Kumparan Logo

Studi Ungkap Orang yang Berpikir Negatif Cenderung Jadi Korban Ghosting

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi orang yang berpikir negatif cenderung jadi korban ghosting. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi orang yang berpikir negatif cenderung jadi korban ghosting. Foto: Shutter Stock

Ladies, kamu pasti sering mendengar istilah ghosting belakangan ini. Istilah ini dipakai untuk menggambarkan seseorang yang tiba-tiba menghilang saat menjalin hubungan dengan orang lain.

Seseorang yang melakukan ghosting cenderung tidak menjelaskan apa masalah atau alasan mereka menjauh. Pelaku hanya tiba-tiba berhenti menghubungi dan tidak pernah membalas pesan ataupun menelepon kamu.

Kamu mungkin telah melakukan berbagai cara untuk bisa berkomunikasi lagi dengannya. Namun, dia tidak pernah kembali dan menghilang seperti hantu (ghost). Ghosting menjadi salah satu cara seseorang untuk mengakhiri komunikasi atau hubungan.

kumparan post embed

Lantas, apa penyebab seseorang melakukan ghosting terhadap orang tertentu? Mengutip PsyPost, sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa seseorang yang mengalami attachment anxiety lebih cenderung di-ghosting oleh pasangannya.

Attachment anxiety sendiri merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan ketakutan akan pengabaian, kebutuhan yang berlebihan akan penerimaan, dan merasa sedih atau menderita ketika pasangan tidak ada. Dengan kata lain, attachment anxiety merupakan kondisi ketika seseorang memiliki pandangan negatif tentang diri sendiri dalam sebuah hubungannya.

Menurut penulis studi sekaligus profesor psikolog di Roanoke College, Darcey N. Powel, orang dengan tingkat attachment anxiety yang tinggi memiliki kaitan erat dengan di-ghosting.

kumparan post embed

Mengutip PsyPost, studi ini sendiri telah dipublikasi pada April 2021 dan melibatkan 1275 responden. Sayangnya, Darcey mengakui bahwa keterbatasan dari studi ini adalah cross-sectional alias observasi dilakukan sekali saja saat penelitian.

Karena itu, tidak jelas apakah menjadi korban ghosting meningkatkan attachment anxiety atau apakah attachment anxiety yang tinggi meningkatkan risiko di-ghosting.

“Selain itu, masih banyak yang harus dipahami tentang ghosting. Topik mengenai ghosting cenderung sangat menarik bagi individu, terutama mereka yang sedang berkencan. Berbagi temuan penelitian dapat membantu individu lebih memahami mengapa mereka atau orang lain mengalami ghosting dan mengakui implikasi dari ghosting,” ujar Darcey.

kumparan post embed