6 Penyebab Bayi Lahir Prematur

·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Mama Rempong tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mama-mama yang sedang hamil, pasti sangat tidak sabar ingin segera bertemu si kecil. Pada kondisi normal, bayi akan lahir setelah kandungan berusia kurang lebih 40 minggu.
Namun, pada kondisi tertentu, bayi bisa lahir lebih cepat dari yang seharusnya. Kondisi ini disebut dengan kelahiran prematur, yakni kelahiran yang terjadi pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu.
Mengutip Healthline, minggu-minggu terakhir atau trimester ketiga di dalam rahim sangat penting untuk penambahan berat badan yang sehat dan perkembangan sempurna berbagai organ vital, termasuk otak dan paru-paru.
Inilah kenapa bayi yang lahir secara prematur mungkin memiliki badan yang lebih kecil dari bayi pada kondisi normal, Ma.
Perlu Mama-mama ketahui, bayi prematur biasanya memiliki lebih rentan mengalami masalah medis dan memerlukan perawatan di rumah sakit lebih lama. Bayi prematur mungkin juga memiliki masalah kesehatan jangka panjang, seperti ketidakmampuan belajar atau fisik.
Menurut World Health Organization (WHO), diperkirakan 15 juta bayi lahir prematur setiap tahun. Dan sekitar 1 juta anak meninggal setiap tahun akibat komplikasi dari prematur.
Banyak penyintas yang menghadapi kecacatan seumur hidup, termasuk ketidakmampuan belajar, masalah penglihatan, dan pendengaran.
Lalu, apa sih penyebab bayi lahir prematur? Dan bagaimana cara Mama-mama mencegah kelahiran prematur? Yuk, Ma kita simak penjelasannya berikut ini.
Penyebab Bayi Lahir Prematur
Mengutip Kids Health, kelahiran prematur lebih mungkin terjadi ketika Mama memiliki masalah kesehatan atau melakukan hal-hal berbahaya seperti:
Diabetes
Penyakit jantung
Penyakit ginjal
Tekanan darah tinggi
Merokok
Minum alkohol
Jika selama kehamilan Mama selalu merasa stres, itu juga bisa jadi pemicu bayi lahir prematur, Ma. Wanita hamil yang berusia kurang dari 17 tahun atau lebih dari 35 tahun juga memiliki peluang lebih besar untuk melahirkan lebih awal.
Penyebab kelahiran prematur seringkali tidak dapat diidentifikasi. Namun, selain faktor-faktor yang telah dijelaskan, diketahui terdapat faktor lain yang dapat meningkatkan risiko Mama melahirkan lebih awal, meliputi:
Gizi buruk sebelum dan selama kehamilan.
Infeksi tertentu, seperti infeksi saluran kemih dan selaput ketuban.
Kelahiran prematur pada kehamilan sebelumnya.
Kondisi rahim yang tidak normal.
Pembukaan serviks yang melemah lebih awal
Masalah Kesehatan pada Bayi Prematur
Semakin dini bayi lahir, maka semakin besar kemungkinan mereka mengalami masalah medis. Bayi prematur dapat menunjukkan tanda-tanda berikut sesaat setelah lahir:
Kesulitan untuk bernapas.
Berat badan rendah.
Lemak tubuh rendah.
Ketidakmampuan untuk mempertahankan suhu tubuh yang konstan.
Mengalami masalah pergerakan tubuh dan koordinasi.
Kesulitan dalam makan.
Kulit pucat atau kuning yang tidak normal.
Bayi prematur juga dapat mengalami komplikasi kesehatan, seperti:
Pendarahan di otak.
Perdarahan di paru-paru.
Hipoglikemia, atau gula darah rendah.
Sepsis neonatorum, atau infeksi darah bakteri.
Pneumonia, infeksi dan radang paru-paru.
Patent ductus arteriosus, lubang di pembuluh darah utama jantung yang tidak tertutup.
Anemia, kekurangan sel darah merah untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.
Sindrom gangguan pernapasan neonatal, gangguan pernapasan yang disebabkan oleh paru-paru yang kurang berkembang.
Beberapa dari masalah ini dapat disembuhkan melalui perawatan yang tepat. Sayangnya, beberapa kondisi lainnya justru menyebabkan kecacatan atau penyakit jangka panjang.
Maka dari itu, pada bayi prematur sesaat setelah dilahirkan, dokter akan segera melakukan berbagai tes pada bayi. Tes ini membantu mengurangi risiko komplikasi. Dokter juga memantau bayi secara terus menerus selama mereka dirawat secara intensif di rumah sakit.
Baca juga: 7 Kekurangan Bayi Prematur
Tips Mencegah Kelahiran Prematur
Mendapatkan perawatan prenatal yang cepat dan tepat secara signifikan mengurangi kemungkinan melahirkan prematur. Mama dapat melakukan beberapa pencegahan penting untuk mengurangi risiko lahir lebih awal, antara lain:
1. Segera Mulai Perawatan Prenatal
Saat kehamilan Mama telah dikonfirmasi oleh dokter, Mama bisa segera berdiskusi dengan dokter kandungan untuk mengatur dan merencanakan perawatan prenatal yang harus Mama lakukan selama kehamilan.
2. Mengonsumsi Makanan Bergizi selama Kehamilan
Mama harus memastikan mengonsumsi makanan yang bergizi seperti, biji-bijian, protein tanpa lemak, sayuran, buah-buahan. Mama juga sangat dianjurkan untuk konsumsi suplemen asam folat dan kalsium sebagai tambahan nutrisi.
3. Minum Banyak Air Mineral
Mama disarankan untuk minum air mineral delapan gelas per hari. Pokoknya selama kehamilan Mama harus banyak minum dan jangan sampai dehidrasi, ya!
4. Berhenti Merokok
Menggunakan obat-obatan terlarang atau obat resep tertentu secara berlebihan dapat menyebabkan kelahiran prematur. Merokok selama kehamilan pun dapat menyebabkan risiko kecacatan lahir tertentu serta keguguran.
5. Mengobati Masalah Kesehatan
Jika Mama memiliki masalah kesehatan seperti diabetes, depresi, atau tekanan darah tinggi, dapat mengobati permasalahan kesehatan tersebut sebelum melakukan program hamil.
Tapi, kalau Mama belum sempat mengobati masalah tersebut, dapat mendiskusikan dengan dokter kandungan mengenai rencana perawatan terbaik untuk Mama dan si kecil.
(ANS)
Frequently Asked Question Section
Apa saja masalah kesehatan pada bayi prematur?

Apa saja masalah kesehatan pada bayi prematur?
Kesulitan untuk bernapas, berat badan rendah, lemak tubuh rendah, ketidakmampuan untuk mempertahankan suhu tubuh yang konstan.
Apakah merokok saat hamil akan berisiko kelahiran prematur?

Apakah merokok saat hamil akan berisiko kelahiran prematur?
Merokok selama kehamilan dapat menyebabkan risiko lahir lebih awal atau prematur, kecacatan lahir tertentu serta keguguran.
Benarkah ibu hamil kurang dari 17 tahun berisiko tinggi melahirkan prematur?

Benarkah ibu hamil kurang dari 17 tahun berisiko tinggi melahirkan prematur?
Wanita hamil memiliki peluang lebih besar untuk melahirkan lebih awal, jika mereka berusia kurang dari 17 tahun atau lebih dari 35 tahun.
