Catatan Meja Makan Lebak Bulus: Perbedaan Karakter Dakwah Islam Jakarta & Jawa

Masa kecil dan masa muda banyak dihabiskan di pesantren di Pekalongan Jawa Tengah dan Jombang Jawa Timur. Menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Gadjah Mada, melanjutkan pascasarjana di Ohio University, USA.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari M Chozin Amirullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh: M. Chozin Amirullah

Pagi hari tanggal 23 Mei 2023 lalu, kediaman Anies Baswedan di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, kedatangan tamu istimewa. Beliau adalah Abah Syarif Hidayatullah, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda dari Sragen, Jawa Tengah. Abah Syarif tidak datang sendiri; beliau didampingi oleh sang istri tercinta dan beberapa santri setianya.
Saya beruntung bisa hadir dan mendampingi Mas Anies menyambut kehadiran rombongan dari Sragen ini. Pertemuan yang diawali dengan jamuan sarapan pagi yang hangat itu segera mencair menjadi sebuah ruang diskusi yang sangat bernilai. Selama hampir dua jam, kami duduk melingkari meja bundar khas di rumah Mas Anies, berbincang akrab mengalir seputar dinamika kehidupan pesantren dan syiar Islam di tanah air.
Namun, ada satu bagian dari obrolan pagi itu yang bagi saya sangat mencerahkan. Yaitu ketika Mas Anies mengulas secara historis mengapa ada perbedaan karakter yang cukup kontras antara ekspresi Islam di Jakarta dan di Jawa.
Sebuah perspektif sosiologi-sejarah yang jarang dikupas di ruang publik.
Jakarta: Islam yang Lahir dari Rahim Perlawanan Langsung
Mas Anies menjelaskan bahwa masyarakat Jakarta (Betawi) merasakan langsung intimidasi dan cengkeraman penjajahan kolonial Belanda di depan mata mereka setiap hari. Faktor geopolitik sebagai pusat pemerintahan Batavia membuat kontrol penjajah sangat ketat.
Salah satu kebijakan represif Belanda saat itu adalah melarang para ulama atau kiai untuk memiliki tanah dalam skala besar. Akibatnya, institusi formal seperti pesantren tidak bisa tumbuh. Jangan heran jika hari ini kita tidak menemukan pesantren tua yang berdiri sebelum era kemerdekaan di Jakarta. Bahkan, masjid-masjid besar yang berusia berabad-abad pun tidak ada.
Kondisi sosiologis ini melahirkan metode dakwah yang unik: Kiai yang mendatangi santri, bukan sebaliknya. Para ustaz dan mualim harus bergerak lincah dari kampung ke kampung, dari majelis taklim ke majelis taklim lainnya untuk mengajar.
Karena tumbuh dalam tekanan fisik dan psikologis penjajah yang represif, karakter Islam di Jakarta menjelma menjadi lebih keras, blak-blakan, egaliter, dan spontan dalam merespons ketidakadilan.
Jawa: Kedalaman Pesantren dan Kelembutan Tradisi
Pemandangan berbeda terjadi di pedalaman Jawa, termasuk di wilayah asal Abah Syarif di Sragen. Secara geografis dan politis, masyarakat di pedalaman Jawa tidak bersentuhan langsung secara intensif dengan dinamika harian kolonial di pusat kota Batavia.
Di wilayah-wilayah ini, para kiai masih relatif diberikan kelonggaran atau memiliki ruang untuk menguasai tanah. Di atas tanah-tanah itulah institusi pesantren didirikan dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Di Jawa, polanya berkebalikan dengan Jakarta: Santri yang mendatangi kiai. Mereka datang berbondong-bondong dari berbagai daerah, menetap di pondok, dan mengabdi kepada guru.
Sistem pesantren menetap yang jauh dari hiruk-piku pusat penjajahan ini membentuk ruang kontemplasi yang tenang. Nilai-nilai Islam berakulturasi secara halus dengan budaya lokal. Hal inilah yang membentuk karakter dakwah Islam di Jawa menjadi lebih lembut, sarat simbol, penuh kehati-hatian, dan tidak spontan seperti saudara-saudara mereka di pesisir ibu kota.
Sebuah Refleksi Pengayaan
Dua jam berbincang di meja makan Lebak Bulus pagi itu memberikan kami sebuah kesimpulan penting. Perbedaan karakter dakwah antara Jakarta dan Jawa bukanlah sebuah pertentangan teologis, melainkan sebuah produk sejarah (historical product) yang saling melengkapi.
Jakarta dengan watak spontanitasnya yang tegas adalah simbol determinasi melawan ketimpangan, sementara Jawa dengan kelembutan pesantrennya adalah jangkar ketenangan budi pekerti dan sanubari.
Mendengar penuturan Mas Anies dan respons penuh kebijaksanaan dari Abah Syarif pagi itu, saya menyadari betapa kayanya tenun keislaman dan keindonesiaan kita. Keduanya dibentuk oleh sejarah, dan keduanya sama-sama merawat Indonesia dengan caranya masing-masing.
