Biola Pasisia, Sampaikanlah Meskipun Berurai Air Mata

Langkan.id, Padang - Ada kearifan lokal yang mampu menembus zaman dan masih eksis di daerah Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Masyarakat Minang di daerah selatan itu menyebutnya Rabab Pasisia (Biola Pasisia).
Di era hadirnya berbagai jenis musik modern dengan nada yang beragam, tidak serta merta membuat Biola Pasisia redup. Bahkan, Biola Pasisia cukup sering tampil di panggung berskala Nasional dan Internasional. Kenapa hal demikian bisa terjadi, karena Biola Pasisia adalah sebuah kesenian tradisional, yang dikenal penyampai kabar kebenaran, yang didiperoleh dari sumber yang terpercaya.
Ada hal yang membuat kesenian tradisional Biola Pasisia begitu dipercaya menjadi media penyampai berita. Seperti yang dijelaskan oleh Sabarudin (45), seorang pemain Biola Pasisia yang sudah memiliki jam terbang yang cukup tinggi. Dalam menjadi seorang pemain Biola Pasisia tidaklah seperti seseorang yang dengan mudah bernyanyi sambil memainkan gitar. Banyak teknik gesekan biola dan ada nada yang tidak biasa dimainkan oleh banyak seniman di negara manapun.
Biola Pasisia jika dilihat dari segi tampilan fisiknya sama dengan biola pada umumnya. Namun terdapat perbedaan terkait cara memainkannya. Bagi seorang seniman Biola Pasisia untuk memainkan biolanya itu, bukanlah diletakan dibahu dan ditopang oleh dagu. Tapi untuk memainkan Biola Pasisia, biolanya itu diletakan di atas kaki dengan posisi si pemain biola duduk atau bersila.
Di Biola Pasisia not yang digunakan jelas berbeda dengan not yang dimainkan oleh biola pada umumnya yang pernah dilihat, sehingga akan melahirkan lantunan irama yang berbeda. Sabarudin menyebutkan untuk memainkan Biola Pasisia hal yang perlu diperhatikan ialah, menggunakan not dari senar satu dan dua, sementara untuk senar tiga dan empat merupakan nada bass, tidaklah terlalu sering digunakan. Serta cara menggesekannyapun memiliki teknik yang berbeda dengan biola pada umumnya.
“Untuk memainkan Biola Pasisia hanya masyarakat di Pesisir Selatan yang bisa memahaminya, karena dalam melahirkan generasi untuk bermain Biola Pasisia itu, haruslah terbiasa untuk mendengarkan permainan Biola Pasisia nya. Karena memang, kemistri untuk bermain Biola Pasisia tidak mudah,” kata murid dari pemain Legend Rabab Pasisia Pirin Asmara ini, Selasa (29/10).
Menurutnya, dalam memainkan Biola Pasisia itu ada rasa sehingga masyarakat yang menyaksikan dan mendengarkannya turut merasakan pesan atau kisah hidup yang disampaikan oleh pemainan Biola Pasisia nya. Mendapatkan rasa dalam bermain rabab adalah hal yang paling utama, karena pesan atau berita yang disampaikan itu adalah kisah nyata, bukanlah sebuah karangan belaka.
Terciptanya sebuah karya dalam memainkan kesenian tradisional tersebut, merupakan gabungan dari pemain biola yang handal, serta adanya sumber informasi yang terpecaya yang ingin menyampaikan kisah hidupnya kepada banyak orang.
“Kisah-kisah hidup yang disampaikan itu tentang suka duka dalam mengadu nasib di tanah rantau, karena masyarakat di Sumatera Barat banyak yang merantau. Bahkan bisa dikatakan, dengan bermain Biola Pasisia ini, ibarat menjadi seorang ustadz yang menyampaikan nasihat hidup atau ceramah kepada banyak orang,” ujarnya.
Butuh waktu sekitar tiga hari hingga satu pekan untuk bisa merekam dengan benar informasi dari narasumber untuk disampaikan melalui gesekan Biola Pasisia. Hal ini dikarenakan, sebuah tanggungjawab yang besar dari yang memainkan biola, agar tidak menyampaikan berita yang tidak sesuai kenyataan.
Prinsip dari pemain Biola Pasisia, tidak ada biola yang bisa digesek, jika tidak ada kabar yang akan disampaikan. Begitu juga dalam memainkan Biola Pasisia, tidak bisa jari-jari pemain biola itu untuk melantunkan irama not nya, apabila tidak ada arah cerita yang bisa disampaikan. Tanpa ada cerita, Biola Pasisia seakan hilang kegagahannya di hadapan para wanita cantik rupawan.
