Konten dari Pengguna

Kemarau Basah, Syukur yang Dipaksa Dirayakan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lulu Marsha Ariftha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Panen gagal perlu dirayakan?

Pertanyaan itu muncul berkali-kali dalam cerpen "Resah Kemarau Basah" karya Erna Widi, dan justru menjadi bagian yang paling membekas setelah cerita selesai dibaca. Kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi menyimpan kegelisahan yang jauh lebih besar daripada sekedar cerita tentang musim panen. Cerpen ini berbicara tentang petani yang gagal panen, tradisi yang perlahan kehilangan makna, hingga pergulatan batin seseorang yang melihat kenyataan pahit tetapi tidak mampu mengubah keadaan.

Sebagaimana dirumuskan oleh Burhan Nurgiyantoro dalam Teori Pengkajian Fiksi (2015). Meski Nurgiyantoro merumuskan beberapa unsur pembangun fiksi (tema, alur, dan konflik, penokohan, latar, sudut pandang, dan lain-lain) sebagai satu kesatupaduan yang "jauh lebih bermakna daripada unsur-unsur pembentuknya secara sendiri dan terpisah" (Nurgiyantoro, 2015), analisis ini secara khusus difokuskan pada satu unsur yang paling menonjol dalam cerpen ini, yaitu tema, dengan alur dan konflik sebagai unsur pendukung yang menunjukkan bagaimana tema itu bergerak sepanjang cerita.

Ilustrasi suasana dusun saat kemarau basah, gaplek yang dijemur di atas nampan justru terguyur becek karena hujan datang di luar musimnya, menggambarkan kegagalan panen yang menjadi latar cerpen "Resah Kemarau Basah". Foto tersebut diambil dari imajinasi penulis, L Marsha A yang direkayasa kembali di aplikasi Hypic, lalu dibantu pewarnaannya menggunakan Ibis Paint dan Canva. Serta didukung oleh device yang mencukupi untuk penampilan HD.

Cerpen ini berkisah tentang Nawan, remaja desa yang tengah menghadapi kegagalan panen gaplek akibat hujan yang datang diluar musimnya. Di tengah kesulitan ekonomi keluarganya, warga dusun justru bersiap menggelar rasulan, tradisi syukuran hasil bumi secara meriah. Nawan bergulat dengan keinginannya berhenti kuliah demi meringankan beban bapaknya, sementara ia juga berselisih pandangan dengan Sigit yang ingin mempertahankan kemeriahan hasil tradisi bahwa gunungan hasil bumi yang diarak dalam rasulan ternyata bukan berasal dari panen warga sendiri, sebuah kenyataan yang mempertegas pergeseran makna tradisi tersebut.

Menurut Nurgiyantoro (2015: 70), tema merupakan "gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya satra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis." Tema tidak dinyatakan sebagai eksplisit oleh pengarang, melainkan harus disimpulkan pembaca dari keseluruhan cerita, dari peristiwa, konflik dan sikap tokoh-tokohnya. Dengan kerangka ini, tema "Resah Kemarau Basah" dapat ditelusuri bukan dari satu adegan saja, melainkan dari benturan yang berulang antara dua kekuatan, yaitu: rasa syukur sebagai nilai budaya dan realitas ekonomi masyarakat yang sedang krisis.

Benturan ini pertama kali tergambar lewat kondisi ekonomi keluarga Nawan. Ketika bapaknya berkata:

Kita kasih gratis ke orang pun sudah ndhak ada yang mau nerima, Wan.

pembaca diperlihatkan bahwa gaplek yang dahulu menjadi sumber penghasilan kini kehilangan nilai sama sekali. Tema semakin menguat saat Nawan menolak rencana rasulan yang terlalu meriah:

Saya hanya tidak mau membebani masyarakat dusun kita dengan iuran yang besar, Mas. Gaplek kita bahkan ndhak laku dijual.

Puncak penegasan tema hadir lewat pertanyaan Nawan saat melihat gunungan hasil bumi yang bukan berasal dari panen warga sendiri.

“Jadi, sebenarnya kita ini merayakan hasil panen siapa?”

Pertanyaan inilah yang mengikuti kriteria Nurgiyantoro bahwa tema pokok harus “merasuki keseluruhan cerita” (2015: 69). Paling tepat disebut sebagai tema utama karena rasulan yang lahir sebagai ungkapan syukur perlahan berubah menjadi seremoni yang dipertahankan demi gengsi sosial, meski maknanya sendiri sudah bergeser. Tema lah yang membuat cerpen ini kuat dengan pertanyaan

untuk apa panen yang gagal perlu dirayakan?

Muncul di awal cerita dan bergema kembali di titik klimaks. Pengulangan gagasan pada dua titik penting cerita, dari pembuka hingga puncak konflik adalah tanda paling jelas bahwa tema adalah unsur yang paling menonjol, bukan hanya sekedar motif sampingan.

Lalu terlihat pada pergulatan batin Nawan yang menawarkan diri berhenti kuliah demi bapaknya:

Pak, aku kerja saja, ya, Pak. Kuliahnya bisa tahun depan lagi.

yang segera ditolak keras oleh bapaknya:

Ndhak! Kalau kamu ndhak mau senasib kayak bapak jangan sekali-sekali berpikir mau berhenti sekolah.

Di titik ini, Nawan terjebak antara rasa bersalah dan keinginan meringankan beban keluarganya. Konflik eksternal muncul melalui perselisihan pandangan antara Nawan dan Sigit soal kelayakan menggelar rasulan secara meriah di tengah gagal panen.

