Konten dari Pengguna

Kisah Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Seorang Nenek Tunanetra di Gubuk Reyot

Lentera Ramadhan

Lentera Ramadhan

Ilmu dan iman harus menjadi lentera dalam menyambut Ramadhan.

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lentera Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi gurun di Arab Foto: AFP/Mohamed el-Shahed
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gurun di Arab Foto: AFP/Mohamed el-Shahed

Kisah ini tersohor, yakni soal dua sahabat Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar bin Khattab dan seorang nenek tua.

Suatu pagi selepas subuh, Umar melihat Abu Bakar berjalan menuju pinggiran kota. Ternyata, Abu Bakar rutin menuju tempat yang sama setiap subuh. Umar yang kerap melihat hal tersebut menjadi penasaran dan mengikutinya.

Umar kaget melihat Abu Bakar mengunjungi sebuah gubuk tempat tinggal seorang nenek yang tak lagi mampu melihat. Kemudian, setelah Abu Bakar keluar dari gubuk, Umar mengucapkan salam dan masuk ke dalam gubuk.

kumparan post embed

Ia bertanya kepada nenek tua itu tentang apa yang dilakukan Abu Bakar. “Apa yang dilakukan pria itu di gubukmu ini, Nek?” Nenek itu pun menjawab: “Entahlah, tapi setiap pagi ia datang, membersihkan rumahku dan menyiapkan makan untukku.”

Umar pun menangis melihat perbuatan Abu Bakar yang merupakan seorang Khalifah (pemimpin) umat Islam pertama setelah Nabi Muhammad meninggal dunia, rela membersihkan rumah nenek tua dan menyiapkan makanannya. Apalagi tanpa menyebut identitas dirinya itu kepada nenek.

Alquran. Foto: pixabay.com/Afshad

Umar juga takut tak mampu berbuat kebaikan lebih dari apa yang dilakukan Abu Bakar. Namun, Ia tetap bertekad melampaui kebaikan sahabatnya itu. Begitulah para sahabat terus menabung dan berlomba dalam kebaikan.

Memaknai kisah dua sahabat rasul itu, hendaknya bisa menjadi refleksi diri kita saat ini. Selama niatnya hanya untuk Allah, berbuat baik bisa menjadi bahan perlombaan yang menyenangkan. Allah pun berjanji akan menghadiahi semua kebaikan manusia. Sebab, Allah pernah berfirman dalam QS az-Zalzalah: 7-8, bunyinya

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ. وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ

Artinya;

Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

Dalam Alquran Surat Ali Imran ayat 159 dijelaskan tentang nilai-nilai kepemimpinan yang menjadi keseharian Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِين

Artinya, “Maka sebab rahmat dari Allah, engkau bersikap lemah-lembut kepada mereka. Seandainya engkau bersikap kasar (dalam ucapan dan perbuatan), mereka pasti pergi meninggalkanmu (tidak mau berdekatan denganmu). Maafkanlah mereka. Mohonkan ampun lah untuk mereka. Ajaklah mereka bermusyawarah (mendengarkan aspirasi mereka) dalam segala perkara (yang akan dikerjakan). Jika engkau sudah berketetapan hati, tawakal-lah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang tawakal,” (Surat Ali Imran ayat 159).

kumparan post embed

Dilansir dari NU Online, berdasarkan ayat di atas, seorang pemimpin harus memiliki karakter lemah lembut, tidak kasar, baik dalam ucapan atau perbuatan, siap memaafkan kesalahan orang lain, selalu memohonkan ampunan untuk rakyatnya yang berbuat dosa, siap mendengarkan aspirasi rakyat (demokratis), memiliki komitmen yang kuat untuk melakasanakan tugas yang diembankan dan selalu tawakal kepada Allah.

(RZL/SLM)