Kumparan Logo

Ini Kata Psikolog Soal Hal yang Sebaiknya Tidak Dibagikan di Media Sosial

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi hal-hal yang sebaiknya tidak dibagikan di media sosial. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hal-hal yang sebaiknya tidak dibagikan di media sosial. Foto: Shutterstock

Saat memasuki lini masa media sosial (medsos), kalian pasti akan menemukan berbagai informasi dan ratusan atau ribuan orang yang kamu follow. Tak hanya mengikuti informasi dari orang lain, tapi pasti banyak dari kita yang juga suka membagi informasi mengenai kehidupan kita di lini masa media sosial.

Ada dari kita yang senang membagikan aktivitas harian, seperti olahraga, membaca buku, atau lainnya. Ada juga yang senang berbagi soal kehidupan pekerjaan, tentang keluarga, tanamana atau binatang peliharaan. Hal ini sebenarnya masih wajar, bahkan positif, karena kamu membagikan hal-hal yang dapat menginspirasi orang lain.

Namun, apakah kalian tahu bahwa tidak semua hal layak atau perlu dibagikan di medsos? Ya, menurut psikolog klinis Ratih Ibrahim, M.M., ada beberapa hal yang sebaiknya jangan dibagikan ke media sosial.

“Hal-hal yang sifatnya sangat personal jangan di-share. Ini bisa berupa curhat, misalnya. Kamu merasa ketika curhat di media sosial itu aman, ke closed friend, tapi kemungkinan bocornya tetap ada dan besar banget,” ujar Ratih saat diwawancarai kumparanWOMAN, beberapa waktu lalu.

kumparan post embed

Untuk hal-hal yang bersifat personal, apalagi kemesraan, kamu mungkin lebih baik menjadikan itu sebagai konsumsi pribadi. Ini bukan berarti kamu dan pasangan tidak bermesraan, lho, ya. Bermesraan dengan pasangan adalah sesuatu yang sah-sah saja.

“Tapi kalau pertanyaannya adalah boleh atau tidak di-expose ke publik? Ini yang harus diwaspadai pasangan. Lihat-lihat, kenapa? Karena secara sosial, itu ada kerisihan orang kalau melihat orang lain bermesraan. Dan kenapa begitu? Kita kan masuk ke normal sosial, norma susila yang aturannya itu berangkat kepada kepekaan sosial,” tutur Ratih.

Jadi, semakin intim perilaku sepasang kekasih yang ditampilkan ke publik, semakin orang lain merasa risih. Hal ini lantaran pada dasarnya kemesraan itu adalah milik pribadi antara kamu dan pasangan.

“Jadi secara universal, semakin hubungan itu bersifat pribadi, semakin tidak pantas dipamerkan di depan publik. Kalau yang bersifat netral, hubungan afeksi yang netral, itu boleh. Tapi begitu masuk ke dalam kemesraan yang lebih lagi, kita harus berhati-hati. Apalagi kalau kamu adalah orang yang cukup terkenal. Karena apa pun yang kita share, kita sebetulnya membuka peluang untuk itu menjadi viral,“ ujar Ratih.

Hal lain yang tak boleh dibagikan di media sosial

Ilustrasi hal-hal yang sebaiknya tidak dibagikan di media sosial. Foto: Shutterstock

Selain hal-hal personal, seperti kemesraan, Ratih berpendapat ada hal lain yang juga sebaiknya tidak dibagikan di media sosial. Pertama, informasi yang mengarah ke hoaks.

Seperti kalian tahu, hoaks kian menjamur bahkan di era pandemi COVID-19. Menurut laporan Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, telah teridentifikasi 1.854 isu hoaks berkaitan dengan COVID-19. Isu tersebut tersebar dalam 4.442 unggahan konten di medsos.

Karena itu, Ratih mengingatkan untuk selalu memverifikasi terlebih dahulu informasi yang hendak kamu unggah di medsos.

Lantas, adakah hal lain yang sebaiknya tidak dibagikan di medsos?

Ya, hal kedua yang sebaiknya dihindari adalah berpendapat atau beride dengan membawa unsur SARA. Ratih mengatakan, “Kalau kamu mau beride, make sure bahwa itu tidak menorehkan trauma atau insight yang buruk kepada pembaca. Kemudian hal-hal yang berkaitan dengan SARA, kekejaman, pornografi, itu juga tidak boleh.”

kumparan post embed

Jadi, apa dong yang boleh di-share? Ratih menyarankan untuk membagikan hal-hal positif di medsos. “Kalau dicap toxic positivity, ya, terserah orang lain, yang penting apa yang kamu share itu adalah hal positif dan kamu juga semangat membacanya,” ungkap Ratih.

Pada intinya, dalam menggunakan media sosial, kamu ingin dikenal sebagai figur yang seperti apa. Apakah kamu ingin dikenal sebagai orang yang suka marah, mengeluh, atau menyebarkan hal positif di media sosial?

“Saya ragu bahwa orang itu cenderung mau dikenang sebagai figur yang identik dengan pornografi, atau hal negatif lainnya. Jadi, saya kalau membaca dari pengalaman saya membaca orang-orang itu maunya dikenang indah dan baik,” kata Ratih.

kumparan post embed