Konflik ini mencapai klimaks ketika Nawan menyaksikan gunungan hasil bumi yang diarak ternyata bukan hasil panen warga sendiri. Sebuah penyingkapan yang mempertegas bahwa perayaan yang berlangsung sudah kehilangan dasar kejujurannya. Alur cerita bergerak dari keresahan pribadi Nawan menuju kesadaran kolektif tentang kepalsuan yang dipelihara demi menjaga citra dusun.

Nurgiyantoro (2015: 194–195) membedakan dua teknik pelukisan tokoh, yaitu teknik ekspositori (langsung, lewat deskripsi pengarang) dan teknik dramatik (tidak langsung, lewat dialog dan tindakan tokoh). Cerpen ini secara dominan menggunakan teknik dramatik, watak tokoh tidak diberitahukan secara gamblang oleh pengarang, melainkan diperlihatkan lewat percakapan-percakapan yang telah dikutip di atas.

Nawan tampil sebagai tokoh utama, karena ia paling banyak diceritakan dan seluruh peristiwa berkaitan dengannya secara langsung. Ia bukan tokoh yang melawan semua orang, melainkan suara kecil yang mewakili kegelisahan masyarakat desa seorang tokoh yang mengikuti istilah Nurgiyantoro, cenderung kompleks karena mengalami pergolakan batin, bukan sekadar menjalankan satu sifat tunggal. Bapak Nawan berperan sebagai tokoh tambahan yang penting, melalui dialog-dialognya (“Pasti ada cara”) ia turut membawa dan menegaskan tema tentang harapan yang dipaksakan di tengah keterhimpitan ekonomi, termasuk isyarat tersembunyi mengenai jerat rentenir lewat sosok “lelaki berjaket kulit beraroma matahari”.

Sigit, di sisi lain, berfungsi sebagai penyeimbang pandangan Nawan tanpa harus digambarkan sebagai tokoh antagonis dalam pengertian “jahat”. Ia mewakili kelompok yang lebih mementingkan pamor dan citra dusun. Ketiadaan tokoh yang benar-benar jahat dalam cerpen ini justru memperkuat tema mengenai persoalan yang diangkat bukan soal individu baik-buruk, melainkan benturan cara pandang dalam masyarakat yang sama-sama berusaha bertahan.

Nurgiyantoro (2015: 216–218) menggolongkan latar ke dalam latar tempat, latar waktu, dan latar sosial, yang ketiganya berfungsi memberi pijakan konkret bagi cerita. Latar tempat cerpen ini adalah sebuah dusun yang perekonomiannya bergantung pada hasil bumi, khususnya gaplek. Latar waktu berkaitan erat dengan judul cerpen itu sendiri: musim kemarau yang seharusnya kering justru diselingi hujan tak menentu sebuah anomali iklim yang menjadi penyebab langsung kegagalan panen sekaligus metafora bagi keresahan yang terus-menerus “membasahi” perayaan yang seharusnya kering dari kepalsuan.

Menurut Nurgiyantoro (2015: 246), mempersoalkan “dari posisi mana peristiwa dan tindakan itu dilihat” dan menentukan kadar keterbatasan maupun keobjektifan penceritaan. Berdasarkan kutipan-kutipan yang tersedia dimana Nawan disapa dengan namanya sendiri dan tindakannya diceritakan dari luar (“Tokoh Nawan hadir…”, “Keresahan Nawan mencapai puncaknya…”) cerpen ini tampak menggunakan sudut pandang persona ketiga yang berfokus pada satu tokoh, yakni Nawan, sehingga pembaca terutama mengikuti apa yang dilihat, didengar, dan dirasakannya.

Kekuatan terbesar cerpen ini terletak pada keberaniannya mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat desa saat ini. Perubahan iklim membuat musim semakin sulit diprediksi, harga hasil panen sering tidak sebanding dengan biaya produksi, sementara tuntutan sosial tetap berjalan seperti biasa. Akibatnya, banyak keluarga yang tetap memaksakan diri mengadakan pesta atau mengikuti tradisi meskipun harus berutang.

Cerpen ini juga mengingatkan bahwa kemiskinan tidak selalu terlihat dari pakaian lusuh atau rumah sederhana. Kadang-kadang kemiskinan justru tersembunyi di balik pesta yang meriah. Orang-orang tetap tersenyum, tetap menerima tamu, tetap memasak makanan dalam jumlah banyak, tetapi setelah tamu pulang mereka kembali menghitung utang dan memikirkan bagaimana bertahan sampai panen berikutnya. Melalui tokoh Nawan, Erna Widi mengajak pembaca mempertanyakan kembali arti syukur yang sesungguhnya: apakah rasa syukur harus selalu ditunjukkan dengan kemeriahan, ataukah cukup diwujudkan dengan saling memahami keadaan, tanpa memaksa siapa pun mengorbankan kebutuhan hidup demi menjaga gengsi bersama.

“Resah Kemarau Basah” bukan sekadar cerita tentang kegagalan panen, melainkan potret bagaimana sebuah tradisi dapat kehilangan maknanya ketika dipertahankan hanya demi gengsi sosial. Tradisi tentu layak dipertahankan karena menjadi bagian dari identitas budaya, tetapi ia juga perlu tetap berpijak pada kondisi masyarakat yang menjalaninya. Ketika sebuah perayaan lebih banyak menghadirkan kecemasan daripada kebahagiaan, mungkin sudah saatnya maknanya kembali direnungkan.

Daftar Pustaka

Erna Widi. 2025. “Resah Kemarau Basah.” Kompas, 2 September 2025.

Nurgiyantoro, Burhan. 2015. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.