“Dalam bermain Biola Pasisia ini ada cerita barulah kita main. Cerita itu bukanlah karangan atau hayalan, tapi kisah nyata. Melalui kisah nyata itu, ada nasihat dan pesan hidup yang bisa disampaikan kepada masyarakat. Jadi tidak sembarangan gesek saja biolanya,” tegasnya.
Tidak dapat dipungkiri, dalam menerima informasi dari kisah hidup yang disampaikan masyarakat kepada pemain biola nya, haruslah menghadapi orang-orang sentimentil, atau orang-orang yang punya cerita haru. Karena memang, dalam menyampaikan sebuah kebenaran itu tidak lah mudah, butuh perjuangan untuk melawan diri sendiri. Ingin tetap bersekukuh menyimpan kebohongan, atau malah berkata jujur.
Kisah-kisah hidup yang disampaikan oleh pemain biola itu, sering didengar dalam acara pesta pernikahan atau pesta khitanan anak. Di kesempatan itu, pihak yang menggelar pesta mengundang pemain biola sebagai hiburan bagi tamu undangan pesta yang hadir. Biasanya Biola Pasisia akan digesek di saat usai waktu shalat Isya. Agar suara dan musik yang dilantunkan terdengar untuk satu kampung, pihak pesta pun menyediakan pengeras suara.
Serta agar lebih hikmat dan memahami bait demi bait cerita yang disampaikan yang diiringi dengan gesekan biola, tamu atau masyarakat yang hadir di pesta itu akan dihidangkan segelas kopi hangat yang manisnya terasa sangat tipis. Suasana malam yang mulai terasa hening itu, membuat seseorang yang mendengarkannya akan terhanyut suasana dari kisah yang disampiakan oleh pemain biola.
Tak jarang, tamu dan masyarakat yang mendengarkan lantunan biola ketika itu, ada yang menangis, dan ada yang bersorak. Kondisi itu tergantung dari cerita yang disampaikan, karena namanya proses perjuangan hidup, memiliki cerita yang mengandung suka dan duka.
Kondisi seperti ini, yang membuat Biola Pasisia tidak ditelan oleh zaman yang menghadirkan berbagai jenis aliran musik. Lagu pada umumnya bisa saja memiliki lirik dari berbagai pengalaman hidup. Tapi musik di Biola Pasisia, adalah seni menyampaikan kisah nyata kepada masyarakat.
Biola Pasisia yang seakan menjadi hiburan bagi tamu pesta pernikahan, tentulah tidak sekedar jeputan biasa. Di Kabupaten Pesisir Selatan, bagi yang ingin mendatangkan pemain biola perlu mengeluarkan honor, yang berkisar mulai dari Rp1,5 juta hingga Rp2,5 juta. Adanya perbedaan tarif atau honor, tergantung dari jarak tempuh yang diakan dilalui oleh pemain biola dari rumahnya.
Dicintai Generasi Muda
Biola Pasisia yang masih eksis dan bahkan memiliki nilai ekonomi yang cukup menjanjikan, serta mendapatkan kepercayaan dari masyarakat, ternyata tidak begitu banyak generasi di Kabupaten Pesisir Selatan yang memiliki minat untuk mempelajari Biola Pasisia.
Seperti yang dikatakan oleh Fardianto (20), generasi milenial yang kini tengah menekuni belajar Biola Pasisia, alasan ketertarikannya belajar Biola Pasisia, berawal dari keseringannya menyaksikan rabab di berbagai panggung, dan yang ia pahami, bermain Biola Pasisia, selain turut melestarikan kesenian tradisional, juga bisa memberikan pelajar tentang karakter diri, yakni menjadi orang yang jujur, dan tidak menyampaikan sebuah kebohongan.
“Saya sudah belajar sejak tahun 2016. Cara memainkannya sulit sih, tapi kalau sudah dapat caranya itu, wah sungguh menyenangkan sekali. Memang saya belum bisa seutuhnya seperti pemain biola lainnya, tapi saya akan coba untuk terus belajar,” sebutnya.
