Cerita Perempuan dari 7 Negara saat Menstruasi
28 Mei 2021 17:47
·
waktu baca 5 menit

Pakai Kotoran Sapi & Kulit Kambing, Ini Cerita Perempuan dari 7 Negara saat Haid

Tubuh perempuan memang diciptakan dengan unik, salah satu keunikan dari tubuh perempuan adalah saat mengalami menstruasi atau haid. Entah mengapa, topik mengenai ‘menstruasi’ ‘haid’ atau ‘datang bulan’ ini memang selalu menarik untuk dibahas, apalagi jika menyangkut mitos dan fakta seputarnya.
Ya, tak peduli di mana perempuan itu hidup dan dibesarkan, pasti ada saja mitos dan kesalahpahaman mengenai menstruasi atau haid. Hal ini juga terjadi dengan jutaan bahkan miliaran perempuan yang ada di pelosok dunia. Perempuan-perempuan itu hidup dengan berbagai mitos yang membuat mereka kehilangan berbagai kesempatan, seperti akses pendidikan, produk menstruasi yang aman, hingga fasilitas sanitasi.
Menurut sebuah data yang dipublikasikan oleh UN WOMEN pada 2019 silam, sekitar 1,25 miliar perempuan dan anak perempuan tidak memiliki akses ke toilet pribadi yang aman. Sedangkan, 526 juta perempuan dan anak perempuan tidak memiliki toilet sama sekali.
Pakai Kotoran Sapi & Kulit Kambing, Ini Cerita Perempuan dari 7 Negara saat Haid (191054)
searchPerbesar
Cerita Perempuan dari 7 Negara saat Menstruasi. Foto: Facebook/WATERAID
Masih dalam laporan yang sama, UN WOMEN juga mengungkap bahwa 12,8 persen perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia hidup dalam kemiskinan. Kondisi ini juga diperparah dengan biaya produk menstruasi dan pajak tambahan yang membuat banyak orang kehilangan cara untuk mengelola menstruasi dengan aman. Alhasil, mereka pun memanfaatkan koran, tisu toilet, kantong plastik, kaus kaki, pakaian, hingga kain bekas untuk digunakan sebagai pembalut.
Lalu, seperti apa cerita perempuan dari berbagai negara soal menstruasi? Dalam rangka merayakan Hari Kebersihan Menstruasi Sedunia atau Menstrual Hygiene Day yang jatuh setiap tanggal 28 Mei, berikut kumparanWOMAN rangkum cerita perempuan dari tujuh negara soal menstruasi, yang dikutip dari berbagai sumber.

1. Afghanistan: tidak mencuci vagina saat menstruasi

Pakai Kotoran Sapi & Kulit Kambing, Ini Cerita Perempuan dari 7 Negara saat Haid (191055)
searchPerbesar
Ilustrasi iritasi vagina. Foto: Shutterstock
Saat menstruasi, perempuan di Afghanistan berusaha untuk tidak mencuci vagina karena mereka diberi tahu bahwa hal tersebut bisa menyebabkan kemandulan. Padahal menjaga kebersihan vagina saat menstruasi merupakan hal penting untuk terhindar dari beberapa risiko infeksi dan penyakit. Pasalnya, jumlah bakteri jahat di area kewanitaan saat menstruasi akan bertambah. Hal ini karena meningkatnya tingkat keasaman pH akibat dari darah yang keluar. Nah, meningkatnya tingkat keasaman itu akan membuat adanya kontaminasi bakteri menjadi semakin tinggi.
Itulah sebabnya, jika seseorang malas untuk merawat diri saat menstruasi, bukan tidak mungkin penyakit akan datang menghantui. Seseorang bisa saja mengalami peradangan pada dinding rahim maupun peradangan pada vagina. Sementara itu, beberapa risiko kesehatan yang mungkin terjadi akibat tidak menjaga kebersihan vagina saat menstruasi; seperti vaginitis (infeksi atau peradangan pada lapisan vagina), bacterial vaginosis (BV), jamur vagina, hingga infeksi saluran kencing (ISK), demikian seperti dikutip dari Very Well Mind.
Bukan hanya kurangnya edukasi soal pentingnya menjaga kebersihan vagina saat menstruasi, salah satu isu penting lain yang dihadapi perempuan di Afghanistan adalah sulitnya untuk mendapatkan akses ke produk menstruasi, seperti pembalut. Menurut laporan Women’s Health, pembalut di Afghanistan dihargai sekitar 4 dolar AS atau setara Rp 57 ribu per buahnya. Karena masalah itu, sekitar 62 persen siswi di Afghanistan dilaporkan menggunakan potongan kain saat menstruasi.

