
Pernah mendengar hewan bernama tarsius? Atau tertarik untuk melihat tarsius secara langsung?
Jika iya, kamu bisa mengunjungi Bukit Peramun di Air Selumar, Sijuk, Pulau Belitung. Berasal dari kata peramu, bukit ini dahulunya dipenuhi oleh tumbuhan herbal yang bisa diramu menjadi obat, sehingga disebutlah sebagai Bukit Peramun.
Kamu bisa trekking ke atas puncak bukit setinggi 129 meter tersebut. Dari atas bukit, kamu bisa melihat Pulau Lengkuas yang ikonik dan pemandangan laut indah Pulau Belitung.
Tak hanya itu, saat malam hari, kamu juga bisa merasakan pengalaman anti-mainstream bertemu dengan hewan lucu nan menggemaskan, yaitu tarsius. Ya, tarsius hanya aktif pada malam hari, sehingga kamu hanya bisa mencari dan menemukannya di antara jam 19.00 - 21.00 WIB.
Namun, kamu harus ingat bahwa tarsius tak bisa kamu temukan dengan mudah, butuh usaha ekstra untuk mencarinya. Dan saat hewan ini terlihat, kamu bisa melihatnya secara dekat dan mengabadikan foto bersama tarsius. Seru!
Tertarik mengunjungi geosite yang ada di Geopark Belitong ini?
