Tragisnya Kisah di Balik Urban Legend Si Manis Jembatan Ancol

4 November 2019 18:59 WIB
comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Jembatan dan Le Bridge Cafe Ancol Foto: Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Jembatan dan Le Bridge Cafe Ancol Foto: Wikimedia Commons
ADVERTISEMENT
Mendengar kata Ancol, kamu pasti langsung mengasosiasikannya dengan pantai, taman hiburan, serta akuarium terbesar Indonesia. Ya, Ancol memang bisa dibilang sebagai gudangnya wisata bagi masyarakat Jakarta.
ADVERTISEMENT
Apalagi dengan banyaknya acara seru dan promo yang kerap dihadirkan Ancol, kawasan ini senantiasa jadi opsi menarik buat kamu yang ingin sekadar getaway tanpa harus pergi jauh dari kota Jakarta. Namun di tengah popularitas Ancol, tahukah kamu ada sebuah kisah urban legend yang menarik di kawasan jembatannya.
Kisah urban legend itu dikenal dengan nama "Si Manis Jembatan Ancol". Ya, kamu yang anak 90-an pastinya tidak akan merasa asing dengan hal tersebut, karena Si Manis Jembatan Ancol bahkan pernah diangkat ke layar kaca, dan dibintangi beberapa artis ternama pada masanya, seperti Dewi Persik dan Kiki Fatmala.
Dihimpun dari berbagai sumber, kumparan mendapati bahwa urban legend tersebut berasal dari kejadian nyata. kumparan menemukan bahwa ada dua kisah yang berbeda tentang Si Manis Jembatan Ancol.
ADVERTISEMENT
Walaupun tidak diketahui secara pasti mana kisah yang benar dan paling sesuai, namun keduanya punya kesamaan akhir cerita yang tragis.
Ingin tahu lebih lengkapnya? Berikut ulasannya.
Versi Pertama
Pada awal abad 18 ketika Jakarta masih dikenal dengan nama Batavia, seorang perempuan muda berusia 16 tahun bernama Maryam ditemukan terbunuh di kawasan Ancol.
Maryam dikenal sebagai gadis muda yang cantik dan molek. Ia bekerja di rumah pedagang tua yang kaya raya yang telah beristri. Kecantikan dan kemolekan Maryam rupanya menarik perhatian majikannya, hingga suatu hari, Maryam dilamar dan diajak untuk menikah sehingga kelak dapat menjadi selir sang majikan.
Permintaan sang majikan ditolak oleh Maryam. Wanita ini pun kabur dari rumah, berusaha menjauh dari sang majikan. Sayang, rencana Maryam untuk melarikan diri rupanya tak berhasil.
ADVERTISEMENT
Gadis cantik ini diperkosa secara bergilir dan kemudian dibunuh oleh para preman yang disuruh oleh majikannya. Padahal kala itu, sang majikan hanya menyuruh anak buahnya untuk mengejar dan menangkap Maryam yang lari dari rumah sang majikan karena tak ingin dinikahi.
Para preman yang takut ketahuan belangnya itu kemudian memilih untuk melemparkan jasad Maryam ke area persawahan, tak jauh dari tempat ia terbunuh, yakni di kawasan Ancol yang kini menjadi jembatan.
Ilustrasi Si Manis Jembatan Ancol. Foto: Maulana Saputra/kumparan
Versi Kedua
Dihimpun dari berbagai sumber, kisah kedua yang tak kalah tragis dari "Si Manis Jembatan Ancol" didapatkan Budayawan Betawi Ridwan Saidi dari saksi hidup yang pernah ia temui ketika melakukan investigasi pada 1955-1960.
Menurut kisah tersebut, pada awal abad ke-19, sekitar tahun 1817, hiduplah seorang gadis yatim yang hidup bersama ibunya, Mak Emper.
ADVERTISEMENT
Mak Emper dan anaknya, Siti Ariah tinggal di suatu paviliun milik seorang juragan kaya. Ketika Siti Ariah menyentuh usia 16 tahun, sang juragan pemilik rumah rupanya jatuh hati padanya.
Ia berniat menikahi Siti Ariah dan menjadikannya sebagai selir. Ariah yang menolak permintaan sang majikan kemudian melarikan diri.
Seperti kata pepatah, "Keluar dari Lubang Singa Masuk ke Lubang Buaya," begitulah nasib yang menimpa Siti Ariah. Bukannya mendapat pencerahan, Siti Ariah malah bertemu Oei Tambah Sia, pedagang tembakau keturunan Tionghoa di Batavia yang berasal dari Pekalongan. Ia dikenal sebagai pria playboy pada masanya dan sangat suka main perempuan.
