Konten dari Pengguna
Bensin Rasa Singkong: Harapan Energi Bersih di Tengah Krisis Iklim
3 November 2025 16:44 WIB
·
waktu baca 2 menitTulisan dari Dimas Rizqan Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Suatu hari nanti saat kita mengisi tangki kendaraan di SPBU, bukan saja bensin konvensional yang masuk, tapi sebagian dari bahan bakarnya berasal dari singkong atau tebu petani lokal. Terbayang, ‘bensin rasa singkong’ ide yang terdengar ringan, namun punya makna besar bagi arah energi negara ini.
ADVERTISEMENT
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan pentingnya inisiatif pencampuran bensin dengan etanol hingga tingkat E10, yakni bensin dengan 10% etanol yang bersumber dari tanaman seperti tebu, jagung, dan singkong. Menurutnya, kebijakan ini bukan sekadar simbol “hijau”, melainkan langkah strategis untuk mengurangi emisi, menekan impor BBM, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya lokal.
Bahlil juga menegaskan bahwa inisiatif ini bukan tipu daya kebijakan, melainkan bagian dari strategi jangka panjang menuju kedaulatan energi nasional yang merupakan sebuah langkah yang akan tetap dipertahankan meskipun menghadapi kritik atau keraguan publik.
Kebijakan bioetanol ini sejalan dengan tren global. Negara-negara seperti Brasil, Amerika Serikat, dan Tiongkok telah lama menggunakan biofuel sebagai bagian dari solusi transisi energi bersih. Dengan memanfaatkan hasil pertanian dalam negeri, Indonesia berpotensi memperkuat rantai nilai lokal, seperti petani memperoleh pasar baru, industri energi membuka lapangan kerja, dan negara mengurangi ketergantungan pada minyak dunia. “bensin rasa singkong” ini bisa menjadi motor pertumbuhan baru yang berkelanjutan.
ADVERTISEMENT
Namun, optimisme ini perlu diiringi dengan kewaspadaan. Tantangan teknis masih membayangi, seperti kesiapan infrastruktur distribusi, adaptasi mesin kendaraan terhadap campuran etanol, serta stabilitas harga bahan baku pertanian yang fluktuatif. Selain itu, produksi etanol dari bahan pangan seperti singkong dan jagung berpotensi menimbulkan kompetisi dengan kebutuhan pangan, sehingga kebijakan ini harus dikelola hati-hati agar tidak memicu kenaikan harga makanan pokok.
Masyarakat perlu diyakinkan bahwa energi hijau ini bukan sekadar proyek elite, melainkan benar-benar membawa manfaat nyata bagi kehidupan sehari-hari. Pemerintah dapat memperkuat komunikasi publik melalui edukasi tentang manfaat bioetanol dan memastikan subsidi atau insentif tepat sasaran agar harga bahan bakar tetap terjangkau bagi konsumen.
Pada akhirnya, kebijakan E10 merupakan langkah berani menuju masa depan energi bersih Indonesia. Langkah ini menggambarkan semangat inovasi nasional sebuah upaya untuk menyeimbangkan kebutuhan ekonomi, lingkungan, dan kedaulatan. Meski jalan menuju energi hijau penuh tantangan, komitmen pemerintah dan kolaborasi lintas sektor dapat menjadikan bioetanol bukan sekadar wacana, tetapi solusi nyata dalam menghadapi krisis iklim global.
ADVERTISEMENT

