Konten dari Pengguna

5 Alasan Logis Untuk Berhenti Menyuruh Orang Lain Segera Menikah

Lala Choirunnisa

Lala Choirunnisa

Lulusan Psikologi tapi senang ngomongin bisnis, perempuan, dan isu sosial problematik lainnya.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lala Choirunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: www.freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: www.freepik.com

Terbaring di kasur dengan mata setengah tertidur, saya masih enggak habis pikir dengan pemberitaan rumah tangga selebritis tanah air akhir-akhir ini. Ada yang tiba-tiba cerai, ketahuan selingkuh, bahkan ketahuan ‘jajan’ sama cewek lain!

Saya yakin gak ada yang berencana untuk memiliki pernikahan yang gagal. Tapi saya gak bisa berhenti bertanya “Sebenarnya mereka mikir gak sih kalau perbuatannya akan menyakiti pasangannya?”.

Lebih jauh lagi, “Kalau mereka merasa punya kemungkinan buat menyakiti pasangannya, kenapa mereka memilih untuk menikah?”

Sekolah–lulus–kerja–menikah–punya anak, seakan-akan sudah jadi playbook kehidupan manusia saat ini. Makanya jangan heran kalau setelah lulus sekolah, kita perlu siap-siap untuk menerima pertanyaan bertubi-tubi soal “Kapan nikah?”.

Saya sendiri hidup dengan mengikuti playbook di atas. Tapi, saya juga ngerti banget kalau ada kerabat yang punya jalan hidupnya sendiri dengan memutuskan untuk menunda atau bahkan tidak menikah. Menurut saya, kita gak perlu lagi nyuruh orang untuk nikah. Ada beberapa alasan, yaitu:

1. Menikah Bukan untuk Semua Orang

Ilustrasi wanita sudah menikah. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Dalam menjalin hubungan pernikahan dibutuhkan komitmen, kedewasaan, dan kesabaran yang luar biasa. Menghabiskan sisa hidupmu dengan orang yang kamu cintai memang terlihat menyenangkan, sampai kamu di titik menyadari ada trauma yang belum terselesaikan dalam dirimu yang memunculkan isu dalam hubunganmu dan bikin pernikahanmu gak bahagia. Gak ada yang menginginkan hal ini.

Menikah bukan jawaban untuk jiwa-jiwa yang berjalan tanpa arah. Menikah juga bukan untuk pikiran-pikiran yang masih terjebak di masa lalu.

2. Selama Ini Kita Punya Persepsi yang Salah tentang Menjadi Orang Tua

Ilustrasi anak belajar dengan orang tua. Foto: Art_Photo/Shutterstock

Ada yang bilang, "A woman becomes a mother when she gets pregnant, a man becomes a father when he sees his baby."

Selama sekian lamanya, kita percaya bahwa satu-satunya syarat jadi orang tua adalah punya anak. Padahal, menjadi orang tua adalah proses pencarian jati diri yang panjang.

Lebih dari sekadar ngasih makan dan nyekolahin anak, menjadi orang tua adalah proses berkenalan dan mengobati trauma sehingga kita bisa mengasihi dan membesarkan generasi masa depan yang lebih bijaksana.

Belum lagi kalau kita bahas soal peran suami istri yang setara. Waduh, orang Indonesia punya PR banyak soal hal ini!

Pasalnya, beberapa hari yang lalu saya baru saja baca postingan bahwa Indonesia jadi negara fatherless ke-3 di dunia. Fatherless yang dimaksud adalah ketiadaan sosok ayah untuk anak dikarenakan ayah yang meninggal dunia atau ayah yang tidak dekat dengan anaknya.

instagram embed

Kalau kita tahu masyarakat kita belum mampu berbagi peran setara dalam urusan rumah tangga dan menyediakan kenyamanan untuk anak-anaknya, lalu kenapa kita nyuruh orang lain untuk nikah?

3. Orang Indonesia Nikah di Usia yang Terlalu Muda

Ilustrasi pasangan muda di awal pernikahan. Foto: TimeImage Production/Shutterstock

Berdasarkan median usia pernikahan pertama, Indonesia menempati urutan ke-4 usia termuda di antara negara-negara Asia lainnya. Sebelum Indonesia (22 tahun) ada Afghanistan (20,1 tahun), Laos (21,9 tahun), dan Nepal (21,9 tahun).

Jadi kalau kamu usianya mendekati atau melewati 22 dan belum menikah, sebenarnya kamu gak telat nikah karena menurut ukuran masyarakat global orang-orang Indonesia tuh menikah di usia yang terlalu muda. Jadi para tante, gak ada istilah ‘ketuaan’, orang Indo aja yang nikahnya kemudaan.

4. Sekarang Makin Susah Nyari Jodoh

Ilustrasi mencari jodoh lewat aplikasi online dating. Foto: Getty Images

Menurut saya, orang tua kita bertemu dengan cara yang mudah. Entah dari teman sekolah, teman kerja, atau temannya teman. Seakan-akan semesta mendukung mereka untuk bertemu dan saling jatuh cinta. Coba bandingkan dengan cara kita nyari jodoh sekarang.

Di circle teman kerja? Hanya dua pilihan yang kita punya, coworker yang sudah beristri/bersuami/berpasangan, atau coworker yang ngeselin.

Circle teman sekolah? Yakin ada yang mau sama kamu setelah melihat masa emo kamu?

Okelah kalau pencarian jodoh ini sekarang bisa dilakukan di media sosial atau dating apps. Tetapi proses menemukan compatibility sekarang ini semakin kompleks.

Dengan meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan mental, MBTI, zodiac, love language, inner child, dan segala tetek bengek yang para ahli katakan tentang diri kita, kita jadi punya standar yang lebih spesifik tentang siapa jodoh kita.

Semakin baik sih, Cuma makin susah untuk mendapatkannya. Jadi saya sih setuju kalau menikah adalah sesuatu yang gak bisa diburu-buru karena membutuhkan proses yang lama untuk menemukan ‘the one’. Kita perlu mengenali diri sendiri dan bagaimana cara kita mencintai orang lain.

5. Dunia Ini Makin Seru

Ilustrasi tenang saat traveling Foto: Shutter Stocks

Sekarang ini semua orang bisa jadi apa aja dan ngelakuin apa aja. Dari sekian banyak pilihan hobi, profesi, ide ngedate, tren joget, jenis filter, topik gibah, café hidden gem, dan warna eyeshadow yang bisa dicoba, kenapa kita lebih milih nyuruh orang untuk nikah?

Bukannya kita gak bisa ngelakuin ini semua setelah nikah, tapi banyaknya pengalaman yang kita miliki akan turut mematangkan jati diri sehingga kita lebih siap untuk menjalani huru hara dalam membangun rumah tangga kelak. So put yourself out there, really!

Itulah lima alasan kenapa kita harus berhenti nyuruh orang nikah. Saya gak bermaksud untuk menyindir golongan tertentu. Tulisan ini murni dari pengamatan saya terhadap pergeseran pandangan tentang pernikahan akhir-akhir ini.

Mengingat beratnya tanggung jawab dalam membina rumah tangga, sudah sepantasnya kita (yang pernah/sedang/belum menikah) stop nyuruh orang menikah karena pernikahan itu membutuhkan kehendak yang kuat yang berasal dari diri sendiri bukan karena disuruh orang lain.