2. India: perempuan yang sedang menstruasi dianggap kotor dan tidak suci

Pakai Kotoran Sapi & Kulit Kambing, Ini Cerita Perempuan dari 7 Negara saat Haid (191056)
searchPerbesar
Film dokumenter Period. End of Sentence. memenangkan Oscars 2019. Foto: Netflix
Di India, perempuan yang sedang menstruasi dianggap kotor, tidak suci, sakit, bahkan dikatakan terkutuk. Hal inilah yang dialami seorang perempuan asal India, bernama Manju Baluni. Dalam sebuah wawancara BBC, ia menceritakan pengalamannya saat sedang menstruasi.
“Keluarga saya memperlakukan saya seperti orang yang tidak tersentuh. Saya tidak boleh ke dapur, saya tidak bisa masuk ke kuil, saya tidak bisa duduk dengan orang lain,” katanya kepada BBC pada 2014 silam.
Pengalaman Manju Baluni itu rupanya dialami juga oleh seorang perempuan asal Uttarakhasi, India, bernama Margdarshi. “Masalah terbesar saat menstruasi adalah mengelola (kebersihannya). Sampai saat ini, saya kerap merasa malu, marah, dan sangat kotor. Awalnya saya berhenti sekolah karena hal itu,” kata Margdrashi kepada BBC.

3. Kenya: anak perempuan tidak sekolah saat menstruasi

Pakai Kotoran Sapi & Kulit Kambing, Ini Cerita Perempuan dari 7 Negara saat Haid (191057)
searchPerbesar
Ilustrasi anak-anak Afrika. Foto: Shutter stock
Jika banyak dari kita yang menganggap bahwa pembalut atau tampon adalah kebutuhan dasar seorang perempuan, tidak demikian halnya bagi perempuan di beberapa tempat. Karena isu ekonomi, banyak perempuan yang menganggap bahwa pembalut menjadi kebutuhan kesekian dalam hidup mereka, bahkan juga dianggap sebagai sebuah kemewahan.
Bagi perempuan di Kenya, misalnya, kemewahan ini seringkali harus mendapat persetujuan atau perintah dari seorang pria, seperti suami atau ayah. Karena hal itu, banyak perempuan di Kenya kemudian menggunakan daun dan batang kayu untuk menyerap darah saat menstruasi karena sulitnya dapat persetujuan dari pihak pria untuk mendapatkan barang ini.
Bahkan menurut penelitian yang dilakukan mahasiswa Duke Master of Science in Global Health pada 2012 lalu, anak perempuan di Kenya rata-rata tidak masuk sekolah selama 3-7 hari dalam sebulan karena menstruasi. Lebih lanjut, penelitian itu juga mengatakan bahwa anak-anak perempuan di Kenya tidak masuk sekolah saat menstruasi karena mereka tidak bisa membeli atau mendapatkan pembalut.

4. Nepal: perempuan yang sedang haid diasingkan di sebuah gubuk

Pakai Kotoran Sapi & Kulit Kambing, Ini Cerita Perempuan dari 7 Negara saat Haid (191058)
searchPerbesar
Perempuan di Nepal harus tinggal di Chhaupadi saat mereka menstruasi. Foto: Prakash Mathema/ AFP
Saat sedang menstruasi, perempuan di pedalaman Nepal harus menjalani tradisi Chhaupadi. Ini merupakan tradisi masyarakat Hindu Nepal yang mengharuskan perempuan yang sedang haid untuk dipisahkan tempat tinggalnya di sebuah gubuk kecil tanpa ventilasi. Praktik ini dilakukan karena perempuan yang sedang haid dianggap kotor dan dikhawatirkan akan memberi bencana pada manusia, lahan, serta ternak di sekitarnya. Oleh karena itu, mereka diusir dari rumah dan diasingkan.
Praktik ini sangat berbahaya karena dalam gubuk itu terdapat perapian tanpa lubang angin. Akibatnya tidak ada sirkulasi udara dan perempuan yang tinggal di sana juga akan terjebak dengan asap perapian. Pada 2019 misalnya, seorang perempuan yang menjalani tradisi Chhaupadi dilaporkan meninggal di dalam gubuk. Ironisnya, ia tidak meninggal sendiri namun bersama dua anaknya yang masih balita. Ibu dan dua anak itu diduga meninggal karena sesak napas saat menghirup asap perapian.
Menurut laporkan The New York Times, praktik Chhaupadi kabarnya dinyatakan ilegal oleh Mahkamah Agung Nepal sejak 2005. Meski sudah dilarang, nyatanya Chhaupadi masih dipraktikkan di wilayah-wilayah terpencil atau konservatif bagian barat Nepal. Alasannya, karena para perempuan di wilayah itu merasakan tekanan sosial dan kerap merasa bersalah setiap kali mengalami menstruasi.

