Saat Kasih Mengalahkan Logika Ekonomi: Pelajaran untuk Dunia Pendidikan

Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pelita Harapan. Tulisan bisa dilihat di https://linktr.ee/meicky.shoreamanis
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Meicky Shoreamanis Panggabean tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada pepatah klasik di dunia ekonomi: “There is no free lunch.” Tidak ada yang benar-benar gratis. Sesuatu yang tampak cuma-cuma pasti sudah ada yang membayarnya. Pepatah ini diangkat oleh Profesor Sung Soo Lim, dosen asal Korea Selatan yang mengajar di Fakultas Ekonomi, Calvin University.

Dalam presentasinya yang berjudul 'Biblical Worldview in Economics and Public Life', ia mengaitkan ungkapan di atas dengan iman Kristen. Ia sampaikan bahwa keselamatan memang gratis bagi manusia tetapi sebenarnya dibayar penuh oleh Yesus Kristus.
Profesor Lim berbicara dalam program retret yang diadakan bagi 5000-an pendidik yang dinaungi oleh Yayasan Pendidikan Pelita Harapan. Di awal sesi, ia katakan,”Saya janji, apa yang akan saya sampaikan pasti lebih bagus daripada lirik lagu BTS”. Ia mengawali presentasinya dengan pembahasan talenta dari Matius 25:14–30.
Ceritanya sederhana: seorang tuan mempercayakan hartanya kepada tiga hamba. Dua hamba melipatgandakan talenta itu sementara yang satu tidak mengembangkannya, karena takut. Tuan memuji yang setia dan menghardik yang pasif. Pesannya jelas: talenta harus dikelola, bukan ditimbun.
Relevansinya dengan dunia pendidikan sangatlah dekat. Talenta berbeda dengan kemampuan. Talenta adalah modal awal yang dititipkan Tuhan. Kemampuan adalah hasil dari kerja keras, disiplin, dan kesediaan belajar.
Kalau murid atau guru hanya mengandalkan bakat, potensi akan beku dan kemampuan jadi stagnan. Pendidikan mendorong kita untuk mengembangkan kemampuan, bukan berhenti pada apa yang sudah ada.
Ia lebih lanjut menjelaskan,”...masalahnya, dosa membuat manusia cenderung takut, malas, dan akhirnya membuang kesempatan, mungkin dia terpengaruh teman-temanya, dia ditakut-takuti”. Ia lalu mengutip C. S. Lewis,“The battle is between faith and reason on one side and emotion and imagination on the other.”
Ketakutan dan emosi sering melumpuhkan panggilan untuk mengelola titipan Tuhan. Dalam konteks pendidikan, takut akan kegagalan bisa membuat guru berhenti berinovasi dan murid enggan mencoba. Padahal, keberanian dan kesetiaanlah yang melahirkan pertumbuhan.
Di dunia pendidikan, kita sering terjebak pada angka: ranking, jumlah murid, jumlah sertifikat, jumlah publikasi. Semua berguna tapi ada hal yang lebih penting: kesetiaan. Kata 'setia' muncul dua kali di perikop di atas.
Sebagian pendidik mengabaikan betapa pentingnya kesetiaan. Oleh karena itu demi jabatan fungsional maupun karir struktural, mereka tak enggan berbuat curang serta menjatuhkan kolega. Stres berat ketika jabatan yang diincar tak kunjung diraih atau bergembira ketika tulisannya muncul di jurnal kendati itu sebenarnya milik mahasiswa atau kolega.
Produktivitas vs Laba
Profesor Lim menegaskan, Tuhan memuji produktivitas, bukan sekadar laba. Hidup memang harus menghasilkan laba karena laba adalah bahan bakar untuk menopang banyak perbuatan baik. Akan tetapi, kerja keras di jalan yang benar dan kesetiaan tetap lebih utama daripada produktivitas dan laba yang kosong dari iman.
Jadi, efisiensi dan kasih bekerja bagaikan dua sisi mata uang. Ekonomi mengajarkan pentingnya efisiensi:sumber daya yang semunya pasti terbatas mesti diolah dengan bijak. Akan tetapi, kasih kadang justru menuntut inefisiensi.
Implikasinya besar di dunia pendidikan: Guru perlu mengelola kelas dan melakukan manajemen waktu tetapi kasih kerap menuntut lebih. Kadang guru harus memberi waktu ekstra untuk murid yang tertinggal, atau perhatian khusus bagi yang bermasalah.
Penggunaan waktu jadi tidak efisien tetapi efeknya positif bahkan bisa transformatif.
Profesor Lim pernah menghabiskan tabungan untuk membeli cincin berlian bagi calon istrinya. Dari kacamata ekonomi, ini jelas tidak efisien. Namun dari kacamata kasih, itu keputusan yang layak. “Sampai hari ini saya masih menganggap tindakan beli berlian itu adalah sesuatu yang bodoh tapi kalau lihat istri saya, ya nggak apa-apa, layak banget kok dia dibelikan berlian”.
Menunjukkan kasih memang kerap merugikan jika dikaji dengan logika ekonomi, tetapi ia punya nilai yang berkelanjutan bahkan kekal. Jika perspektif kita hanya dibatasi pandangan duniawi kita akan kehilangan kekekalan. Mengenai hal ini, kembali satu cerita personal dibagikan.
Ia pernah depresi saat orang tuanya meninggal. Teman-teman gerejanya bergantian mengunjungi. Ada yang ambil cuti untuk membuatkannya makanan, ada yang mengganti bunga di vas setiap hari supaya selalu segar, menyanyikannya lagu-lagu agar ia tak tambah terpuruk.
Ia katakan,”Saya orang miskin saat itu. Pasti tak ada yang menyangka bahwa saya sekian puluh tahun kemudian akan bicara di depan 5000-an orang di Indonesia. Mereka mungkin sampai mati ya nggak tau”.
Pendidikan pun demikian: jika hanya mengejar efisiensi atau hasil jangka pendek, kita kehilangan nilai yang sesungguhnya amat berarti. Kita juga akan kehilangan tujuan pendidikan yang sejati, yaitu membentuk manusia yang utuh, sosok-sosok yang mencerminkan kebaikan Tuhan.
Inilah paradoks yang bisa kita bawa ke ruang pendidikan. Efisiensi sangat penting karena tanpanya sekolah dan universitas akan kehabisan energi. Akan tetapi, tanpa kasih pendidikan akan berubah jadi industri semata-mata karena murid dianggap pencetak angka. Pencapaian kuantitatif mereka dapat dimanfaatkan sebagai alat marketing dan sangat berguna untuk keperluan akreditasi.
Pendidikan sejati harus memadukan keduanya: efisiensi yang sehat dan kasih yang membebaskan. Dengan begitu, murid tidak lagi diperlakukan sebagai angka, tetapi sebagai pribadi yang dititipkan untuk dikembangkan, ciptaan yang mencerminkan kasih Allah.
Profesor Lim lalu menyudahi presentasinya dengan mengajukan satu pertanyaan penutup,”Bagaimana, lebih bagus presentasi saya ‘kan daripada BTS??!”