Melihat paras Siti Ariah, Oei lantas tergoda dan ingin menjadikannya sebagai 'koleksinya'. Siti Ariah kembali kabur untuk menyelamatkan dirinya.
ADVERTISEMENT
Naas, dua preman suruhan Oei Tambah Sia rupanya lebih cepat dibandingkan gerak gadis muda itu. Siti Ariah menemui ajal di Bendungan Dempet dekat Danau Sunter di tangan mereka.
Jenazahnya dibuang sekitar 400 meter dari Jembatan Ancol. Berbeda dengan kisah sebelumnya, Siti Ariah meninggal karena membela harga dirinya. Ia meninggal tanpa diperkosa oleh para pembunuhnya. Kabarnya, hantu wanita yang biasa ditemui di kawasan inilah yang kemudian populer dikenal sebagai Si Manis Jembatan Ancol.
Konon, Si Manis Jembatan Ancol menjadi arwah yang gentayangan karena ingin memberitahukan keberadaannya pada sang ibu. Sementara Oey Tambah Sia akhirnya meninggal dengan cara digantung oleh Belanda di Taman Fatahillah, Jakarta Utara.
Ia dihukum gantung karena ketahuan memiliki banyak kasus pembunuhan, salah satunya adalah membunuh ipar kandungnya sendiri yang bernama Sutejo. Oei membunuh Sutejo karena cemburu melihat kedekatan Sutejo dengan sang istri, Mas Ajeng Gunjing.
First look film 'Si Manis Jembatan Ancol'. Foto: Instagram/@anggy_umbara
Kebingungan antara dua kisah ini kemudian membawa kumparan untuk mencari tahu lewat salah seorang pria yang memiliki 'kemampuan lebih'.
ADVERTISEMENT
Pria yang enggan disebutkan namanya itu tak menampik bahwa memang ada sosok wanita yang 'bermukim' di Jembatan Ancol. Hanya saja, menurut pria yang akrab disapa Brii itu, ia tak mengetahui nama sosok astral itu.
Hanya saja, memang awal tahun 2018 lalu, ia pernah menyambangi lokasi tersebut untuk berkomunikasi dengan para penunggu Jembatan Ancol untuk kebutuhan pekerjaan.
Walau tidak tahu dengan pasti kisah sosok wanita tersebut, Brii masih mampu mengingat beberapa hal tentang komunikasi mereka setahun silam.
"Memang ada, perempuan juga. Mereka kan juga cari tempat untuk bermukim ya, seperti manusia pada umumnya. Memang kalau (bisa dibilang) meninggalnya enggak wajar. Lebih ke dibuang kayaknya, tapi pembunuhannya bukan di situ. Sayangnya waktu itu beliau enggak menyebut nama, sih," kata pria tersebut saat dihubungi kumparan, Rabu (30/10).
ADVERTISEMENT
Brii juga menambahkan bahwa sosok tersebut tak terlihat seperti anak remaja atau ABG, melainkan wanita berusia 30-an menjelang 40.
Pakaian yang dikenakannya pun tak semerah yang biasa kamu lihat di sinetron "Si Manis Jembatan Ancol". Dalam tiga kali pertemuan, sosok itu mengenakan pakaian dengan warna yang berbeda.
"Bajunya pun tiga kali pertemuan itu ganti-ganti, kadang-kadang merah, kadang hitam. Enggak, merahnya lebih gelap (dibanding yg ada di sinteron). Bajunya terusan, tapi bentuknya enggak sampai ke bawah, di bawah lutut, mungkin sekitar sampai betis," jelas Brii lagi.
Soal alasan mengapa sosok wanita itu masih gentayangan, Brii meyakini bahwa mereka biasanya masih memiliki urusan yang belum terselesaikan.
"Kalau saya kan percaya kalau ada yg seperti itu berarti ada urusan yang belum selesai. Kalau yang saya tangkap, sih, kayaknya masih belum terima dengan cara meninggalnya," pungkas Brii lagi.
ADVERTISEMENT
Walau diliputi kisah menyedihkan yang berkembang menjadi urban legend, Ancol yang dulu bukanlah yang sekarang. Kawasan seluas 522 hektare yang dulunya dibiarkan terlantar dan jadi sarang penyakit tersebut kini telah berubah menjadi kawasan rekreasi terpadu sesuai dengan gagasan Presiden Soekarno.
Sekarang tergantung kamu, mana kisah yang paling relevan menurutmu?