Konten dari Pengguna

Tradisi Dirayakan, Penderitaan Disembunyikan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lulu Marsha Ariftha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat panen gagal dan petani menanggung, dusun justru sibuk menjaga gengsi sebuah ironi yang diam-diam hidup di sekitar kita.

Ilustrasi gambar pada cerpen Resah Kemarau Basah yang mengidentifikasikan lingkungan perkampungan disebuah desa yang mempunyai adat rasulan namun rakyat memiliki penderitaan yang tidak terlihat. Gambar tersebut diambil dan di edit sendiri melalui aplikasi Canva dan efek cool pada IOS 26.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gambar pada cerpen Resah Kemarau Basah yang mengidentifikasikan lingkungan perkampungan disebuah desa yang mempunyai adat rasulan namun rakyat memiliki penderitaan yang tidak terlihat. Gambar tersebut diambil dan di edit sendiri melalui aplikasi Canva dan efek cool pada IOS 26.

Setelah membaca cerpen Resah Kemarau Basah, ada satu hal yang mengganggu saya.

karya Erna Widi: betapa familiarnya logika yang dikritik cerpen ini, padahal latarnya, sebuah dusun kecil yang sedang bersiap menggelar rasulan.

Nawan, tokoh utama cerpen ini, harus menyaksikan kampungnya bersiap pesta besar-besaran justru di saat ekonomi keluarganya paling rapuh. Hujan turun di musim yang salah, merusak gaplek hasil ladangnya hingga tidak laku dijual. Tapi dusun bergerak kearah yang berlawanan. Panggung hiburan dipesan, iuran dikumpulkan dari warga, dan yang dipertaruhkan bukan lagi rasa syukur, melainkan pamor desa di mata tetangga.

Untuk membaca ketegangan ini, saya pakai empat pendekatan yang dijelaskan A. Teeuw dalam Sastra dan Ilmu Sastra (1984) meski perlu disebut juga bahwa kerangka ini sebenarnya berasal dari M.H. Abrams, dan Teeuw lebih banyak menjelaskan ulang serta memperkenalkannya ke konteks sastra Indonesia. Empat pendekatan itu adalah objektif (teks sebagai struktur yang berdiri sendiri), mimetik (hubungan teks dengan realitas), ekspresif (hubungan teks dengan pengarangnya), dan pragmatik (efek teks pada pembaca)

Ironi yang Dibangun Lewat Struktur

Dilihat secara objektif, kekuatan cerpen ini bukan pada narasi yang menggurui, tapi pada satu detail kecil yang baru terasa beratnya belakangan: gunungan hasil panen yang diperebutkan warga, yang sebenarnya disusun dari bahan-bahan yang dibeli di pasar, bukan dari hasil ladang mereka sendiri. Simbol syukur itu, pada akhirnya, sudah tidak punya hubungan apa-apa dengan yang hendak disyukuri.

Cara dialog dibangun pun ikut menebalkan ironi itu. Sigit, ketua panitia, menjawab keresahan Nawan dengan satu kalimat singkat:

“Kalau pertunjukan tidak meriah, bisa memengaruhi pamor dusun.”

Kalimat itu pendek, tapi bobotnya berat. Ukuran keberhasilan rasulan rupanya sudah bergeser, dari kedalaman rasa syukur menjadi seberapa ramai tontonan yang bisa dihadirkan.

Ada wajah petani yang dikenali banyak orang, secara mimetik, cerpen ini terasa seperti cermin. Nasib petani yang terjepit antara cuaca tak menentu, harga jual rendah, dan kebutuhan hidup yang tidak pernah turun, bukan hal asing bagi siapa pun yang besar di kampung atau setidaknya pernah dengar ceritanya dari orang tua. Yang menarik, Nawan sendiri tidak menolak tradisi. Ia justru memahami rasulan sebagai warisan leluhur yang berharga. Yang ia pertanyakan hanya logikanya: mengapa perayaan syukur atas hasil panen tetap harus berjalan, saat panen itu sendiri gagal? Ia menyampaikan keberatannya dengan nada menahan diri, hampir seperti minta maaf:

“Saya hanya tidak mau membebani masyarakat dusun kita dengan iuran yang besar, Mas. Gaplek kita bahkan ndhak laku dijual. Jagung dan kacang sudah lama habis terjual.”

Dialognya dengan sang ayah juga tidak dibuat dramatis berlebihan, padahal isinya getir:

“Menjadi petani itu tidak salah, Pak. Hanya saja nasib menjadi petani di negeri ini seolah pekerjaan hina.”

Sang ayah hanya menjawab dengan kalimat yang sama setiap kali terbentur kesulitan:

“Pasti ada cara.”

Entah itu harapan, entah kepasrahan. Erna Widi membiarkannya ambigu, dan justru di situ letak kekuatannya.

Dari sisi ekspresif, kritik yang tidak diteriakkan atau bagaimana cerpen ini mencerminkan sikap pengarangnya, pilihan Erna Widi cukup jelas, ia tidak menjadikan Nawan corong protes. Nawan dibiarkan bingung, resah, dan pertanyaannya pun dibiarkan menggantung tanpa jawaban tegas:

“Jadi, sebenarnya kita ini merayakan hasil panen siapa?”

Justru karena tidak dijawab, pertanyaan itu bekerja lebih dalam ke kepala pembaca. Teeuw (1984) pernah menulis bahwa salah satu fungsi paling kuat sastra adalah menghadirkan kesadaran kritis lewat pertanyaan, bukan pernyataan langsung. Cerpen ini berjalan persis di jalur itu kritiknya diselipkan di celah-celah dialog yang tampak biasa saja, bukan dipidatokan.

Secara pragmatik, efek cerpen ini justru terasa setelah halaman terakhir ditutup. Diakhir cerita, rasulan tetap berlangsung meriah. Dusun ramai, pertunjukan sukses, pamor terjaga. Tapi Nawan tetap resah, dan keresahan itu yang ikut terbawa pembaca pulang. Pertanyaan penutup yang ditinggalkan pengarang pun tidak mudah dilupakan:

“Lantas, untuk apa panen yang gagal perlu dirayakan sementara di hari lain tetap kelaparan?”

Tidak ada yang digurui di sini. Pembaca hanya diajak berpikir bersama Nawan, dan itu sudah cukup.

Resah Kemarau Basah bukan cerpen yang menolak tradisi. Ia justru mencintainya cukup dalam untuk berani mempertanyakannya. Ketika rasa syukur berubah jadi beban, dan kebersamaan bergeser jadi tuntutan menjaga gengsi, Erna Widi mengingatkan satu hal sederhana: tradisi yang kehilangan rohnya hanya akan jadi pertunjukan, dan pertunjukan paling mewah sekalipun tidak bisa mengenyangkan perut yang lapar.

Daftar Pustaka

Teeuw, A. (1984). Sastra dan ilmu sastra. Pustaka Jaya.

Widi, E. (2026, 27 Mei). Resah kemarau basah. Kompas.