Jadi Transgender Pertama yang Tanding di Olimpiade, Ini 5 Fakta Laurel Hubbard
·waktu baca 4 menit

Ada banyak berita menarik seputar perempuan di Olimpiade Tokyo 2020. Tak hanya soal kemenangan, namun juga isu perempuan seperti kesetaraan gender, isu kekerasan seksual, hingga dukungan sesama perempuan begitu menarik perhatian.
Kabar lainnya juga datang dari Laurel Hubbard. Atlet 43 tahun asal Selandia Baru ini menjadi perempuan transgender pertama yang bertanding di ajang olimpiade. Gelaran Olimpiade Tokyo 2020 ini menjadi sesi debut Laurel . Ia berhasil mencetak sejarah yang bisa membuka peluang bagi transgender lainnya yang ingin berkompetisi di tingkat global.
Sebagai seorang atlet, Laurel sendiri sudah bertanding sejak usia 20-an. Sebelum menjadi transgender, ia berkompetisi sebagai laki-laki dalam cabang olahraga angkat besi di tempat kelahirannya, Selandia Baru. Lalu pada 2012, ia memutuskan untuk melakukan perubahan gender dan kembali bertanding sebagai perempuan pada 2017.
Untuk kamu yang ingin tahu lebih lanjut mengenai sosok Laurel Hubbard, kumparanWOMAN telah merangkum beberapa hal menarik tentang dirinya. Dikutip berbagai sumber, simak selengkapnya berikut ini.
1. Transgender pertama yang tanding di Olimpiade Tokyo 2020
Laurel Hubbard menjadi atlet transgender pertama yang tampil dalam sejarah Olimpiade. Ia bertanding dalam cabang olahraga angkat besi untuk kategori +87 kg. Ini merupakan klasifikasi terberat untuk kompetisi perempuan di Olimpiade.
Laurel sudah resmi menjadi transgender saat usia 35 tahun. Untuk bisa bertanding, ia harus mengikuti aturan dari International Olympic Committee (IOC) yang mengharuskan semua atlet perempuan memiliki tingkat testosteron di bawah 10 nanomole per liter setidaknya dalam kurun waktu 12 bulan sebelum bertanding.
Mengutip kumparanSPORT, Laurel diprediksi punya peluang besar untuk bisa naik podium di Tokyo. Ia berpotensi setidaknya meraih medali perunggu dalam kategorinya.
2. Keterlibatannya sempat jadi kontroversi
Terlibatnya Laurel Hubbard dalam Olimpiade Tokyo 2020 ini memberikan angin segar bagi para transgender lainnya. Meski begitu, ini tetap menjadi momen paling menantang bagi Laurel, sebab keputusan pihak olimpiade untuk memberikan kesempatan bertanding pada Laurel ini sempat menjadi kontroversi.
Laurel dinyatakan bisa bertanding di Olimpiade Tokyo 2020 sesuai dengan peraturan baru dari IOC tahun 2015 yang memperbolehkan atlet transgender bertanding dalam kategori perempuan. Syaratnya adalah kadar testosteron mereka sudah berada di bawah batas yang sudah ditentukan.
Walau sudah ada ketentuan, namun kritikan tetap banyak bermunculan, terutama dari rekan-rekan atlet perempuan. Mereka merasa kehadiran Laurel Hubbard tidak adil karena sebelum menjadi transgender, ia sudah bertanding dan berlatih sebagai atlet laki-laki. Jadi kemampuan dan kekuatannya tentu tidak sama dengan atlet perempuan karena perkembangan tulang dan otot mereka tentu saja berbeda secara biologis.
Salah satu atlet perempuan yang menyuarakan kritikan adalah Anna Van Bellinghen, atlet angkat besi asal Belgia. Secara pribadi, Anna mengatakan sangat mendukung komunitas transgender, namun peraturan olimpiade tersebut dirasa tidak adil.
"Siapa pun yang sudah latihan angkat besi di tingkat tinggi akan tahu soal hal ini. Keputusan tersebut tidak adil untuk bidang olahraga dan para atletnya. Ada banyak kesempatan yang akan hilang bagi para atlet tapi kita tidak punya kekuatan apa pun," ungkap Anna seperti dikutip dari BBC.
Save Women's Support Australasia, organisasi yang fokus pada atlet perempuan, juga mengkritik peraturan IOC. Mereka menganggap bahwa aturan tersebut belum layak karena membiarkan atlet yang terlahir dan berlatih sebagai laki-laki, masuk dalam pertandingan perempuan.
3. Sudah jadi atlet sejak usia 20 tahun
Laurel lahir dari keluarga pebisnis. Ayahnya adalah Richard Hubbard, pebisnis sukses pendiri Hubbard Food yang menjual sereal di Auckland, Selandia Baru. Laurel sendiri sudah mulai berkompetisi sebagai atlet angkat besi junior sejak 1998 saat ia berusia 20 tahun.
Kala itu, Laurel memulai karier dengan mengangkat beban 300 kg dalam kategori angkat besi lebih dari 105 kg. Dalam wawancaranya bersama Radio New Zealand pada 2017, Laurel mengaku memilih cabang olahraga angkat besi karena ingin merasa seperti laki-laki.
Aku mulai mencoba angkat besi bertahun-tahun lalu karena menurutku itu adalah olahraga yang maskulin. Aku pikir, mungkin kalau aku mencoba sesuatu yang sangat maskulin, mungkin aku bisa jadi laki-laki sesungguhnya. Tapi sayangnya yang terjadi tidak seperti itu," ungkap Laurel seperti dikutip dari Hollywood Life.
4. Jadi transgender sejak 2012
Meski sudah terbilang sukses dalam kariernya sebagai atlet, Laurel Hubbard sempat mengambil jeda dari dunia angkat besi di tahun 2000-an. Kabarnya, hal tersebut ia lakukan karena Laurel mengalami banyak tekanan sosial.
"Aku berhenti angkat besi pada 2001 saat aku berusia 23 tahun karena semua terasa berat. Tapi aku sadar sekarang dunia telah berubah dan aku merasa saat ini aku berada di posisi di mana aku bisa mulai latihan dan bertanding sekaligus menghadapi semua tekanan yang ada," jelasnya.
Pada 2012, ketika berusia 35 tahun, Laurel Hubbard pun memutuskan untuk menjadi transgender. Ia merasa yakin dengan pilihannya ini karena International Olympic Committee (IOC) telah menyesuaikan peraturan mereka mengenai transgender pada 2003. Dalam aturan baru tersebut, transgender bisa ikut berkompetisi. Setelah mengalami penyesuaian pada 2015, aturan resmi dari olimpiade menyebutkan bahwa perempuan transgender dapat ikut bertanding setelah status hormon testosteron mereka sudah sesuai.
5. Laurel Hubbard menempati posisi ke tujuh di daftar IWF
Saat ini, Laurel Hubbard merupakan atlet yang menempati posisi ke tujuh dalam daftar International Weightlifting Federation (IWF). Menurut laporan Stuff, ia masuk dalam kategori angkat besi lebih dari 87 kg (+87 kg).
Laurel merupakan atlet angkat besi paling senior dalam kategorinya. Selama bertanding, ia sudah meraih banyak kemenangan dari berbagai kompetisi sejak kembali turun lapangan pada 2017 lalu.
Di balik semua kontroversi dan kritikan yang diberikan pada dirinya, Laurel berhasil memenangkan medali emas di pertandingan IWF World Championship pada 2019 dan Oceania Senior Championship di tahun yang sama. Tak hanya itu, Laurel berhasil mendapat empat medali perak dan dua medali perunggu dari kompetisi lain.
