ChatGPT dan Mahasiswa: Apakah Berpikir Kritis Masih Dibutuhkan di Era AI?
Tulisan dari Meilie Tampubolon tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ChatGPT Mengubah Cara Mahasiswa Belajar
ChatGPT kini menjadi bagian dari keseharian banyak mahasiswa. Kehadirannya membuat proses belajar terasa lebih cepat dan praktis, tetapi juga memunculkan pertanyaan baru: apakah kemudahan ini ikut memengaruhi kemampuan berpikir kritis?
"Udah selesai tugasnya?"
"Belum. Gampanglah... nanti tinggal tanya ChatGPT aja."
ChatGPT kini menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa. Saat mendapat tugas kuliah, banyak mahasiswa memilih menggunakan ChatGPT untuk mencari penjelasan, menyusun kerangka tulisan, hingga memperoleh referensi awal. Kehadiran AI memang membuat proses belajar menjadi lebih cepat, tetapi sekaligus memunculkan pertanyaan baru: apakah kemudahan tersebut membuat kemampuan berpikir kritis mahasiswa ikut berubah?
Saya justru melihatnya dari sudut yang berbeda. Menurut saya, masalah utama bukan terletak pada ChatGPT. Yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana kita memaknai proses belajar di tengah hadirnya teknologi yang mampu menjawab hampir semua pertanyaan. Apakah belajar hanya soal mendapatkan jawaban, atau justru tentang memahami alasan di balik sebuah jawaban?
Pertanyaan itu terasa penting karena perdebatan tentang ChatGPT sering kali berhenti pada kesimpulan yang terlalu sederhana. Ada yang mengatakan AI membuat mahasiswa menjadi malas. Ada pula yang beranggapan AI adalah solusi agar belajar menjadi lebih efisien. Dua pandangan itu tidak sepenuhnya salah, tetapi keduanya belum menyentuh persoalan yang menurut saya lebih mendasar.
Sejak awal, pendidikan tidak pernah sekadar mengajarkan mahasiswa untuk menemukan jawaban yang benar. Kampus seharusnya menjadi tempat seseorang belajar mempertanyakan sesuatu, menyusun argumen, menguji sebuah informasi, lalu menarik kesimpulan berdasarkan proses berpikirnya sendiri. Jika tujuan itu yang dipegang, maka kehadiran ChatGPT sebenarnya tidak mengubah esensi pendidikan. Yang berubah hanyalah cara kita mencapai proses tersebut.
Kalau dipikir-pikir, ini bukan kali pertama teknologi mengubah kebiasaan belajar. Ketika internet mulai digunakan secara luas, banyak orang khawatir mahasiswa akan berhenti membaca buku. Saat Google menjadi mesin pencari utama, muncul kekhawatiran bahwa mahasiswa akan kehilangan kemampuan mencari referensi. Nyatanya, buku tidak benar-benar ditinggalkan, dan Google akhirnya menjadi bagian dari kehidupan akademik. Kekhawatiran itu perlahan mereda karena dunia pendidikan ikut beradaptasi.
ChatGPT membawa perubahan yang lebih besar karena AI tidak hanya membantu mencari informasi, tetapi juga mampu menyusun jawaban yang terlihat logis. Di sinilah tantangannya. Semakin mudah memperoleh jawaban, semakin besar pula godaan untuk berhenti berpikir. Mahasiswa bisa saja menyerahkan seluruh proses kepada AI tanpa pernah bertanya apakah jawaban tersebut benar, relevan, atau memiliki dasar yang kuat. Jika itu terjadi, yang hilang bukan sekadar kemampuan menulis, tetapi juga kebiasaan berpikir kritis.
Fenomena ini mengingatkan saya pada Teori Difusi Inovasi yang dikemukakan Everett M. Rogers. Rogers menjelaskan bahwa setiap inovasi akan diterima dengan respons yang berbeda. Ada kelompok yang cepat mengadopsi teknologi baru, ada yang memilih menunggu, bahkan ada yang menolaknya. Menurut saya, kondisi itu sedang terlihat jelas di dunia pendidikan. Sebagian dosen mulai mengajak mahasiswa memanfaatkan AI sebagai alat bantu belajar, sementara yang lain masih membatasi penggunaannya karena khawatir terhadap integritas akademik. Perbedaan sikap tersebut menunjukkan bahwa kampus sedang berada dalam proses beradaptasi dengan perubahan yang tidak bisa dihindari.
Karena itu, saya kurang sependapat jika solusi yang ditawarkan hanya berupa pelarangan penggunaan ChatGPT di kampus. Larangan mungkin membuat mahasiswa berhenti menggunakan AI di ruang kelas, tetapi tidak akan menghentikan perkembangan teknologi itu sendiri. Cepat atau lambat, mereka tetap akan hidup dan bekerja berdampingan dengan AI. Yang lebih dibutuhkan adalah kemampuan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, termasuk memahami batasannya.
Di sinilah peran perguruan tinggi menjadi penting. Dosen tidak lagi cukup hanya memberikan tugas yang jawabannya mudah ditemukan di internet atau AI. Mahasiswa juga tidak cukup hanya mampu menghasilkan tulisan yang rapi. Pembelajaran perlu lebih banyak memberi ruang untuk diskusi, analisis, refleksi, dan argumentasi. Dengan begitu, AI berfungsi sebagai alat pendukung, bukan pengganti proses berpikir.
Bagi saya, kemampuan berpikir kritis justru menjadi semakin berharga ketika AI mampu memberikan jawaban dalam hitungan detik. Nilai seorang mahasiswa tidak lagi diukur dari seberapa cepat ia menemukan informasi, tetapi dari kemampuannya mempertanyakan informasi tersebut, menghubungkannya dengan konteks yang lebih luas, dan menyampaikan pandangan yang lahir dari proses berpikirnya sendiri.
Mungkin beberapa tahun lagi, menggunakan ChatGPT saat mengerjakan tugas akan menjadi hal yang biasa, sama seperti menggunakan Google hari ini. Namun saya berharap, ada satu hal yang tidak ikut berubah, yaitu tujuan pendidikan itu sendiri. Kampus bukan sekadar tempat menghasilkan jawaban yang benar, melainkan ruang untuk membentuk manusia yang mampu berpikir, berdialog, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Sebab pada akhirnya, di tengah kemajuan teknologi yang semakin canggih, kemampuan itulah yang akan tetap menjadi pembeda antara manusia dan kecerdasan buatan.