5. Uganda: memakai rok menstruasi dari kulit kambing & menggali lubang tanah

Pakai Kotoran Sapi & Kulit Kambing, Ini Cerita Perempuan dari 7 Negara saat Haid (191059)
searchPerbesar
Lepera Joyce dari Uganda Foto: Facebook/WATERAID
Di Uganda, Afrika Timur, beberapa perempuan yang sedang menstruasi biasanya akan memakai rok dari kulit kambing. Kabarnya, rok tersebut merupakan pembalut tradisional mereka.
“Saya menggunakan rok kulit kambing ini karena selalu ada dan tersedia. Itu semacam pembalut tradisional kami,” kata Lepera Joyce, perempuan dari distrik Nakapiripirit, Karamoja, Uganda, seperti dikutip dari Refinery29.
Menurut Lepera Joyce, rok kulit kambing itu digunakan untuk mengatasi pendarahan saat sedang menstruasi. “Saya tidak mengeluarkan sepeser pun untuk menggunakan rok kulit kambing tersebut. Sedangkan pembalut itu mahal. Kalau rok tersebut sudah usang atau rusak, saya akan buat lagi karena kami memiliki banyak sekali kambing. Nenek saya mengajarkan bagaimana cara membuat dan menggunakan rok kulit kambing saat menstruasi,” tambahnya.
Pakai Kotoran Sapi & Kulit Kambing, Ini Cerita Perempuan dari 7 Negara saat Haid (191060)
searchPerbesar
Munyes dari Uganda Foto: Facebook/WATERAID
Berbeda dengan Lepera Joyce, perempuan bernama Munyes ini justru akan menggali lubang di tanah saat menstruasi. Setelah menggali lubang, ia akan duduk di atas tanah tersebut untuk mengalirkan darah menstruasinya.
“Saya merasa mengatur haid dengan metode ini karena selain mudah, membeli pembalut juga mahal, dan terkadang ketika darah keluar saya tidak ada waktu untuk pergi ke toko untuk membeli pembalut. Jadi saya lebih suka membuat lubang di tanah dan duduk di atasnya,” kata Munyes, perempuan asal Karamoja, Uganda, seperti dikutip dari Refinery29.

6. Zambia: menggunakan kotoran sapi sebagai pembalut

Pakai Kotoran Sapi & Kulit Kambing, Ini Cerita Perempuan dari 7 Negara saat Haid (191061)
searchPerbesar
Limpo, dari Zambia Foto: Facebook/WATERAID
Ketika menstruasi, perempuan di Zambia, Afrika Selatan, menggunakan kotoran sapi kering sebagai pembalut. Nantinya, kotoran sapi kering itu dipotong-potong menjadi seperti kue kecil dan dibungkus dengan kain.
“Saya tidak meletakkan kotoran sapi kering tersebut langsung ke kulit vagina saya, saya membungkusnya dengan kain dan menempatkannya dengan baik untuk menampung aliran darah menstruasi tanpa menodai pakaian lain,” kata Limpo, perempuan asal distrik Mongu, Zambia, seperti dikutip dari Refinery29.
Lebih lanjut, Limpo mengatakan bahwa dirinya sangat menyukai metode ini karena kotoran sapi kering dapat menyerap banyak darah dan membuatnya tidak kesulitan saat menstruasi.
“Saya tidak bisa mengatakan bahwa saya benar-benar nyaman dan senang menggunakan bahan ini untuk menampung darah haid saya. Jika saya punya alternatif, saya akan menggunakan barang lain. Hanya saja saya tidak punya pilihan, jadi saya tetap menggunakan ini. Saya belum pernah melihat atau mengalami komplikasi apa pun saat menggunakan kotoran sapi tersebut,” ungkap Limpo.

7. Malawi: menggunakan selembar kain saat menstruasi

Pakai Kotoran Sapi & Kulit Kambing, Ini Cerita Perempuan dari 7 Negara saat Haid (191062)
searchPerbesar
Tamala dari Kasungu, Malawi. Foto: Facebook/WATERAID
Di wilayah Kasungu, Malawi, Afrika Tenggara, beberapa perempuan biasanya menggunakan selembar kain yang disebut nyanda saat menstruasi. Nyanda sendiri merupakan sepotong kain kecil yang digunakan sebagai pembalut. Nantinya, kain tersebut akan ditempatkan di dalam celana.
“Membersihkan nyanda kerap menjadi masalah bagi kami dan keluarga kami, terutama dengan masalah kebersihan dan sanitasi,” cerita perempuan bernama Tamala yang tinggal di Kasungu, Malawi, seperti dikutip dari Refinery29.