Cerita Sinta Nuriyah yang Beli Kain Meteran untuk Bikin Baju Anak-anak

Memiliki tiga orang cucu dari anaknya, Yenny Wahid, membuat Sinta Nuriyah begitu bahagia. Layaknya seorang nenek pada umumnya, istri mendiang Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini senang sekali memanjakan cucu-cucunya.
Setiap mengunjungi berbagai kota di Indonesia, Sinta pun tak lupa membelikan cucunya buah tangan. Hal ini diungkapkan oleh Yenny Wahid ketika berbincang hangat bersama kumparanWOMAN beberapa waktu lalu.
“Ibu itu setiap pergi kemana saja pasti membelikan sesuatu untuk anak dan cucu, terutama kalau sekarang, semua untuk cucunya. Jadi kebutuhan sandang anak-anak saya sudah terpenuhi dari Ibu. Karena sekali membelikan baju, Ibu bisa beli sampai 10,” cerita Yenny Wahid kepada kumparanWOMAN.
Sinta sendiri mengaku jika melihat baju-baju lucu selalu teringat dengan cucu-cucunya. Ia pun tak kuasa menahan godaan untuk tidak membelikan baju untuk mereka.
“Karena di setiap tempat kalau ada baju-baju lucu ya saya pasti beli, paling enggak kan dua. Nanti pindah kota, ada lagi baju-baju tradisionalnya yang bagus, ya saya beli lagi,” tutur Sinta Nuriyah.
Hal ini berbeda dengan ketika anak-anaknya sendiri masih kecil. “Dulu waktu anak-anak masih kecil, semua baju mereka saya bikin sendiri. Saya potong dan jahit sendiri. Kebetulan semua anak saya perempuan. Jadi beli kain berapa meter, setelah itu tinggal potong dan jahit sampai jadi empat baju,” ungkap Sinta.
Menurut Yenny, sewaktu ia masih kecil Ibunya memang sering mengajak Yenny dan saudara-saudaranya ke toko baju. Mereka diminta untuk memilih model baju yang sesuai dengan keinginan mereka. Nanti sesampainya di rumah, sang ibu yang akan menjahitkan baju-baju tersebut sesuai dengan model pilihan mereka yang ada di toko.
“Mama itu perempuan serba bisa. Masak bisa, jahit bisa, potong rambut bisa, merangkai bunga bisa, semuanya bisa. Tapi anaknya enggak ada yang bisa,” tutur Yenny sambil tertawa.
Sinta sendiri mengaku bahwa semua keterampilan yang ia miliki itu didapatkan dari ibunya sendiri. “(Saya bisa) Karena ibu saya serba bisa seperti itu. Dan kalau masalah-masalah soal seni, itu menurun dari ayah saya yang merupakan seorang kaligrafer,” jelas Sinta.
Meski sempat mengalami tantangan hidup seperti itu, Yenny justru merasa sangat bersyukur dan merasa kagum dengan kedua orang tuanya. Sebab dengan segala keterbatasan, Sinta Nuriyah dan Gus Dur selalu berusaha membahagiakan anak-anaknya.
“Sebagai anak, kami merasa yang luar biasa dari orang tua kami adalah meski kondisinya seperti itu, kami tidak pernah merasa kekurangan. Jadi dengan baju yang dibuatkan, apalagi baju yang dibuatkan Ibu itu terkandung banyak rasa cinta dan pengorbanan, jadi kami justru bersyukur sekali,” ungkap Yenny Wahid.
