Tak Mau Bayar Bagasi, Pria Ini Mengaku Ada Bom di Tasnya
·waktu baca 2 menit

Seorang pria yang hendak bepergian dengan pesawat baru-baru ini menuai sorotan publik. Sebab calon penumpang yang akan melakukan penerbangan ke Toronto, Kanada itu mengaku membawa bom di tasnya, saat diminta membayar bagasi di bandara.
Dilansir Daily Star, pria bernama Wegal Rosen itu mengancam mengeluarkan bom dalam tasnya lantaran tak mau membayar bagasi.
Pria berusia 74 tahun tersebut lalu terlibat pertengkaran sengit dengan agen maskapai, lantaran ia harus mengeluarkan biaya untuk mengambil tasnya, dalam penerbangan dari Bandara Internasional Fort Lauderdale Hollywood menuju Toronto.
Rosen menunjukkan kekesalannya dengan meninggalkan tasnya di konter tiket, di depan agen maskapai dan berjalan pergi.
Namun, saat petugas bandara memberi tahu bahwa ia harus membawa tasnya kembali, pria paruh baya itu justru mengatakan bahwa tas tersebut berisi bom.
Akibat ancaman bom tersebut, pihak bandara terpaksa melakukan tindakan darurat dengan mengevakuasi area dan melakuakn penggeledahan.
Bahkan, pihak kepolisian setempat juga menutup akses jalan menuju bandara.
”Yang terjadi selanjutnya adalah tanggapan hiruk pikuk dari pejabat bandara dan penegak hukum setempat. Tiga terminal dievakuasi dan disapu, kata polisi, jalan raya ditutup, delapan penerbangan dibatalkan, dan puluhan ditunda,'' ujat juru bicara bandara.
Membuat Pengakuan Palsu soal Bom, Akhirnya Dihukum 15 Tahun Penjara
Setelah dilakukan penggeledahan, polisi tidak menemukan bom di dalam tas yang dibawa oleh Rosen. Lelucon bom yang ia timbulkan telah menyebabkan evakuasi tiga terminal dan penghentian operasi bandara selama lebih dari empat jam.
Atas insiden tersebut, Rosen ditangkap dan didakwa dengan laporan palsu ancaman bom dan menghadapi hukuman 15 tahun penjara.
Dalam sidang yang dilakukan pada Senin (19/7), Rosen juga dilarang melakukan penerbangan di Bandara Internasional Fort Lauderdale Hollywood dan memiliki senjata.
Ini bukan pertama kalinya Rosen berurusan dengan hukum. Pada 2019 ia didakwa dengan tuduhan kejahatan tingkat tiga setelah menyerang penduduk lain dari komunitas pensiunan tempat ia tinggal.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona).
