Yukyu Joka, Ritual di Jepang untuk Hormati Jatah Cuti yang Tak Terpakai

Masyarakat Jepang dikenal luas sebagai pribadi yang pekerja keras. Etika kerja keras seakan sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat di Negeri Matahari Terbit tersebut.
Tekanan kerja yang tinggi, stres, dan kelelahan karena terlalu keras bekerja membuat banyak warga Jepang menderita Karoshi. Karoshi adalah istilah bagi kematian yang disebabkan oleh terlalu keras bekerja.
Dilansir Japan Today, kebiasaan kerja yang berlebihan tersebut bikin pekerja di Jepang ogah buat ambil waktu liburan, terutama cuti. Menurut Kementerian Kesehatan, Perburuhan, dan Kesejahteraan Jepang, pemanfaatan jatah cuti berbayar di Jepang pada 2017 hanya mencapai angka 51.1 persen.
Angka tersebut menempatkan Jepang di peringkat ke-15, peringkat terendah dari 15 negara yang diteliti soal pemanfaatan jatah cuti. Situasi ini dianggap Pemerintah Jepang sebagai kondisi yang mengkhawatirkan.
Sampai-sampai, pemerintah setempat mengeluarkan Undang-Undang Reformasi Gaya Kerja pada 2018 lalu. Undang-undang ini berisi amandemen penting atau penyesuaian terhadap undang-undang ketenagakerjaan yang telah ada sebelumnya.
Sesuai dengan namanya, amandemen tersebut bertujuan untuk mereformasi kebiasaan kerja dan mengurangi jam kerja. Perubahan yang diterapkan sejak April 2019 lalu misalnya.
Karyawan mesti mengambil setidak-tidaknya lima hari cuti apabila ada lebih dari 10 hari cuti tahunan mereka yang tak digunakan sama sekali. Uniknya, selain melakukan amandemen undang-undang ketenagakerjaan, pada hari Labor Thanksgiving, sebuah perusahaan membuat ritual menyucikan jatah cuti yang tak terpakai.
Acara unik yang disebut Yukyu Joka 有 休 浄化 atau yang diartikan sebagai pemurnian hari cuti tersebut diadakan di Tokyo pada 2019 lalu. Acara ini diselenggarakan oleh Ningen Co Ltd. Yukyu Joka dilaksanakan untuk menimbulkan sikap positif dari masyarakat Jepang terhadap jatah cuti.
Sama seperti kebiasaan masyarakat Jepang dalam upacara kuyo 供養, yang berarti mengistirahatkan roh benda-benda mati yang tak lagi dipakai, Yukyu Joka juga dianggap sebagai ritual penyucian bagi jatah cuti karena tidak terpakai lagi.
Jatah cuti dianggap sama seperti baju, boneka, jarum, dan berbagai benda mati lainnya yang dianggap merasa kecewa karena tak lagi bisa berguna. Jiwa mereka kemudian akan diratapi dan dikenang melalui doa imam-imam, agar jadi tenang.
Dalam acara Yukyu Joka, dihadirkan pendeta sekte Jōdo, Takuro Sayama. Ia akan memimpin upacara dan menyiapkan beberapa kegiatan yang dirancang untuk mendorong para peserta untuk mempertimbangkan pentingnya memanfaatkan jatah cuti.
Pada upacara tersebut, pendeta akan menampilkan kuyo yang dikelilingi 300 lentera. Di lentera tersebut dituliskan pesan singkat penyesalan orang-orang yang tidak memanfaatkan jatah cuti mereka. Sebab, lentera dianggap mewakili semangat dari liburan yang tak digunakan.
Pesan di 300 lentera tersebut adalah perwakilan dari banyaknya pesan yang telah dikirimkan para pekerja di Jepang melalui website mereka. Pesan tersebut telah dikurasi oleh panitia dan ditulis menggunakan tulisan tangan.
Nantinya, lentera yang telah berisi pesan-pesan penyesalan tak menggunakan cuti tersebut akan diterbangkan ke langit. Sementara itu, akan ada satu lentera besar di panggung utama yang menampilkan kompilasi ekspresi penyesalan pekerja, karena lebih mementingkan pekerjaan ketimbang menggunakan jatah cuti.
"Anakku menangis saat kuberitahu tidak bisa merayakan pesta ulang tahun pada tanggal yang seharusnya. Aku baru merayakan ulang tahun anakku yang masih PAUD pada bulan Desember, padahal seharusnya dirayakan pada bulan Mei," begitu salah satu kisah penyesalan yang ditampilkan dalam lentera itu.
"Aku sedang di main golf di Houston, Amerika Serikat, dalam salah satu perjalanan dinas ketika anak pertamaku lahir," tulis penyesalan lainnya.
Selain itu, ada pula kisah persahabatan yang berakhir ketika seorang pria usia 20-an terpaksa memilih perusahaan ketimbang menemani temannya sendiri.
Yukyu Joka diselenggarakan secara gratis. Buat pengunjung yang tak sempat mengirimkan pesan penyesalan lewat web, bisa juga datang langsung ke acara tersebut.
Panitia telah menyiapkan lentera kosong tambahan yang bisa digunakan sendiri dan dinyalakan selama upacara berlangsung. Wah, kamu tertarik enggak dengan ritual ini?
***
kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!
