Liburan Cerdas & Seru: Kenapa ‘minimal travel’ Jadi Pilihan Anak Muda Sekarang?

Mahasiswa S1 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga angkatan 2025 yang memiliki ketertarikan pada bidang edukasi kesehatan dan kegiatan pengembangan.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Lukman Hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah gempuran konten glamor dari destinasi luar negeri, ternyata tren minimal travel mulai merajai feed anak muda Indonesia dan bukan cuma karena murah, tapi juga lebih meaningful. Generasi Z dan milenial kini memilih pengalaman yang ringkas, lokal, dan lebih ‘berarti’ daripada sekadar cap paspor. Saat teman-teman masih sibuk cari deal penerbangan ke Eropa, ada yang justru menjelajah ke desa terpencil, naik sepeda ke air terjun dekat kota, atau camping di pinggir pantai yang jarang tersentuh.
Mengapa? Pertama, karena biaya makin tinggi tiket pesawat, akomodasi, bahkan visa bisa bikin isi dompet menipis. Pilihan lokal muncul sebagai jawaban jitu: akses mudah, biaya lebih terkendali, dan pengalaman yang tak kalah unik. Kedua, karena kesadaran akan lingkungan makin besar. Gaya hidup minimalis dan konsumsi berlebih sudah mulai dianggap kurang cocok dengan nilai-nilai generasi sekarang.
Maka muncullah konsep “travelling mini tapi cerita makro”: view sunrise di bukit dekat rumah, road-trip akhir pekan ke pantai pinggiran kota, atau staycation di homestay unik dengan konsep lokal. Liburan jadi bukan lagi tentang “ke mana saya pergi” tapi “apa yang saya rasakan dan pelajari”.
Ini beberapa tips supaya gaya minimal travel-mu makin keren:
Pilih destinasi yang nggak terlalu populer: selain lebih tenang, biayanya juga lebih bersahabat.
Perencanaan fleksibel: misalnya liburan sabtu-minggu ke tempat dekat, sehingga nggak perlu cuti banyak.
Bawa pengalaman pulang: gunakan kamera/HP untuk dokumentasi, tapi juga catat cerita local, interaksi dengan warga, suasana yang nggak mainstream.
Travel dengan mindset “kurang lebih”: bukan soal banyak foto, tapi soal kenangan dan makna.
Komitmen ramah lingkungan: bawa tumbler, hindari plastik sekali pakai, pilih transportasi publik atau bersepeda bila memungkinkan.
Yang menarik: dengan gaya ini, liburan bisa jadi lebih sering dilakukan tanpa harus nunggu libur panjang atau budget besar. Hasilnya: keseimbangan hidup lebih baik, stres menurun, dan kita bisa jadi lebih dekat dengan komunitas serta alam di sekitar kita.
Bahkan, tempat-tempat lokal yang dulu dianggap “biasa saja” kini jadi arena eksplorasi kreatif: mulai dari desa wisata dengan homestay rumah panggung, hingga kafe-atap di sudut kota yang punya view instagram-able tanpa harus bayar mahal. Hal ini juga menghasilkan cerita menarik untuk medsos atau blog pribadi yang artinya, kamu bukan cuma ‘relaks’, tapi juga bisa jadi inspirasi bagi teman-temanmu.
Satu hal penting: jangan takut untuk memulai dengan skala kecil. Liburan akhir pekan ke taman nasional dekat kota aja bisa menghadirkan pengalaman yang beda dari rutinitas. Supaya efeknya maksimal, atur waktu keberangkatan supaya masih pagi, bawa snack sendiri, dan pilih rute pulang yang memungkinkan kamu tiba sebelum malam.
Pada akhirnya, gaya minimal travel membuktikan satu hal: liburan yang berarti nggak selalu harus jauh atau mahal. Yang penting adalah niat, pengalaman, dan cerita yang kamu bawa pulang. Jadi, tunggu apa lagi? Siapkan tas ringan, atur jadwal akhir pekanmu, dan nikmati liburan dengan style yang lebih ‘smart’.
