Tradisi Menyayat Perut dan Bukti Kedewasaan Perempuan Suku Tiv

Selama ini pertanda kedewasaan seseorang mungkin dapat dinilai dari segi usia atau ciri biologis yang muncul dalam diri seorang anak. Hal tersebut nyatanya tak sepenuhnya jadi tolok ukur bagi sebuah suku yang berada di pedalaman Nigeria.
Suku Tiv punya cara tersendiri, khususunya bagi para perempuan untuk menuju proses kedewasaan. Dilansir berbagai sumber, suku ini memiliki ritual menyakitkan yang akan membuatmu bergidik.
Untuk menandai kedewasaan, para gadis suku Tiv harus menjalani ritual penyayatan perut. Ritual ini dilakukan ketika seorang gadis mendapatkan haid pertamanya.
Perut para gadis tersebut disayat dengan menggunakan benda tajam yang menyebabkan beberapa torehan luka berbentuk garis memanjang.
Rasanya sudah pasti menyakitkan. Karena ketika menjalani ritual tersebut, mereka tidak disertai dengan obat bius ataupun tindakan medis guna pencegahan infeksi. Gadis tersebut baru bisa disebut sebagai perempuan dewasa ketika sudah memiliki kurang lebih empat bekas sayatan di perutnya.
Selain menandakan kedewasaan, sayatan-sayatan ini dipercaya dapat meningkatkan kesuburan si gadis. Konon, luka sayatan ini membantu mereka menjadi lebih menarik di mata para pria.
Karena menurut orang-orang suku Tiv, mereka mengklaim bagian tubuh yang terdapat bekas luka sayatan itu akan meningkatkan sensitifitas wanita saat disentuh bahkan hingga bertahun-tahun kemudian. Jadi luka tersebut dipercaya bisa memberikan sensasi erotis. Karena itulah luka sayatan perut ini dianggap menarik secara seksual oleh para pria suku Tiv.
Wanita dengan luka sayatan juga dianggap telah mampu menanggung rasa sakit sebagai seorang wanita. Jadi, dia diyakini memiliki kemampuan seksual yang baik pula. Oleh sebab itu, ritual ini sifatnya wajib bagi para perempuan di sana.
Sebenarnya bukan hanya suku Tiv saja yang punya ritual penyayatan perut ini. Beberapa suku lain di Afrika menjalankan ritual serupa. Seperti suku Kara yang ada di Ethiopia. Bagi suku Kara, wanita cantik adalah yang punya banyak bekas luka sayatan pisau di tubuh.
Tetapi dengan perkembangan budaya dan pemikiran dari warga suku Tiv, saat ini ritual tersebut sudah mulai ditinggalkan. Meskipun masih ada beberapa orang yang masih memegang teguh tradisi ini dan tetap menjalankannya hingga sekarang.
Bagaimana menurutmu?