Ia menceritakan, dalam belajar Biola Pasisia ibarat kuliah 6 SKS, karena untuk belajar memegang biola saja, butuh waktu. Belum lagi cara memahami not biolanya, serta cara mendendangkan lantunan cerita yang diiringi dengan gesekan biola yang ditumpukan di ujung kaki. Kini, perjuangan Fardianto masih berlanjut untuk menjadi generasi melestarikan kesenian tradisional di Minangkabau atau di Pesisir Selatan.
Dinaungi Pemerintah
Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan tidak lepas tangan dengan keberadaan Biola Pasisia yang hanya ada satu-satunya di Sumatera Barat itu. Kini Pemkab Pesisir Selatan, telah mengeluarkan imbauan kepada masayarakat setempat untuk menghadirkan Biola Pasisia diberagam kegiatan, baik formal maupun non formal.
Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni, mengatakan, Biola Pasisia kini juga merupakan karya Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia 2019 yang diumumkan pada Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2019 yang digelar Selasa lalu di Jakarta. Biola Pasisia merupakan 13 diantara karya seni lainnya yang ditetapkan WBTB oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
“Di momen itu kita juga menampilkan Biola Pasisia nya, dan semua orang terpukau, karena kesenian tradisional seperti Biola Pasisia masih ada sampai sekarang. Kita juga menyatakan bahwa Biola Pasisia adalah kesenian tradisional yang menyampaikan pesan secara faktar, bukan hayalan,” ungkapnya.
Selain itu, kini Pemkab Pesisir Selatan, juga tengah menyelesaikan tugu Biola Pasisia yang dibangun di kawasan Kota Painan, Pesisir Selatan. Tugu itu menunjukan sebuah ukuran seorang tengah memainkan Biola Pasisia dengan gaya uniknya. Dalam waktu dekat, tugu tersebut selesai dikerjakan, dan demikian, semua orang akan tahu bahwa Biola Pasisia adalah ikon kesenian tradisional di Pesisir Selatan.
Lambang Kecerdasan
Biola atau yang dikenal masyarakat setempat rabab merupakan kesenian tradisional yang umurnya sudah tergolong tua. Sebutan rabab pada biola ini berkaitan dengan latar belakang sejarahnya. Alat musik ini pada awalnya dibawa oleh pedagang-pedagang dari Aceh yang datang ke Minangkabau untuk berdagang dan menyebarkan Islam. Mereka menyebarkan Islam dengan dakwah yang diiringi dengan musik rabab.
Budayawan dan Seniman Sumatera Barat, B Andoeska, mengatakan, pada awalnya, alat musik rabab tidaklah berbentuk seperti biola saat ini. Akan tetapi, setelah kedatangan bangsa Eropa, yaitu Belanda, Inggris, dan Portugis ke wilayah Pesisir Selatan dengan membawa alat musik gesek yang dinamakan ‘Biola’. Dari sinilah alat musik rabab yang terbuat dari tempurung kelapa itu menyesuaikan diri dengan alat musik biola yang dibawa oleh bangsa Eropa. Sehingga sampai sekarang alat musik itupun disebut Biola, hanya cara memainkannya tidak dipundak melainkan di bawah dengan cara bersila.
“Biola di Pesisir Selatan itu sebagai bukti bahwa orang Minangkabau itu memiliki kecerdasan dan keunikan. Biasanya biola di bahu, tapi bagi masyarakat Minangkabau dimainkan dengan cara bersila. Begitu juga soal lagunya, di biola pada umunya ada lagunya, tapi di Biola Pasisia ada pesan yang disampaikan dengan cara mendendangkan dengan bahasa Minang lokal Pesisir Selatan,” ungkapnya.
B Andoeska yang akrab di sapa Mak Etek ini pun menyatakan, bahwa Biola Pasisia adalah salah satu kearifan lokal di Sumatera Barat yang memiliki peranan penting menyampai kabar kepada masyarakat, melalui karya seni. Selain Biola Pasisia yang merupakan kearifan lokal, juga ada Randai yang didasari dari seni gerakan silat yang juga memiliki ceritanya. Begitu juga saluang, juga ada sebuah dendangan yang dimainkan, yang bersumber dari sebuah kisah.
“Kalau kita lihat, kesenian tradisional di Minangkabau ini banyak terinspirasi dari tentang kehidupan. Jadi sangat tidak masuk akal, jika ceritanya itu bohong, karena itu bukanlah karakternya orang Minang. Kita ini, biarlah beurai air mata menyampaikannya, asalkan hal yang disampaikannya itu sebuah kebenaran,” jelasnya. (M Hendra)
